Soal-Soal di Alam Kubur

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله ، نحمده ، ونستعينه ، ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور

أنفسنا ، ومن سيِّئات أعمالنا ، من يهده الله ؛ فلا مُضِلَّ له ، ومن يضلل ؛ فلا

هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده

ورسوله .

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إلَّا وَأَنتُم مُسْلِمُونَ }

[آل عمران : 102] .

{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا

زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكَمْ رَقِيبًا } [النساء : 11] .

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيماً } [الأحزاب : 70 – 71]

أما بعد، فان أصدق الحديث كتاب الله، وأحسن الهدي هدي محمد، وشر الامور

محدثاتها، وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار

 

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ [١٤:٢٧]

27. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu[1] dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.

 

Jama’ah sidang jum’at اعزني الله و اياكم جميعا

Sesungguhnya suatu yang merupakan kesepakatan semua kaum muslimin bahkan menjadi kesepakatan semua manusia dari berbagai agamanya adalah bahwa kita semua ini pasti akan merasakan yang namanya mati,Alloh ta’ala berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [٢٩:٥٧]

57. tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.

 

Hanya ada sesuatu yang membedakan seorang yang beriman kepada Alloh ta’ala dengan orang-orang kafir dalam permasalahan ini,yaitu seorang yang beriman dia meyakini bahwa ada kehidupan nanti,kehidupan yang abadi  yang hanya ada 2 kemungkinanya boleh jadi manusia itu akan berada di surganya Alloh ta’ala yang penuh dengan kenikmatan atau boleh jadi dia berada dineraka yang penuh dengan azab yang sangat mengerikan yang tidak pernah terbayangkan oleh pikiran manusia.bahkan kita sebagai seorang muslim meyakini akan adanya azab kubur dialam barzah yang merupakan alam awal perpindahan manusia dari kehidupan ini menuju akhirat Alloh ta’ala yang kekal nan abadi.inilah para jama’ah yang dirohmati Alloh ta’ala batas merah yang membedakan seorang yang beriman dengan orang-orang kafir.Rasululloh n pernah bersabda dalam hadist yang shohih diriwayatkan imam bukhori dikitab shohihnya dari sahabat yang mulia bara’ ibni azib a beliau bersabda :

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ قَالَ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ فَذَلِكَ قَوْلُهُ [يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ]

Seorang muslim apabilah dia ditanya di dalam kuburnya dia akan bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Alloh q dan bahwasanya nabi Muhammad n adalah Rasul Alloh q yang demikian itu sesuai dengan firman Alloh q Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.disini Alloh ta’ala melalui lisan nabi-NYA bahwa apabila orang telah dikubur dia akan ditanya oleh malaikat yang diutus Alloh ta’ala.menjadi pertanyaan kita apakah pertanyaan yang nanti akan ditanyakan malaikat Alloh ta’ala kepada kita semua ? semua ini adalah perkara ghoib yang hanya Alloh ta’ala yang mengetahuinya kemudian Rasul-NYA melalui wahyu yang wahyukan kepadanya Alloh ta’ala berfirman :

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا [٧٢:٢٦]إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا [٧٢:٢٧]

26. (dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.

27. kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.

 

Oleh karena itu kok kalau ada yang mengetahui perkara ghoib,ketahuilah bahwasanya dia telah berdusta walaupun terkadang ada 1 dari seribu yang mereka sampaikan benar.dan walhamdulillah kita sebagai seorang muslim yang beriman kepada apa2 yang dikabarkan oleh Nabi kita Muhammad n,beliau pernah bersabda yang menceritakan perihal soal2 yang nanti akan ditanyakan oleh malaikat kepada kita semua,Rasululloh n pernah bersabda yang diriwayatkan oleh imam ahmad didalam musnadnya dari sahabat yang mulia bara’ ibni azib dalam hadist yang pajang tetang perjalanan manusia nanti setelah dia kuburkan diantara hadits tersebut Rasululloh n pernah bersabda :

قَالَ: ” فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ، فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ، فَيُجْلِسَانِهِ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللهُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَقُولَانِ لَهُ: وَمَا عِلْمُكَ ؟   فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللهِ، فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ، فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي (1) السَّمَاءِ: أَنْ صَدَقَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ “

Didalam hadits ini dijelaskan bahwa soal-soal yang nanti akan ditanyakan oleh kedua malaikat kepada kita adalah tentang siapakah tuhanmu ? apakah agamu ? siapakah Rasul yang diutus kepadamu ? apakah pengetahuan yang kamu ketahui?

Jadi sudah sepatutnyalah kita mengetahui semua itu sebagai bekal kita nanti Lagi

Sabar Kunci Kebahagian

Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)

Pengertian Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Macam-Macam Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:

  1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
  2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
  3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Sebab Meraih Kemuliaan

Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah iman dan amal shalih.

Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).

Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah ta’ala berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS. Ar Ra’d [13] : 24).

Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75).

Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala, “Dan Kami menjadikan di antara mereka (Bani Isra’il) para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah [32]: 24) (Lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 375)

Sabar Dalam Menuntut Ilmu

Syaikh Nu’man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.

Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13)

Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu

Syaikh Nu’man mengatakan, “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.

Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul, hal. 13)

Sabar Dalam Berdakwah

Syaikh Nu’man mengatakan, “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.”

Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da’i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya, begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid’ah dan hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka.

Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni.” (Taisirul wushul, hal. 13-14)

Sabar dan Kemenangan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami.” (QS. Al An’aam [6]: 34).

Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da’i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da’i ini meskipun dia sudah mati.

Maka wajib bagi para da’i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Demikianlah, tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan, ‘Dia adalah tukang sihir atau orang gila’.” (QS. Adz Dzariyaat [51]: 52). Begitu juga Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa.” (QS. Al Furqaan [25]: 31). Namun, hendaknya para da’i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua…” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Lagi

Cara Mempersatukan Umat Tergampang

AWALI PERSATUAN UMAT ISLAM DENGAN MELURUSKAN SHAF![[1]]

Perintah untuk memperbagus lurusnya shaf (barisan)

Dari Abû Hurairoh Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

أَحْسِنُوْا إِقَامَةَ الصُّفُوْفِ فِيْ الصَّلاَةِ

“Perbaguslah lurusnya shaf (barisan) ketika sholat” (HR Ahmad di dalam Musnad-nya dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albânî di dalam Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb : 499)

Bagaimana cara memperbagus lurusnya shaf?

Hadits Jâbir bin Samuroh Radhiyallâhu ‘anhu menjelaskan hal ini. Beliau berkata : “Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam keluar menemui kami dan berkata :

مَالِيْ أَرَاكُمْ رَافِعِي أَيْدِيْكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابَ خَيْلِ شُمُسٍ, أُسْكُنُوا فِيْ الصَّلاَةِ

“Aku tidak pernah melihat kalian mengangkat-angkat tangan kalian, seakan-akan seperti ekor kuda liar saja. Tenanglah kalian di dalam sholat (jangan bergerak).”

Jâbir berkata kembali : kemudian beliau Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam keluar menemui kami (pada lain waktu) dan melihat kami sedang bergerombol, lantas beliau bersabda :

مَالِيْ أَرَاكُمْ عَزِيْنَ

“Aku tidak pernah melihat kalian bergerombol?!”

Jâbir melanjutkan : kemudian beliau Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam keluar menemui kami sembari mengatakan :

أَلاَ تَصُفُّوْنَ كَمَا تَصُفُّ المَلاَئِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا

“Kenapa kalian tidak berbaris sebagaimana para malaikat berbaris di hadapan Rabb mereka?”

Kami berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimanakah berbarisnya Malaikat di hadapan Rabb mereka?”

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam menjawab :

يَتُمُّوْنَ الصُّفُوْفَ الأَوَّلِ وَيَتَرَاصَّوْنَ فِيْ الصَّفِّ

“Mereka menyempurnakan shaf/barisan yang paling awal sembari merapatkan barisannya.” (HR Muslim : 430)

Jadi, memperbagus shaf itu tidak akan terwujud melainkan dengan menyempurnakan dan merapatkan barisannya.

Mari kita amati realita yang ada di hadapan kita, yaitu kebesaran para tentara angkatan darat beserta pasukan dan kekuatannya dari aspek militer, begitu bagus dan teraturnya pola barisan mereka. Anda tidak dapati adanya kebengkokan maupun cela padanya. Jarak satu dengan lainnya teratur rapi, sungguh pemandangan yang sungguh indah.  Coba Anda perhatikan, orang yang mengamatinya, mereka sangat interes dan terkagum-kagum dibuatnya.

Adapun di sekolahan, jangan Anda tanyakan bagaimana perhatian mereka yang begitu besar di dalam masalah meluruskan, merapikan dan mengatur barisan. Bukankah para pemakmur Masjid itu seharusnya adalah orang yang lebih utama di dalam memberikan perhatian di dalam mengatur shaf dan merapatkan barisan, sebagaimana malaikat berbaris di hadapan Rab mereka Subhânahu wa Ta’âlâ?!

Kita tidak akan masuk surga sampai kita meluruskan shaf

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam telah bersumpah, bahwa kita tidaklah dikatakan beriman, dan kita tidak akan bisa masuk surga sampai kita saling mencintai di jalan Alloh Ta’âlâ. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abû Hurairoh Radhiyallâhu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Demi Dzat yang jiwaku berada di genggaman-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidaklah dikatakan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang apabila kalian melakukannya niscaya kalian akan saling mencintai?! Sebarkanlah salam di tengah-tengah kalian.” (HR Muslim : 54)

Kecintaan ini tidak akan mudah jika tanpa merapatkan dan meluruskan shaf. Sebab Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa ketidaklurusan shaf di dalam sholat itu, memicu perselisihan hati.

Kesimpulannya adalah, bahwasanya keimanan, surga, kecintaan dan persatuan, kesemuanya ini tidak akan mudah diraih melainkan dengan meluruskan dan merapatkan shaf.

Lagi

Terorisme ala Kafir Barat

GLASGOW (Berita SuaraMedia) – Seorang pria kulit putih rasis pengusung semboyan supremasi kulit putih dijatuhi hukuman karena telah melontarkan ancaman keji akan meledakkan masjid utama Skotlandia dan juga ancaman untuk memenggal kepala umat Muslim.

Neil MacGregor, yang mengakui kepada polisi bahwa dirinya adalah seorang rasis, pada persidangan awal memebenarkan bahwa dirinya mengancam untuk meledakkan masjid utama Glasgow dan membunuh satu orang Muslim setiap minggunya hingga seluruh masjid di Skotlandia ditutup.

Yang membuat terkejut dan marah umat Muslim, plot teror yang direncanakan MacGregor hanya mendapat porsi pemberitaan yang sedikit sekali dari pers Skotlandia. Bahkan tidak ada sama seklai di media-media Inggris Raya.

Ada pula tuduhan mengenai standar ganda yang dilakukan oleh polisi dan pejabat berwenang karena MacGregor, 36, hanya dijatuhi tuduhan mengganggu kedamaian, bukannya tuduhan tindakan terorisme yang lebih serius.

“Coba bayangkan jika ada seorang Muslim Skotlandia yang mengancam untuk meledakkan katedral utama Glasgow dan memenggal kepala satu orang Kristen setiap minggunya hingga seluruh tentara Inggris ditarik keluar dari Irak dan Afghanistan,” kata Osama Saeed, direktur ekssekutif yayasan Islam Skotlandia dan seorang anggota senior partai nasional Skotlandia.

“Pasti hal tersebut akan langsung mendapatkan reaksi keras, disebut tindakan biadab, lalu dijadikan tajuk utama seluruh surat kabar di negara ini. Berita tersebut akan menjadi berita yang paling ramai dibahas.”

Namun dalam kasus tersebut, media baru meliput (dalam jumlah yang amat sangat minim) mengenai terorisme terhadap umat Islam Skotlandia tersebut setelah Saeed menelepon sejumlah kantor berita terkemuka dan setelah sebuah mosi dimasukkan ke parlemen Skotlandia.

Dalam mosi parlemen tersebut, Frank McAveety, seorang anggota partai buruh Parlemen dari Glasgow menyesalkan bahwa ancaman peledakan masjid pusat Glasgow dan ancaman pemenggalan kepala satu orang Muslim setiap minggunya tidak mendapatkan perhatian media, dia menyerukan kepada media untuk memastikan bahwa tindak terorisme semacam itu untuk tetap diliput, meski pelakunya adalah Kristen kulit putih.”

MacGregor menyebarkan ancamannya dalam sebuah email dan sebuah panggilan telepon kepada polisi kawasan Strathclyde tahun lalu.

Dalam emailnya, MacGrefor menuliskan: “Saya adalah seorang rasis yang bangga dengan pandangan saya, saya juga merupakan anggota front nasional” (sebuah organisasi ekstrimis sayap-kanan).

“Sebagai organisasi, kami telah memutuskan untuk menghadapi “ancaman” dari orang-orang Muslim dengan cara-cara kami sendiri, seperti halnya para leluhur kami.”

Seperti halnya penjahat, penculik, dan sampah masyarakat lainnya, setelah melontarkan kata-kata pembuka, dia menyampaikan tuntutan:

“Yang kami inginkan bukanlah hal besar. Tutup seluruh masjid di Skotlandia! Jika tuntutan kami tidak segera dipenuhi, paling lambat hari Jumat depan, maka kami akan menculik satu orang Muslim, lalu mengeksekusinya (memenggal kepalanya) dan rekaman video pemenggalan itu akan kami tayangkan di internet.”

“Setiap minggunya, kami akan menculik dan memenggal kepala satu orang Muslim jika tuntutan kami tidak dipenuhi.”

MacGregor kemudian menelepon polisi dan mengatakan bahwa dia telah menanamkan bom di masjid utama Glasgow. Mendengar hal tersebut, para polisi langsung bergegas menuju bangunan masjid tersebut, namun tidak menemukan apa-apa.

Bashir Maan, ketua masjid tersebut berkata: “Para polisi datang pada waktu senja dan mengevakuasi sekitar 100 orang jamaah. Mereka kemudian menggeledah seluruh bagian bangunan masjid. Komunitas Muslim Skotlandia merasa sangat resah pada waktu itu.”

Maan mengakui bahwa dirinya merasa terkejut ketika MacGregor hanya dijatuhi tuntutan mengganggu ketenteraman umum, bukannya tuntutan hukum yang jauh lebih berat.

“Hal tersebut jelas merupakan cerminan standar ganda dalam penggunaan hukum anti-teror,” tambahnya.

Yayasan Islam Skotlandia melayangkan surat protes kepada Crown Office (sebuah departemen di bawah Jaksa Agung yang menangani masalah pelanggaran hukum di wilayah Skotlandia), menuntut jawaban mengapa MacGregor hanya dijatuhi tuduhan ringan.

“Kami sangat yakin jika yang melakukan hal tersebut adalah seorang Muslim, maka dia akan diperlakukan dengan berbeda oleh polisi dan pihak berwenang lainnya,” kata Saeed.

“MacGregor bisa dibilang beruntung karena persidangan tersebut dilakukan di pengadilan Sheriff, dan bukan pengadilan tinggi, dimana kasus-kasus terorisme biasanya diproses, tentunya dengan hukuman yang lebih berat, ketidakadilan ini harus dijelaskan.”

“Aparat hukum terlalu gampang melepaskan MacGregor, orang yang tidak waras yang memiliki khayalan berbahaya.”

Dalam sebuah pernyataan, Crown Office mengatakan bahwa pihaknya telah memutuskan untuk menjatuhkan tuntutan gangguan ketertiban umum, yang dipicu oleh kebencian rasialis. “Keputusan tersebut diberikan setelah dengan seksama mempertimbangkan seluruh bukti dan situasi lapangan.”

Seorang juru bicara menambahkan: “Fakta-fakta mengenai kasus tersebut semakin memperjelas bahwa semuanya hanyalah ancaman bom omong kososng belaka, sama sekali tidak ada bukti motif atau tujuan terorisme.”

Umat Muslim membandingkan kasus MacGregor dengan Mohammed Atif Siddique, 22, yang dijatuhi hukuman penjara selama delapan tahun di Glasgow pada bulan September 2007, atas tuduhan “mengumpulkan informasi tentang terorisme dan menyebarkan hasutan teror” melalui internet.

Aamer Anwar, pengacara Siddique, mengecam: “Kenapa disaat seorang pria kulit putih terlibat dalam perencanaan tindak terorisme yang amat nyata, pihak berwajib tidak siap untuk menerapkan undang-undang anti-teror, tapi mereka tampak sangat siap jika Muslim yang dianggap bersalah?” (dn/tn) www.suaramedia.com

Ketika Ajal Menjemputmu !!!

Sebagaimana Engkau Menjalani Hidupmu Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmu…..!!!

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

“Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya” (HR Muslim no 2878)

Berkata Al-Munaawi, أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ “Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang biasa ia jalani dan ia dibangkitkan di atas hal itu” (At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami’ As-Shogiir 2/859)

Para pembaca yang budiman… kita semua tahu bahwasanya kematian datang tiba-tiba…tidak peduli dengan kondisi seorang hamba apakah dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau dalam keadaan sedang bermaksiat…, apakah dalam keadaan sakit ataupun dalam keadaan sehat… semuanya terjadi tiba-tiba…

Seorang penyair berkata :

تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي***  إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ

Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu…

Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari

وَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ *** وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ حِيْناً مِنَ الدَّهْرِ

Betapa banyak orang yang sehat kemudian meninggal tanpa didahului sakit…

Dan betapa banyak orang yang sakit yang masih bisa hidup beberapa lama

فَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا *** وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِِي

Betapa banyak pemuda yang tertawa di pagi dan petang hari

Padahal kafan mereka sedang ditenun dalam keadaan mereka tidak sadar

وَكَمْ مِنْ صِغَارٍ يُرْتَجَى طُوْلُ عُمْرِهِمْ *** وَقَدْ أُدْخِلَتْ أَجْسَامُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ

Betapa banyak anak-anak yang diharapkan panjang umur…

Padahal tubuh mereka telah dimasukkan dalam kegelapan kuburan

وَكَمْ مِنْ عَرُوْسٍ زَيَّنُوْهَا لِزَوْجِهَا *** وَقَدْ قُبِضَتْ أَرْوَاحُهُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ

Betapa banyak mempelai wanita yang dirias untuk dipersembahkan kepada mempelai lelaki…

Padahal ruh mereka telah dicabut tatkala di malam lailatul qodar

Tentunya setiap kita berharap dianugrahi husnul khotimah… ajal menjemput tatkala kita sedang beribadah kepada Allah… tatkala bertaubat kepada Allah…sedang ingat kepada Allah… , akan tetapi betapa banyak orang yang berharap meninggal dalam kondisi husnul khotimah akan tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya…. Suul khootimah… maut menjemputnya tatkala ia sedang bermaksiat kepada Penciptanya dan Pencipta alam semesta ini…

Bagaimana mungkin seseorang meninggal dalam kondisi husnul Khotimah sementara hari-harinya ia penuhi dengan bermaksiat kepada Allah… hari-harinya ia penuhi tanpa menjaga pendengarannya… pandangannya ia umbar… hatinya dipenuhi dengan beragam penyakit hati… lisannya jauh dari berdzikir dan mengingat Allah…

Ingatlah para pembaca yang budiman… sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalankan…

Berikut ini adalah kisah-kisah yang mencoba menggugah hati kita untuk membiasakan diri beramal sholeh sehingga tatkala maut menjemput kitapun dalam keadaan beramal sholeh :

Kisah Pertama: kisah seorang ahli ibadah Abdullah bin Idriis (190-192 H)

عَنْ حُسَيْن الْعَنْقَزِي قَالَ: لَمَّا نَزَلَ بِابْنِ إِدْرِيْسَ الْمَوْتُ بَكَتْ ابْنَتُهُ فَقَالَ: لاَ تَبْكِي يَا بُنَيَّة، فَقَدْ خَتَمْتُ الْقُرْآنَ فِي هَذَا الْبَيْتِ أَرْبَعَةَ آلاَف خَتْمَة

Dari Husain Al-‘Anqozi, ia bertutur :

Ketika kematian mendatangi Abdullah bin Idris, maka putrinya pun menangis, maka Dia pun berkata: “Wahai putriku, jangan menangis! Sungguh, Aku telah mengkhatamkan al Quran dirumah ini 4000 kali” (Lihat Taariikh Al-Islaam karya Ad-Dzahabi 13/250, Ats-Tsabaat ‘inda Al-Mamaat karya Ibnil Jauzi hal 154)

Kisah kedua : Kisah Abu Bakr bin ‘Ayyaasy (193 H)

لما حضرت أبا بكر بن عَيَّاش الوفاةُ بَكَتْ أُخْتُهُ فقال : لاَ تَبْكِ اُنْظُرِي إِلىَ تِلْكَ الزَّاوِيَةِ الَّتِي فِي الْبَيْتِ قَدْ خَتَمَ أَخُوْكَ فِي هَذِهِ الزَّاوِيَةِ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ أَلَف خَتْمَة

Tatkala kematian mendatangi Abu Bakr bin ‘Ayaasy maka saudara perempuannya pun menangis. Maka Abu Bakrpun berkata kepadanya, “Janganlah menangis, lihatlah di pojok rumah ini, sesungguhnya saudara laki-lakimu ini telah mengkhatamkan Al-Qur’an di situ sebanyak 18 ribu kali” (Lihat Hilyatul Auliyaa’ karya Abu Nu’aim 8/304 dan Taariikh Baghdaad 14/383)

Demikianlah para pembaca yang budiman…Ahli ibadah ini Abdullah bin Idris telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 4000 kali… Abu Bakr bin ‘Ayyaasy telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 18 ribu kali…..semuanya demi menghadapi waktu yang sangat kritis ini… waktu untuk meninggalkan dunia ke alam akhirat yang abadi….

Kisah Ketiga : Kisah Aamir bin Abdillah Az-Zubair

Mush’ab bin Abdillah bercerita tentang ‘Aamir bin Abdillah bin Zubair yang dalam keadaan sakit parah :

سمع عامر المؤذن وهو يجود بنفسه فقال: خذوا بيدي إلى المسجد، فقيل: إنك عليل فقال: أسمع داعي الله فلا أجيبه فأخذوا بيده فدخل مع الإمام في صلاة المغرب فركع مع الإمام ركعة ثم مات

‘Aaamir bin Abdillah mendengar muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat maghrib, padahal ia dalam kondisi sakaratul maut pada nafas-nafas terakhir, maka iapun berkata, “Pegang tanganku ke mesjid…!!” merekapun berkata, “Engkau dalam kondisi sakit !” , Diapun berkata,”Aku mendengar muadzin mengumandangkan adzan sedangkan aku tidak menjawab (panggilan)nya? Pegang tanganku…! Maka merekapun memapahnya lalu iapun sholat maghrib bersama Imam berjama’ah, diapun shalat satu rakaat kemudian meninggal dunia. (Lihat Taariikh Al-Islaam 8/142)

Inilah kondisi seorang alim yang senantiasa mengisi kehidupannya dengan beribadah sesegera mungkin… bahkan dalam kondisi sekarat tetap ingin segera bisa sholat berjama’ah…. Bandingkanlah dengan kondisi sebagian kita… yang tatkala dikumadangkan adzan maka hatinya berbisik : “Iqomat masih lama…., entar lagi aja baru ke mesjid…, biasanya juga imamnya telat ko’…, selesaikan dulu pekerjaanmu.. tanggung…”, dan bisikan-bisikan yang lain yang merupakan tiupan yang dihembuskan oleh Iblis dalam hatinya.

Kisah Di masa Sekarang:

Pertama : Kisah Penumpang Kapal Mesir “Salim Express”

Laki-laki ini telah Allah selamatkan dari tenggelam pada kecelakaan kapal, “Salim Express” menceritakan kisah istrinya yang tenggelam dalam perjalanan pulang dari menunaikan ibadah haji. Orang-orang berteriak-teriak “kapal akan tenggelam” maka aku pun berteriak kepada istriku …“ayo cepat keluar!”

Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar sampai aku memakai hijabku dengan sempurna.”

Suaminya pun berkata,” inikah waktu utk memakai hijab??? Cepat keluar! Kita akan mati”.

Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar kecuali jika telah kukenakan hijabku dengan sempurna, seandainya aku mati aku pun akan bertemu Allah dalam keadaan mentaati-Nya”. Maka dia pun memakai hijabnya dan keluar bersama suaminya, maka ketika semuanya hampir tenggelam, dia memegang suaminya dan berkata, “Aku minta engkau bersumpah dengan nama Allah, apakah engkau ridho terhadapku?” Suaminya pun menangis. Sang istripun berkata, ”Aku ingin mendengarnya.” Maka Suaminya Menjawab, “Demi Allah aku ridho terhadapmu.” Maka wanita tersebut pun menangis dan berucap ”Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” senantiasa dia ulangi syahadat tersebut sampai tenggelam.

Suaminya pun menangis dan berkata, “Aku berharap kepada Allah agar mengumpulkan aku dan dia di surga”

Lagi

Kerjasama Dengan Cara Mudhorobah

Arti Mudorobah : Seseorang yang memberikan hartanya kepada seseorang untuk diperdagangkan.dan hasil dari keuntungannya dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan.[1] adapun jika terjadi kerugian pada perdagangan maka ditanggung oleh pemilik harta saja bukan pada seseorang yang diberi harta tsb.Sedangkan Pengarang kitab al Kanju  Mudorobah sebagai berikut yaitu Kerjasama ada harta pada satu sisi dan ada orang yang berkerja dalam satu sisi yang lain.

Dalil Disyariatkannya kerjasama Mudorobah ini adalah :

Kesepakatan Imam-Imam Mazhab  atas bolehnya akad mudorobah ini yang berdasarkan dari Al Qur’an,Sunnah,Ijma’ dan Qiyas,Jikalau tidak ada padanya Goror (penipuan) dan perdagangan yang tidak jelas kondisinya (Jahalah).

Dalil dari Al Qur’an Alloh Ta’ala berfirman :

{وآخرون يضربون في الأرض يبتغون من فضل الله } [المزمل:20/73]

Artinya : Dan sebagian yang lain berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Alloh.

Al Mudhorib adalah Orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian kerunia Allah. dan juga  Alloh Ta’ala berfirman :

{فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله } [الجمعة:10/62]

Artinya : Dan Apabilah telah ditunaikan sholat maka bertebaranlah dimuka bumi dan carilah sebagian dari karunia Alloh.

Dalil dari Sunnah :

روى ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال: «كان سيدنا العباس بن عبد المطلب إذا دفع المال مضاربة اشترط على صاحبه أن لا يسلك به بحراً، ولا ينزل به وادياً، ولايشتري به دابة ذات كبد رطبة، فإن فعل ذلك ضمن، فبلغ شرطه رسول الله صلّى الله عليه وسلم ، فأجازه»

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas (semoga Alloh meridhoinya) bahwasanya dia berkata: Abbas bin abdul mutholib jika memberikan harta kepada seseorang untuk diperdagangkan dia mensyaratkan agar jangan dibawah melalui laut dan juga lembah,dan jangan dibelikan hewan yang berpenyakit,jika semua hal tsb dilakukan maka harus membayar ganti rugi kemudian syarat tersebut diketahui oleh Rosululloh sholallohu ‘alaihissalam dan beliau membolehkanya.[2]

وروى ابن ماجه عن صهيب رضي الله عنه أن النبي صلّى الله عليه وسلم قال: «ثلاث فيهن البركة: البيع إلى أجل، والمقارضة، وخلط البر بالشعير للبيت لا للبيع»

Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Sahabat Suhaib semoga Alloh meridhoinya bahwasany Nabi sholallohu ‘alaihissalam bersabda : 3 perkara yang ada padanya keberkahan : Jual beli dgn tunda,Mudhorobah,Mencampur Gandum bagus dgn yang Jelek untuk konsumsi sendiri bukan untuk diperjual belikan.[3]

Adapun Ijma’ adalah sebagaimana diriwayatkan dari sebagian besar para sahabat bahwasanya mereka menjadikan harta anak yatim untuk diperdagangkan (sebagai harta Mudhorobah)[4] dan tidak ada satupun penginkaran dari kalangan sahabat maka jadilah perkara ini sebagai Ijma.dan al Imam ibnu Taimiyah menetapkan disyariatkannya Mudhorobah ini dgn Ijma yang bersesuaian dengan dalil.begitu juga imam Malik meriwatkan dikitabnya al Muwatho’ dan juga imam Syafi’i dikitab musnadnya dari Zaid bin Aslam bahwasanya Umar bin Khotob menetapkan mudhorobah kepada kedua anaknya yaitu Ubaidillah dan Abdulloh.

 

HIKMAH DISYARIATKANNYA MUDHOROBAH

Memungkinkan seseorang untuk mengembangkan hartanya dan mudhorobah adalah cara untuk mewujudkan saling tolong menolong diantara sesama,dan menggabungkan kepandaian dan kemahiran/pengalaman untuk menghasilkan suatu hasil yang baik.

 

RUKUN MUDHOROBAH ,LAFADZ DAN JENISNYA

Menurut Mazhab hanafi adalah Izab dan Qobul dengan lafadz yang menunjukan pada aqad tersebut.

Lafadz Izab seperti seseorang mengatakan ambilah harta ini dan perdagangkanlah hasil keuntungan dari rezeki yang diberikan Alloh adalah untuk kita berdua dengan pembagian setengah,seperempat,sepertiga dan seterusnya.

Lafadz Qobul seperti aku terima,aku setuju dan semisalnya.

Dan jika telah sempurna izab dan qobul ini maka berlakulah hukum mudhorobah ini.[5]

Menurut Jumhur ulama adalah ada 2 orang yang saling bersepakat (pemilik harta dan pekerjanya) serta ada sesuatu yang menjadi akadnya ( harta,amal,dan keuntungan) dan Izab Qobul.

Sedangkan menurut Syafiiyah ada 5 : Harta,Amal,Keuntungan,Izab Qobul serta 2 orang yang bersepakat.

 

Lagi

Kedudukan Amal terhadap Ilmu

وَإِذَا أَصَرَّ عَلَى تَرْكِ مَا أُمِرَ بِهِ مِنْ السُّنَّةِ وَفِعْلِ مَا نُهِيَ عَنْهُ فَقَدْ يُعَاقَبُ بِسَلْبِ فِعْلِ الْوَاجِبَاتِ حَتَّى قَدْ يَصِيرُ فَاسِقًا أَوْ دَاعِيًا إلَى بِدْعَةٍ)   مجموع الفتاوى ( ط: دار الوفاء – تحقيق أنور الباز ) – (22 / (306

  • “Seseorang jika terus meninggalkan sunah yang diperintahkan dan melakukan perkara yang terlarang maka bisa jadi dia dihukum (oleh Allah) dengan meninggalkan hal-hal yang wajib, hingga akhirnya bisa jadi ia menjadi orang fasik atau orang yang menyeru kepada bid’ah.” (Majmu’ Al-Fatawa 22/306)

العلم الذي هو العلم المعتبر شرعا أعني الذي مدح الله ورسوله أهله على الإطلاق هو العلم الباعث على العمل الذي لا يخلي صاحبه جاريا مع هواه كيفما كان بل هو المقيد لصاحبه بمقتضاه الحامل له على قوانينه طوعا أو كره)  الموافقات. ط المعرفة – دراز – (1 / 69)

  • Ilmu yang pemiliknya dipuji oleh Alloh dan Rasul-NYA secara mutlak adalah ilmu yang mengantarkan pelakunya kepada amal (yang membuahkan amal) yang tidak menjadikan pelakunya beramal berdasarkan hawa nafsunya bagaimanapun keadaanya akan tetapi ilmu tersebut adalah penjaga bagi pemiliknya yang dia beramal sesuai dengan aturan-atuaran Alloh pada perkara yang dia senangi ataupun perkara yang dia benci/tidak sukainya.(Al-Muwaafaqaat-imam syatibi 1/69)
  • Pernah ada seseorang yang bertanya (masalah agama) kepada Abu Ad-Darda’, maka Abu Ad-Darda’ berkata kepadanya: “Apakah semua masalah agama yang kau tanyakan kau amalkan?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Maka Abu Ad-Darda’ menimpalinya: “Apa yang engkau lakukan dengan menambah hujjah yang akan menjadi bumerang bagimu?” (Al-Muwaafaqaat 1/82 sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abdil-Bar dalam Al-Jami’ no 1232).

وعن علي يا حملة العلم اعملوا به فإن العالم من علم ثم عمل ووافق علمه عمله وسيكون أقوام يحملون العلم لا يجاوز تراقيهم تخالف سريرتهم علانيتهم ويخالف علمهم عملهم يقعدون حلقا يباهي بعضهم بعضا حتى إن الرجل ليغضب على جليسه أن يجلس إلى غيره ويدعه أولئك لا تصعد أعمالهم تلك إلى الله عز و جل

الموافقات. ط المعرفة – دراز – (1 / 75)

  • Diriwayatkan dari Ali bin Abi tholib dia berkata “wahai pembawa ilmu beramallah dengan ilmu itu sesungguhnya seorang yang alim adalah orang yang mengetauhi kemudian dia beramal,ilmunya bersesuaian dengan amalnya sesungguhnya akan ada suatu kaum yang mereka memiliki ilmu tapi tidak melewati tenggorokan mereka,apa yang mereka sembunyikan berbeda dengan yang mereka tampakan dan ilmu mereka itu tidaklah sesuai dengan amal mereka,mereka duduk-duduk disuatu halqoh saling berbangga-bangga satu sama lainya hingga seorang laki-laki sangat marah kepada teman duduknya jika  dia bermajlis dengan orang lain dan dia meninggalkanya,mereka adalah orang-orang yang amalnya tidak diterima oleh ALLOH Ta’ala.

Misteri Penemu Benua Amerika?

Penjelajah Muslim Lebih Dulu Injak Amerika Daripada Colombus

(Berita SuaraMedia) – Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai ‘The New World’ ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492.

Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah ‘Dunia Baru’. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.

Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus.

Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika.

”Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,” tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.

Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.

Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam.

Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.

Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.

Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.

Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.

Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni.

Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.

Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya.

Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa : ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah

Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim?

Sejarahnya panjang, Semangat orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.

Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.

Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).

Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi.

Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.

Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.

Lagi

Penyebab Kerusakan di Bumi

Berkata imam ibnul Qoyyim pada kitab Zadul Maad(4/329)

Barang siapa yang memiliki pengetahuan tentang keadaan alam ini dan juga awal kejadiannya, maka dia akan mengetahui apa yang telah menyebabkan seluruh kerusakan yang terjadi di udara, di darat, di laut dan juga kerusakan yang terjadi pada penghuninya. Dan senantiasa perbuatan anak adam, juga penyalisihan mereka terhadap perintah perintah para utusan telah menyebabkan berbagai kerusalan secara khusus maupun secara umum, yang hal itu akan mendatangkan berbagai jenis penyakit, paceklik, kekeringan dan juga dicabutnya keberkahan hasil bumi yang musibah musibah tersebut datang silih berganti.

Apabila engkau tidak puas dangan pemaparan ini, maka cukuplah bagimu firman Alloh:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [٣٠:٤١]

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Sesungguhnya ayat ini menerangkan tentang perubahan pada alam semesta. Maka samakanlah antara yang terjadi di alam ini dengan ayat tersebut. Setiap kali manusia berbuat dzolim, Alloh taala akan menimpakan berbagai ketimpangan. Entah itu terjadi pada buah buahan, lingkungan hidup, kesehatan mereka juga pada akhlak mereka.

Sungguh dahulu biji biji gandum dan selainnya lebih besar dan lebih bagus dari yang ada sekarang. Demikian juga keberkahannya lebih besar. Imam Ahmad telah meriwayatkan dengan sanadnya, bahwasanya dia mendapati sebuah kantong di gudang penyimpanan hasil bumi milik Bani Umayyah yang didalamnya ada biji gandum sebesar isi kurma.Tertulis pada kantong tersebut “ini adalah yang tumbuh di zaman yang penuh keadilan”.

Dan kebanyakan berbagai macam penyakit dan kerusakan yang menyeluruh adalah sisa sisa dari adzab yang telah Alloh timpakan kepada umat umat terdahulu. Kemudian sisa adzab tersebut akan selalu mengintai dan akan menimpa orang orang yang berbuat seperti perbuatan umat umat terdahulu sebagai balasan yang setimpal dan putusan yang adil.

Dalam hal ini Rosululloh alaihissalam telah mengisyaratkan dengan sabda –Nya pada masalah Tho’un

إنّهُ بَقِيّةُ رِجْزٍ أَوْ عَذَابٍ أُرْسِلَ عَلَى بَنِي إسْرَائِيلَ

Demikian juga Alloh juga telah menimpakan angin kepada suatu kaum tujuh malam delapan hari. Kemudian Alloh menyisakannya, dan pada yang semisalnya terdapat nasehat dan pelajaran.

            Lagi

Hukum Mencuri Hak Cipta

Hak Hak Ma’nawiyyah (Hak Cipta)[1]

Pembahasan ini adalah suatu permasalahan yang baru dalam Fiqh Islamy yang sedang dibahas olah “Majami’ Fiqh iyyah” dan juga beberapa ulama’, sampai sampai menjadi tema karya tulis di perguruan tinggi islam. Pembahasan ini menerangkan tentang hukum kepemilikian hak cipta dan pemanfaatannya. Seperti penjualan merek dagang, hak temuan dan pemikiran atau ide, hak tulis dan pencetakan[2], dan lain sebagainya yang berhubungan dengan karya ilmiyyah lainnya.

Hak cipta adalah hak eksklusif Penciptaan atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur penggunaan hasil penuanga gagasan atau atau informasi tertentu.

Pada dasarnya, hak cipta merupakan “hak untuk menyalin suatu ciptaan”. Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi penggandaan dan tidak sabatas suatu ciptaan. Pada umumnya pula hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.[3]

 

HAK HAK MAKNAWIYYAH YANG MENDAPAT PERLINDUNGAN DALAM ISLAM

1.       Hasil pemikiran yang ada sisi penemuannya. Dari sini, maka suatu pemikiran yang mendapatkan perlindungan tidak disyaratkan murni dari suatu penemuan, akan tetapi cukuplah pemikiran tersebut memiliki sisi pembaharuan dan bukan pengulangan dari karya ilmiyyah yang lain.

2.       Pada karya ilmiyyah yang bermanfaat. Karena Islam telah mewajibkan kepada pemeluknya untuk menuntut ilmu, diwaktu yang sama juga menetapkan jenis ilmu yang wajib untuk dicari dan dihasilkan, dan hal itu disyaratkan harus pada ilmu ilmu yang bermanfat. Dan termasuk dari doanya Rosululloh:[4] (اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا)dan Beliau juga memohon perlindungan dari ilmu yang bermanfaat. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh bahwasanya Rosululloh bersabda: [5](اللهم إني أعوذ بك من علم لا ينفع)

Atas dasar ini maka tidak ada tanggung jawab dalam melanggar atau menghilangkan karya tulis ataupun penemuan yang hukumnya haram dan menyelisihi syareat. Imam Syaukani telah menukil dari para ulama’ hukum kitab yang berisi keyakinan yang sesat, dan salinannya yang berada pada manusia semisal kitab ( Fususul Hikam ) dan ( Al Futuhat ) oleh Ibn ‘Arobi, dan kitab  ( Khol’u Na’lain ) oleh Ibn Qisi dan juga syairnya Ibnul Faridh dan yang lainnya. Maka hukum kitab kitab semacam ini adalah hendaknya dimusnahkan dengan cara dibakar dan ditenggelamkan kedalm air.[6]

Untuk itu berkata Ibn Qoyyim : “Begitu juga tidak ada denda dari sebab membakar dan memusnahkan kitab kitab yang menyesatkan. Berkata Al Marudzi: ‘Aku berkata kepada Ahmad: “Saya telah meminjam sebuah kitab yang didalamnya berisi sesuatu yang menyimpang, bagaimana pendapatmu? Apa saya harus membakarnya?. Imam Ahmad menjawab: “Ya, sungguh Nabi melihat sebuah kutipan dari Taurot yang dibawa oleh Umar, karena keheranan Beliau(Umar) kutipan tersebut sesuai dengan Al Quran (pada beberapa permasalahan). Tiba tiba berubahlah wajah Nabi karena marah sehingga pergilah Umar ke sebuah tungku (perapian) dan melemparkan kutipan tersebut kedalamnya.”

Maka semua buku semacam ini tidak bisa ditolerir, bahkan diizinkan oleh syareat untuk dimusnahkan, dan alngkah bahayanya atas umat ini. Sesungguhnya Para Sahabat telah membakar seluruh mushaf yang menyelisihi mushaf Ustman tatkala mereka hawatir akan terjadi perselisihan dalam tubuh umat ini, maka bagaimana jika mereka melihat kitab kitab semacam ini yang menyebabkan perselisihan dan perpecahan pada umat ini. Maka kesimpulannya kitab kitab yang mengandung kedustaan, kebid’ahan, kesesatan, wajib untuk dimusnahkan, dari pada alat alat musik dan bejana bejana khomer. Karena bahayanya labih besar dari pada bahaya yang ada pada mushaf yang menyelisihi mushafnya Utsman.

Lagi

Previous Older Entries

Tulisan Terpopuler