Maktabah Syamilah di Linux

Alhamdulillah,sekarang kalo pake linux kita gak pake pusing lagi kalo mau instal maktabah syamilah, mikirin instal wine lah, inilah, itu lah biar maktabah syamilah bisa jalan di linux,dan akhirnya gak jadi deh make linux gara-gara puyeng install maktabah syamilah. Karena sekarang udah ada maktabah syamilah buat linux, namanya Maktabah Elkirtass, maktabah ini dibuat oleh teman kita Abu Zakaria dari Aljazair (Jazahullah khairan katsira)
Jadi, menurut ana Maktabah Elkirtas ini adalah “maktabah syamilah” yang paling bagus dan powerfull untuk versi linux. Di makktabah Elkirtas ini ada lebi dari 1900 buku-buku yang lagsung bisa di baca dan yang jelas gak pake repot .
Mengapa ana katakan Maktabah Elkirtass ini ini adalah “maktabah syamilah” yang paling bagus dan powerfull untuk versi linux? berikut beberapa kelebihannya dari hasil reserarch(yahahu ) yang ane lakukan  :

  • Adanya fasilitas newtab, memudahkan pengguna dalam mengakses kitab-kitab yang akan dibaca
  • Anda bisa mengubah warna-warna pada maktabah Elkirtass
  • Anda bisa langsung mencetak tanpa perlu copas ke text editor.
  • Anda juga misa mengubah font sesuka hati anda
  • Kemampuan menyimpan kitab-kitab ke format .odf, .pdf, dan .html
  • Lebih mudah dalam search engine kitab-kitab (berdasarkan kitab atau topik)
  • Anda bisa menghilangkan dan menimbulkan harakat pada kitab-kitab yang anda baca
  • Tampilan lebih nyaman dan enak dipandang
  • Anda bisa menambahkan kitab-kitab yang kurang
  • Bila ada kitab yang salah, anda dapat mengedit kitab tersebut
  • Anda juga bisa menghapus kitab yang ingin anda hapus
  • Bisa meimprort buku dari maktabah syamilah dengan format .bok atau .mdb

Dan masih banyak lagi kelebihan maktabah Elkirtas yang belum sempat ane tulis karena keterbatasan waktu.

Dimana donloadnya?
Bagi antum-antum yang gak sabar download maktabah Elkirtass, silahkan download versi terbaru (v2) di bawah ini :

elkirtasse-2.00-1.i586-mdv.rpm mandriva
elkirtasse-2.00-ubuntu-10.4.deb ubuntu
elkirtasse-2.00-1.i586-suse.rpm open suse
elkirtasse-2.00-1.i386.rpm FEDORA
elkirtasse-2.00-linux-qt4.6.bin

untuk meginstal Maktabah Elkirtass harus diinstal terlebih dahulu LIBQTGUI  dan LIBQTXML (alhamdulillah saya sendiri telah berhasil mengistal maktabah ini di sabily dan juga blankon sajadah,caranya setelah selesai didownload langsung copy paste ke home dan untuk file dengan fersi .deb bisa langsung diinstall dengan mendoble klik file tsb. untuk versi (3)klik disini

Trus, mana link kitab-kitabnya?

Oke, untuk link semua kitab-kitabnya anda bisa donload disini , atau anda ingin mendownload kitab per bagian-bagian saja bisa lewat sini.

Nah, setelah kitabnya udah di donload, langung ekstrak dan import ke direktori /.kirtasse/books atau bisa setelah diinstall maktabah Elkitass dilinux jalankan maktabahnya tambahkan kitabnya melalui ملف  pilih bagian penambahan kitabnya.

Atau mungkin anda tidak puas dengan kitab yang ada dan ingin menambah lagi perbendaharaan kitab, bisa anda download disini (terdapat lebuh dari 7000 kitab)

bagi anda yang tidak puas denga tulisan ane silahkan baca disini dan disini

Mungkin itu saja sekelumit info dari ane, terakhir ana mohon doa dari antum-antum semua agar diberikan Allah kemudahan untuk menyelesaikan full tutorial instalasi dan penggunaan maktabah elkirtasse di linux. Wallahu a’lam bishowab…

sumber : http://muslihzarth.wordpress.com/2010/10/31/maktabah-elkirtas-maktabah-syamilah-di-linux

Demontrasi Saat Umar Masuk Islam?

Al Kisah

Singkat cerita, Umar bin Khothob berkata:

”Saat Alloh memberiku hidayah untuk masuk islam, sayapun mengucapkan kalimat La Ilaha Illallohu, tidak ada seorangpun yang lebih saya cintai melebihi Rosululloh. Lalu saya bertanya kepada saudariku: Dimanakah Rosululloh berada ?.” Dia menjawab: Beliau berada di rumah Arqom bin Abil Arqom, dibukit Shofa.”

Sayapun berangkat ke sana, saat itu Hamzah sedang berada bersama para sahabat lainnya, sedang Rosululloh di ruang dalam rumah. Segera saya mengetuk pintu, para sahabat langsung berkumpul, Rosululloh segera keluar seraya bertanya: Kenapa kalian ? Mereka menjawab: “Ada Umar, wahai Rosululloh.” Rosululloh pun keluar dan langsung mencengkram kerah bajuku lalu melepasnya, tiba-tiba saya tidak bisa menguasai diriku dan langsung terduduk. Lalu Rosululloh bersabda: “Tidakkah engkau beriman wahai Umar ?”

Sayapun langsung berkata: Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak di sembah melainkan Alloh, tiada sekutu bagi Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul Nya.” orang-orang yang berada dirumah segera bertakbir dengan suara keras sampai terdengar di Masjidil harom.” Sayapun lalu berkata: Wahai Rosululloh, bukankah kita diatas kebenaran ? baik kita mati ataupun hidup ? Rosululloh menjawab: Ya, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan Nya, kalian berada diatas kebenaran baik kalian mati ataupun hidup.” Maka saya bertanya lagi: “Kalau begitu, kenapa kok sembunyi-sembunyi ? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, engkau harus keluar.” Maka kami keluar dengan dua barisan, satu barisan di pimpin Hamzah dan yang satunya lagi saya pimpin sehingga kami mendatangi Masjid. Orang-orang Quraisy saat melihat saya dan Hamzah merasa mendapakan pukulan berat yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.”

Derajat Kisah Ini

Kisah ini sangat lemah sekali bahkan bisa jadi palsu.

Takhrij Kisah 1

Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ 1/40 berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Hasan, berkata: “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Sholih berkata: “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Aban dari Ishaq bin Abdulloh dari Aban bin Sholih dari Mujahid dari Ibnu Abbas dari Umar bin Khothob.

Abu Nu’aim juga meriwayatkan kisah ini dalam Dala’ilun Nubuwwah no: 194 dengan sanad yang sama.

Sisi Kelemahan Kisah

Kisah ini lemah dari sisi sanad maupun matan, Adapun dari sisi sanad adalah karena terdapat seorang yang bernama Ishaq bin Abdulloh bin Abi Farwah.

  • Imam An Nasa’i berkata: Dia seorang yang matruk (orang yang ditinggalkan haditsnya)
  • Imam Bukhori berkata: Para ulama’ meninggalkannya
  • Imam Baihaqi berkata: Dia matruk
  • Imam Yahya bin Ma’in berkata: Dia pendusta
  • Imam Ibnu Hibban berkata: Dia membolak-balikkan sanad, memarfukkan hadits mursal, dan Imam Ahmad melarang meriwayatkan haditsnya.

Dan keterangan yang senada dengan ini datang dari para ulama’ lainnya (Lihat Tahdzibul Kamal Al Mizzi 2/57/362, Adh Dhu’afa’ wal Matrukin oleh An Nasa’i no: 50, Adh Dhu’afa’ Al Kabir oleh Al Bukhori no: 20, Adh Dhu’afa’ wal Matrukin oleh Al Baihaqi no: 94, Al Majruhin oleh Ibnu Hibban 1/131, Al Jarh wat Ta’dil oleh Ibnu Abi Hatim no: 792, Al Kamil oleh Ibnu Adi 1/326 dan lainnya)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz menjelaskan bahwa kisah ini lemah karena bersumber dari Ishaq bin Abdulloh bin Abi Farwah, sedangkan dia adalah rowi yang lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah. Seandainya kisah ini shohih, maka harus difahami bahwa kejadian ini di awal masa Islam yakni sebelum sempurnanya syari’at. (Lihat Majmu’ Fatawa wal Maqolat 8/257)

Kelemahan Kisah dari Sisi Matan

Kisah ini bertentangan dengan beberapa riwayat shohih yang menceritakan tentang kisah masuk islamnya Umar, diantaranya:

Imam Bukhori dalam Shohih beliau no: 3865 pada bab: “Islamnya Umar bin Khothob” meriwayatkan dari Abdulloh bin Umar berkata:

“Tatkala Umar masuk islam, maka orang-orang berkumpul di rumahnya seraya berkata: “Umar telah keluar dari agama nenek moyangnya.” Mereka katakan itu sedang saat itu saya masih kecil yang sedang berada diatas loteng rumah. Tiba-tiba datanglah seseorang yang memakai kain sutra lalu berkata: “Apakah yang kalian katakan ini ? padahal saya adalah tetangganya.” Akhirnya orang-orang tersebut pun bubar. Saya bertanya: Siapa ia ? mereka menjawab: “Dia al Ash bin Wa’il.”

Imam Ibnu Katsir dalam Bidayah Wan Nihayah 3/81 meriwayatkan kisah masuk islamnya Umar, beliau berkata: Berkata Ibnu Ishaq:

Telah menceritakan kepadaku Nafi’ maula Ibnu Umar dari Ibnu Umar berkata: “Tatkala Umar masuk islam, maka beliau bertanya: Siapa orang Quraisy yang paling bisa untuk menyebarkan berita ? Ada yang menjawab: Dia Jamil bin Ma’mar al Jumahi.” Maka Umar pun berangkat kepadanya.” Sesampainya disana, maka Umar berkata: “Saya beritahukan kepadamu wahai Jamil, bahwa saya telah memeluk agama islam dan saya telah masuk dalam agamanya Muhammad.”

Segera Jamil berdiri menyeret bajunya ke Masjidil Harom, Umar pun mengikutinya dan saya juga ikut. Saat iu orang-orang Quraisy sedang berada di tempat berkumpul mereka, maka jamil berteriak sekerasnya: “Ketahuilah bahwa Umar bin Khothob telah murtad dari agama nenek moyang.” Maka dibelakangnya Umar berkata: “Dia berdusta, yang benar saya telah memeluk agama islam, saya bersaksi bahwa tiada Illah yang berhak disembah melankan Alloh dan Muhammad adalah utusan Nya.” Spontan orang-orang Qurasiy menyerangnya dan dia juga menyerang mereka, Mereka berhasil mengalahkan Umar. Saat itu tiba-tiba datanglah seorang lak-laki lalu berkata: Ada apa dengan kalian ? mereka menjawab: “Umar telah murtad dari agama nenek moyangnya.” Dia berkata: Berhentilah kalian, dia hanya memilih sesuatu untuk dirinya sendiri, lalu apa yang kalian inginkan ? apakah kalian menyangka bahwa bani ‘Adi (kabilahnya Umar-pent) akan membiarkan Umar untuk kalian ? bebaskan dia.”

Segera orang-orang Quraisy tersebut bubar dan membebaskannya.

Lagi

Pelajaran Dari Perang Uhud

Kisah adalah salah satu media yang sangat penting dan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap orang yang mempelajarinya. Oleh karena itu Alloh Aza wa jalla   memerintahkan kepada Nabi Muhammad  Shalallohu ‘alaihi wasalam untuk menceritakan kisah-kisah yang bermanfaat kepada umatnya agar bisa di ambil ibroh\pelajaran darinya. Sebagaimana firman-Nya (artinya):

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ [٧:١٧٦]

“……..Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”.

(QS. Al-a’rof  [07]: 176).

Kemudian daripada itu, sebaik-baik kisah adalah kisah yang di sebutkan dalam al-Qur’an dan as-sunnah, sehingga orang yang mempelajari kisah-kisah tersebut, hatinya akan terterangi dengan cahaya iman, motivasi untuk beramal sholeh akan tergali, semangat untuk beribadah terpompa kembali. Oleh karena itu, pada edisi kali ini kami pusatkan pembahasan kita pada kisah perang uhud dan ibroh dari kisah tersebut.

SEKILAS KISAH PERANG UHUD

Sejak terjadinya perang badar, pihak Quraisy sudah tidak pernah tenang lagi. Apalagi tatkala kesatuan kaum muslimin yang di pimpin oleh  Zaid bin Haritsah telah berhasil mengambil perdagangan mereka ketika mereka hendak pergi ke Syam melalui jalan Irak. Hal ini mengingatkan mereka pada korban-korban badar dan semakin menambah besar keinginan mereka untuk membalas dendam. Bagaimana Quraisy akan dapat melupakan peristiwa itu, sedang mereka adalah bangsawan-bangsawan dan pemimpin-pemimpin makkah yang angkuh dan punya kedudukan terhormat ?. Bagaimana mereka akan dapat melupakan kejadian perang badar, yang mana mereka saat itu merasa terhinakan dan mereka menyimpan dendam kepada kaum muslimin. Demikianlah keadaannya sebelum terjadinya perang uhud. Tak lama kemudian kaum quroisy menggalang kekuatan besar untuk menyerang kaum muslimin. Bagi mereka, keberadaan kaum muslimin adalah duri yang harus disingkirkan. Apalagi saat itu kaum muslimin berada di kota madinah yang merupakan jalur perdagangan Makkah-Syam. Sehingga orang-orang quroisy merasa sesak dada melihat keberadaan mereka. Maka Abu Sufyan menggalang kekuatan 3.000 orang, termasuk 100 orang asal Thaqif. Sekitar 700 orang diantaranya mengenakan baju besi, dan mengerahkan 200 orang pasukan berkuda dan Sebanyak 3.000 unta mendukung serangan itu. Semua itu di kerahkan untuk menyerbu kaum muslimin yang ada di kota madinah. Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam dan masyarakat muslim tak tahu rencana itu. Sampai kemudian Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam menerima surat dari pamannya yang masih kafir, Abbas bin Abdul Muthalib, yang membocorkan rencana tersebut. Orang dari Ghifar yang menjadi kurir (utusan) Abbas menemui Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam di masjid quba’. Ubay bin Ka’ab diminta Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam untuk membacakan surat itu. Kemudian Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam memerintahkan Anas dan Mu’nits anak Fudhola untuk menyelidiki keadaan orang-orang quroisy, lalu keduanya melaporkan bahwa musuh telah berada di sekitar gunung uhud. Setelah itu kaum muslimin mengadakan musyawarah. Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam cenderung untuk bertahan di kota madinah. Demikian pula para orang-orang tua asli madinah, apalagi orang-orang Yahudi yang di ketuai oleh Abdulloh bin Ubay. Namun para anak muda terutama yang tidak ikut perang badar mendesak agar mereka menyongsong musuh dengan berperang di luar kota madinah. Suara terbanyak menghendaki itu. Rosul pun mengalah dengan pendapat tersebut.

BERANGKAT  PERANG

Hari itu hari Jum’at. Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam mengimami sholat Jum’at, kemudian kembali ke kamarnya. Abu Bakar dan Umar  Radhiallohu ‘anhu menyusul masuk, membantu Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam mengenakan sorban dan baju besinya. Ia memimpin sendiri pasukannya yang berkekuatan 700-an orang yang asalnya 1000 orang kemudian yang 300 orang kembali ke madinah. Mereka segera menuju bukit Uhud. Sebanyak 50 orang ditugasi Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam untuk menjadi pemanah. Mereka harus menempati posisi di lereng bukit, tanpa boleh pergi, kecuali diperintahkan oleh Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam. Ketika sampai di Syaikhon  Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam berhenti. Dilihatnya di tempat itu ada sepasukan tentara yang identitasnya belum dikenal. Ketika ditanyakan, kemudian diperoleh keterangan, bahwa mereka itu orang-orang Yahudi sekutu Abdullah bin Ubay. Lalu kata Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam: ” Jangan minta pertolongan orang-orang musyrik dalam melawan orang musyrik, sebelum mereka masuk Islam.”

Kedua belah pihak sudah siap bertempur. Masing-masing sudah mengerahkan pasukannya. Perangpun lalu pecah. Di saat kaum muslimin mendekati titik kemenangan, sampai-sampai kaum muslimin saat itu mengejar musuh hingga mereka meletakkan senjata dimana saja. Akan tetapi kaum muslimin tidak pikir panjang mulai memperebutkan rampasan perang. Alangkah banyaknya jumlah rampasan perang itu! Hal ini membuat mereka lupa mengikuti terus jejak musuh, karena sudah mengharapkan kekayaan duniawi. Mereka ini ternyata dilihat oleh pasukan pemanah yang oleh Rosul Shalallohu ‘alaihi wasalam diminta jangan meninggalkan tempat di gunung itu, sekalipun mereka melihat kawan-kawannya diserang. Dengan tak dapat menahan air liur melihat rampasan perang itu, akhirnya mereka ikut-ikutan memperebutkan harta ghonimah, tidak menghiraukan pesan Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam dan melanggar perintah beliau yang telah di sampaikan  untuk tetap di atas gunung bagaimanapun keadaannya. Di saat kaum muslimin sibuk memperebutkan harta ghonimah. Pada waktu itulah Kholid bin Walid (sebelum masuk islam, red) sebagai komandan utama mengambil kesempatan ini dengan mengerahkan pasukannya ke tempat yang semula dikuasai oleh pasukan pemanah kaum muslimin tersebut. Tindakan ini tidak disadari oleh pihak Muslimin. Tiba-tiba Kholid bin Walid berseru sekuat-kuatnya, dan sekaligus pihak Quroisy pun mengerti, bahwa ia telah mampu membalikkan anak buahnya ke belakang tentara Muslimin. Mereka yang tadinya sudah terpukul mundur sekarang kembali lagi maju dan mendera pasukan kaum Muslimin dengan pukulan maut yang hebat sekali. Di sinilah giliran bencana itu berbalik. Setiap Muslim telah melemparkan kembali hasil renggutan yang sudah ada di tangan itu, dan kembali pula mereka mencabut pedang hendak bertempur lagi. Tetapi sayang, sayang sekali! Barisan sudah centang-perenang, persatuan sudah pecah-belah, pahlawan-pahlawan teladan dari kalangan Muslimin telah dihantam oleh pihak Quroisy. Mereka yang tadinya berjuang dengan perintah Alloh Aza wa jalla hendak mempertahankan iman, sekarang berjuang hendak menyelamatkan diri dari cengkraman maut, dari lembah kehinaan. Hingga akhirnya kaum muslimin mendapat kekalahan.” ( Di ringkas dari kitab Fathu bari: 7/431-435 dan Siroh Nabawiyah Oleh Ibnu Hisyam: 23-92 ).

Lagi

Syubhat Seputar Dakwah Tauhid

Dakwah tauhid adalah dakwah yang haq (benar). Tidaklah Alloh Aza wa Jalla mengutus para rosul-Nya kecuali agar mereka mendakwahkan tauhid kepada segenap kaum mereka. Alloh Aza wa Jalla menciptakan kita dan menurunkan kitab-Nya juga karena tauhid, yakni agar umat manusia beribadah dan mengabdi hanya kepada-Nya semata. Oleh sebab itu Tauhid merupakan sesuatu yang sangat penting, pokok dan bahkan paling utama. Sehingga setiap da’i harus mencurahkan perhatian kepadanya sebagaimana pula halnya yang telah ditempuh dan dilakukan oleh para utusan Alloh Aza wa Jalla.  Namun demikian suara sumbang selalu saja bermunculan. Tak jarang kita dengar berbagai macam bentuk alasan dan kerancuan untuk menjatuhkan citra dakwah tauhid ini. Terutama para “da’i politik” yang selalu menitikberatkan dakwah mereka pada kursi kekuasaan. Menurut mereka dengan adanya kekuasaan inilah kita akan kembali jaya dan dapat menerapkan hukum Alloh Aza wa Jalla di muka bumi. Itulah sekelumit dari sekian banyaknya syubhat [kerancuan] yang mereka lontarkan. Mudah-mudahan pada pembahasan kita kali ini dapat menjadi lentera dan pengokoh hati bagi saudara-saudaraku seiman sekaligus sebagai nasehat bagi mereka yang telah menyimpang dari manhaj (metode) para nabi dan rosul –‘alaihimus sholatu wassalam–  Allohul musta’an.

DAKWAH ADALAH IBADAH

Wahai saudaraku, ini sangat penting untuk kita cermati sebelum masuk pada inti pembahasan. Ketahuilah bahwasannya dakwah di jalan Alloh Aza wa Jalla adalah ibadah[1]. Sedangkan ibadah itu tidak akan diterima oleh Alloh Aza wa Jalla kalau tidak terpenuhi syarat-syaratnya, yaitu:

  1. Pelaku dakwah harus muslim bukan orang kafir.
  2. Harus ikhlas karena Alloh Aza wa Jalla (ingin mencari ridho-Nya, menjalankan perintah-Nya, dan ingin mencari pahala serta karena takut siksa-Nya).
  3. Ibadah harus mutaba’ah (mengikuti Nabi Shalallohu ‘alaihi wa salam dan para sahabat). Demikian pula dengan manhaj (metode/cara) berdakwah[2].

Dua syarat yang pertama mungkin sudah banyak yang memenuhinya namun untuk syarat yang ketiga ini tidak sedikit yang lalai darinya, sehingga muncullah berbagai macam metode dakwah baru yang sebanarnya itu tidak diizinkan oleh Alloh Aza wa Jalla. Banyak sekali dalil yang menjelaskan bahwa sarana dakwah adalah tauqifi (terima jadi dari Nabi Shalallohu ‘alaihi wa salam) bukan ijtihadi (hasil kebijakan atau gagasan pendapat seseorang).

Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sungguh telah kutinggalkan kepadamu din yang terang-benderang ini, malamnya seperti siang, tidaklah seorang pun yang berpaling darinya melainkan dia akan celaka.” (HR. Ibnu Majah: 43, dishohihkan Syaikh al-Albani Rahimahulloh dalam Silsilatul Ahadits ash-Shohihah: 937)[3]

Sungguh sangat mustahil apabila Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam telah menjelaskan kepada umatnya adab buang air lalu tidak menjelaskan sarana dan manhaj (metode) dakwah padahal dengan dakwah lah agama Islam akan tegak. Sesungguhnya petunjuk beliau telah menyinari kegelapan, hujjahnya (argumen) kuat tak terbantahkan, dilanjutkan oleh para sahabat dan pengikutnya yang setia. Mereka akan sangat marah bila para da’i menyelisihinya atau mengadakan cara dakwah yang baru. Maka tiada cara untuk mewujudkan masyarakat seperti kehidupan para sahabat dan pengikutnya melainkan dengan manhaj dan cara yang syar’i. Imam Malik Rahimahulloh berkata: “Tidaklah mungkin akan menjadi baik akhir umat ini melainkan dengan hal yang membuat baik para pendahulu mereka”. (Lihat, al-Hujajul Qowiyyah: 54-57)

Berkata Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah Rahimahulloh:  Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam, sahabat, dan para tabi’in  [generasi setelah sahabat] menyeru orang-orang kafir, ahli maksiat dan orang-orang fasik supaya meluruskan tauhid mereka sesuai dengan apa yang disyari’atkan Islam. Alloh Aza wa Jalla telah mencukupkan tata cara berdakwah bagi mereka daripada tata cara bid’ah.” (Majmu’ Fatawa: 11/624)

BAGAIMANA ROSULULLOH Shalallohu ‘alaihi wa salam  BERDAKWAH?

Wahai saudaraku, kalau memang sudah jelas bagi kita bahwa dakwah adalah ibadah yang harus didasarkan kepada petunjuk Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam maka kita harus tahu bagaimanakah sebenarnya manhaj (metode) Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam dalam berdakwah. Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Alloh Aza wa Jalla merohmatimu-, bahwa manhaj Rosululloh n\ dalam berdakwah di jalan Alloh Aza wa Jalla adalah dengan menjadikan tauhid sebagai prioritas utama dalam dakwahnya. Demikian pula halnya dengan para nabi dan rosul –‘alaihimus sholatu wassalam-. Alloh Aza wa Jalla banyak menceritakan kepada kita dalam kitab-Nya, tentang kisah-kisah sebagian rosul, dari Nabi Nuh sampai zaman Nabi Muhammad Shalallohu ‘alaihi wa salam. Mereka, walaupun dalam sisi tempat, masa, keadaan umat yang mereka dakwahi sangat berbeda, serta jauhnya rentang waktu antara para rosul, akan tetapi asas risalah yang disampaikan, titik mula dan pusat perhatian dalam dakwah, sama sekali tidak pernah berubah, baik obyek dakwahnya muslim atau kafir. Semua risalah para rosul adalah tegak untuk mengemban dakwah pengesaaan terhadap Alloh Aza wa Jalla dalam ibadah dan meniadakan sekutu bagi-Nya. ( Lihat, QS. An-Nahl [16]: 36, al-Anbiya’ [21]: 25, al-Bayyinah [98]: 5 )[4]

Sungguh perhatian Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam terhadap masalah tauhid sangatlah besar sampai pun pada detik-detik akhir kehidupan beliau. Diriwayatkan dari sahabat Jundab bin Abdulloh al-Bajaly Radhiallohu anhu, bahwa beliau mendengar nabi Shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda saat 5 hari sebelum wafatnya: “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu menjadikan kuburan-kuburan para nabi dan orang-orang sholih sebagai masjid (tempat ibadah), oleh karena itu jangan sekali-kali kamu menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid. Karena saya melarang yang demikian itu. (HR. Muslim:  532).

Demikian pula sahabat Abu Ubaidah bin Jarroh Radhiallohu anhu, beliau berkata: “Kata terakhir yang disampaikan nabi Shalallohu ‘alaihi wa salam adalah sabdanya: “Dan ketahuilah, bahwasanya sejelek-jelek manusia adalah orang-orang yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid (tempat ibadah).” (HR. Ahmad: 1691, 1694, ath-Thohawi: 4/13, dishohihkan Syaikh al-Albani Rahimahulloh dalam Tahdzir as-Sajid: 23).

Lihatlah wahai saudaraku, betapa besarnya perhatian beliau terhadap tauhid. Mulai dari awal kali beliau berdakwah hingga akhir hayatnya beliau selalu memperhatikan dan mendakwahkan tauhid. Sesungguhnya dakwah tauhid adalah manhaj dakwah para nabi –alaihimus sholatu was salam-. Ia adalah suatu manhaj yang penuh hikmah, bersih dan suci, sekaligus penuh dengan kendala dan ujian, serta jauh dari slogan-slogan yang menyilaukan dan menarik bagi pengikut hawa nafsu dan pencari kedudukan. Oleh karena itu tidak ada yang mengikuti dan beriman kepada mereka [para nabi] kecuali orang-orang yang jujur, ikhlas dan jauh dari segala macam tendensi-tendensi (tujuan) pribadi.

Wahai saudaraku, apabila Alloh Aza wa Jalla adalah Dzat yang paling tahu tentang keadaan para hamba-Nya dan apa saja yang bisa memperbaiki mereka –bagaimanapun keadaannya-, telah memilih manhaj ini untuk semua rosul dan umat mereka, maka tidak diperbolehkan bagi seorang pun untuk merubah agama Alloh Aza wa Jalla dengan memilih jalan hidayah selain jalan ini, untuk dirinya maupun orang lain, dan tidak boleh pula bagi kita untuk keluar dari jalan Alloh Aza wa Jalla dan jalan para Rosul-Nya dalam berdakwah dengan alasan apapun juga.

Lagi

Karomah Wali

Mendengar istilah wali saja kebanyakan orang pasti akan berfikir tentang keanehan dan kedigdayaan yang dimiliki oleh seseorang, apalagi jika orang tersebut bergelar “kiyai” pasti ia akan identik dengan sebutan wali. Dan setiap keanehan yang muncul darinya itulah yang dinamakan dengan karomah. Namun masalahnya, benarkah bahwa setiap kedigdayaan yang muncul dari seorang kyai, atau orang yang bersorban, berjubah bahkan berjenggot sekalipun dinamakan karomah wali? Kalau tidak, lantas bagaimanakah caranya agar kita dapat membedakan antara karomah sejati dengan karomah imitasi alias tipu daya setan? Dan kemudian apakah mencari karomah itu termasuk tujuan syari’at? Untuk menjawabnya maka simaklah ulasan berikut. Allohul Musta’an.  

DEFINISI KAROMAH

Menurut bahasa, lafazh (kata) karomah berasal dari كَرُمَ yang berarti kemuliaan. (al-Mu’jam al-Wasith: 784)

Alloh Aja wa Jalla berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Karomah menurut istilah ialah kejadian luar biasa, tidak untuk melawan dan tidak untuk mengaku nabi. Alloh Aja wa Jalla menampakkan kepada walinya yang beriman untuk menolong urusan din (agama) atau duniawinya. (Syarh Utsul I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah: 9/15, al-Minhatul Ilahiyyah fi Tahdzib Syarh at-Thohawiyyah: 387)

DALIL KAROMAH WALI

Allah Aja wa Jalla berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62)   الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)   لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. ( QS. Yunus [10]: 62-64).

Berkata Syaikh al-Baidhowi Rahimahulloh: “Inilah kabar gembira untuk orang yang bertakwa yang dijelaskan di dalam kitab Alloh Aja wa Jalla dan sunnah Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam. Alloh Aja wa Jalla memperlihatkan kepada mereka berupa impian yang benar serta yang nampak berupa kejadian luar biasa sekaligus kabar gembira saat malaikat mencabut nyawanya. (Lihat, Tafsir Baidhowi: 283).

Dari keterangan di atas maka jelaslah bahwa seorang wali itu memiliki karomah, baik karomah berupa keimanan dan takwa -dan inilah sebaik-baik karomah bagi mereka- dan ada lagi berupa keanehan yang kadangkala menyertai mereka.

Selain daripada itu, ayat atau tanda tersebut juga menunjukkan kepada kita bahwa wali yang sebenarnya adalah mereka yang selalu menurut dan mengikuti segala yang dicintai dan diridhoi Alloh Aja wa Jalla, menjauhi dan membenci serta melarang dari apa yang telah dilarang oleh-Nya[1]. Mereka mendapatkan petunjuk berupa dalil yang jelas dari Alloh Aja wa Jalla, tunduk kepada-Nya serta menegakkan yang al-haq yaitu beribadah, berdakwah dan menolong agama Alloh Aja wa Jalla. Inilah wali yang sebenarnya dan mereka itulah yang disebut sebagai wali Alloh Aja wa Jalla.  Adapun orang yang berpaling dari al-Qur’an mengingkari dan kafir kepadanya sehingga mereka dikeluarkan oleh setan dari kebenaran menuju kebodohan, kesesatan, dan kekafiran maka itulah wali setan. Alloh Aja wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ (36)

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) Maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS. Az-Zukhruf [43]: 36)

Kesaktian dan kejadian luar biasa yang terjadi pada seseorang bukanlah ukuran untuk menentukan karomah dari kewalian. Tetapi harus dilihat ketaatan dan kesesuaiannya dengan ajaran Islam. Imam Syafi’i Rahimahulloh pernah mengatakan: “Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas permukaan air atau melayang di udara maka janganlah terperdaya dengannya hingga kalian cocokkan keadaannya dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.” (Syarh Aqidah Thohawiyyah: 769)

Lagi

Agar Membaca Al Qur’an Membawa Berkah

Al-Qur’an adalah kitab yang paling agung yang di turunkan oleh Alloh melalui malaikat termulia jibril kepada makhluk termulia yaitu Nabi Muhammad dan kepada umat termulia yang di tampilkan kepada manusia dengan penuturan dan kefasihan bahasa terbaik yaitu bahasa arab yang jelas, menjelaskan segala sesuatu yang berisi petunjuk serta rahmat bagi alam semesta. Sehingga wajib bagi setiap manusia untuk mengamalkannya, yakni mengamalkan hukum-hukumnya dan beradab dengan adab-adabnya. Alloh tidak akan pernah menerima suatu amal yang tidak merujuk kepada al-Qur’an. Dan sungguh Alloh telah menjamin keasliannya sehingga selamat dari revisi (perubahan) baik berupa penambahan maupun pengurangan. Tidak ada seorangpun yang bisa merubah ayat-ayat-Nya walaupun satu huruf melainkan Alloh akan membongkarnya.

Sebagaimana telah ditegaskan dalam al-Qur’an:

“Sesungguhnya kami-lah yang menurunkan al-Quran, dan sesungguhnya kami benar-benar menjaganya[1].

(QS. Al-Hijr [15]: 09)

Syaikh Abdurrohman as-sa’di menuturkan: ”Yaitu Alloh menjaga al-Qur’an ketika diturunkan dan sesudah diturunkan. Adapun ketika al-Qur’an diturunkan Alloh menjaga dari setan yang ingin mencuri secara sembunyi-sembunyi, sedangkan sesudah diturunkan Alloh menjaganya dengan cara menitipkan al-Qur’an kepada Rosululloh kemudian dititipkan ke dalam hati-hati umatnya. Alloh menjaga lafadz-lafadznya dari segala macam bentuk perubahan baik penambahan ataupun pengurangan. Dan tidak akan ada seorangpun yang mampu merubah isi al-Qur’an melainkan Alloh akan mengutus seseorang yang menjelaskan akan kebenarannya. (Lihat Taisir al- Karimir Rohman: 383)

ANJURAN UNTUK MEMBACA AL – QUR’AN

Alloh telah memerintahkan kepada kita semua untuk membaca al-Qur’an dan melakukannya sesuai kemampuan, sebagai bentuk realisasi (perwujudan) dari firman-Nya (artinya) :  “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an)”. (QS. al-Ankabut [29]: 45)

Dan Juga firman-Nya tentang Nabi Muhammad (artinya):

“Dan aku perintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang menyerahkan

diri. Dan supaya aku membaca al-Qur’an (kepada manusia).” (QS. an-Naml [27]: 91-92)

KEUTAMAAN MEMBACA DAN MEMPELAJARI AL QUR’AN

Al-Qur’an adalah kalam (ucapan) Alloh. Ia adalah perkataan yang paling utama dan sarat dengan hukum-hukum. Membacanya merupakan ibadah yang dapat meluluhkan hati dan membuat jiwa menjadi khusyu’ (tenang) serta manfaat-manfaat lainnya yang banyak sekali. Dan barang siapa yang membacanya ikhlas  semata-mata karena Alloh, niscaya dia akan  mendapatkan balasan pahala dari-Nya. Sebagaimana Rosululloh bersabda (artinya):

Barangsiapa membaca satu huruf dari al-Qur’an maka dia mendapat satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR.Tirmidzi: 2910. Dan beliau berkata: hadits ini hasan shohih. Hadits ini juga dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih Al-Jami‘: 5/340)

Setiap muslim harus meyakini akan kesucian kalam Alloh, keagungannya, dan keutamaannya di atas seluruh kalam (ucapan) yang lainnya, yang tidak ada kebatilan dan pertentangan sedikitpun didalamnya. Al-Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhiratnya serta masuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari al-Qur’an. Sebagaimana sabda Rosululloh (artinya):

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori: 2).

Lagi

Menikah dengan Anak Wanita Hasil Zinanya

A. Pengantar

Beberapa waktu yang lalu pada suatu kajian, saat saya menyampaikan bahwa….

  • Tidak ada hubungan nasab antara laki-laki dengan anak yang lahir karena hasil zinanya,
  • keduanya tidak saling mewarisi,
  • tidak boleh anak tersebut di nasabkan kepadanya,
  • tidak ada kewajiban memberi nafkah dan lainnya,

…. ada sebuah pertanyaan yang terlontar, yaitu :

Kalau memang tidak ada hubungan nasab antara keduanya, lalu bolehkah bagi seorang bapak untuk menikah dengan seorang anak wanita yang merupakan hasil dari zinanya sendiri?

Pertanyaan ini kelihatannya aneh, karena kayaknya secara fithroh manusia, seseorang tidak akan berfikir untuk melakukan itu. Namun terbersit dalam pikiran saya, bahwa pertanyaan semacam ini mungkin saja nongol di benak sebagian kaum muslimin di belahan bumi lainnya, dari sinilah maka pembahasannya saya munculkan di edisi kali ini, mudah-mudahan Alloh menjadikannya bermanfaat.

B. Zina perbuatan keji dan munkar

Berzina adalah perbuatan keji dan munkar dalam pandangan semua agama, tidak pernah ada agama satupun yang membolehkannya. Dan Alloh Ta’ala dengan tegas mengharamkannya  juga mengharamkan semua jalan yang menuju pada perbuatan keji ini.

Alloh berfirman :

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kalian mendekati perbuatan zina, karena itu adalah perbuatan keji dan jalan yang  jelek.” (QS. Al Isro’ : 32)

oleh karena itu Rosululloh menjadikan zina ini adalah diantara salah satu penyebab seorang muslim boleh untuk dibunuh

عَنْ عَبْدِاللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالثَّيِّبُ الزَّانِي وَالْمَارِقُ مِنَ الدِّينِ التَّارِكُ لِلْجَمَاعَةِ

Dari Abdulloh bin Mas’ud dari Rosululloh bersabda : “Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwasannya tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Alloh dan sesungguhnya saya adalah Rosululloh kecuali dengan salah satu dari tiga perkara : Membunuh jiwa,  orang yang sudah pernah nikah lalu berzina dan orang yang meninggalkan agamanya dan menyelisihi jamaah.”

(HR. Bukhori  6878, Muslim 1676)

perbuatan zina ini sebagaimana bertentangan dengan syara’, juga bertentangan dengan akal sehat, sampaipun akalnya para binatang. Perhatikanlah kisah aneh yang dikisahkah oleh Imam Bukhori no : 3849

عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ رَأَيْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ قِرْدَةً اجْتَمَعَ عَلَيْهَا قِرَدَةٌ قَدْ زَنَتْ فَرَجَمُوهَا فَرَجَمْتُهَا مَعَهُمْ

Dari Amr bin Maimum Al Audi berkata : “Saya melihat pada zaman jahiliyyah kera-kera mengepung seekor kera yang berzina. Lalu mereka merajamnya , maka saya pun ikut merajamnya.”

Subhanalloh, wahai orang yang melakukan dan melegalisasikan perzinaan, apakah kalian tidak malu denga si kera, yang merajam temannya sendiri karena berzina ataukah kalian lebih rendah daripada si kera ? wal iyadzu billah dari kerusakan akal dan hati.

Oleh karena itu Alloh menjadikan hukuman perbuatan zina ini sangat berat, lebih berat dari pada hukuman pembunuhan, pencurian dan lainnya. Bagi orang yang muhshon (sudah pernah  menikah secara halal) maka hukumannya adalah dirajam sampai meninggal dunia sedangkan bagi yang belum menikah maka dicambuk seratus kali lalu diasingkan selama setahun.

Alloh Ta’ala berfirman :

لزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ

“Perempuan yang berzina dengan laki-laki yang berzina, maka cambuklah keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama Alloh.” (QS. An Nur : 2)

Dari Jabir bin Abdillah al Anshori : bahwasanya ada seseorang dari kabilah Aslam datang kepada Rosululloh dan mengatakan bahwa dirinya telah berzina, dan dia bersaksi empat kali atas hal itu, maka Rosululloh memerintahkannya untuk dirajam. Dan dia itu adalah seorang yang muhshon.” (HR. Tirmidzi : 1454, Abu Dawud : 4407 lihat Shohih Abu Dawud : 3725)

Dan tidak sampai disini saja, tapi Rosululloh juga menafikan nama iman bagi orang yang berzina, sebagaimana dalam hadits

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Dari Ibnu Abbas berkata : “Rosululloh bersabda : “Tidaklah seorang hamba berzina saat dia berzina dalam keadaan beriman.” (HR. Bukhori  : 6772)

C. Nasab anak zina

Namun dengan keharaman yang sangat keras tersebut, bisa saja seorang muslim karena kelemahan imannya terjerumus kedalamnya. Yang dari hubungan haram tersebut sangat dimungkinkan lahirnya seorang anak, lalu bagaimanakah dengan masalah nasabnya ?

Para ulama’ sepakat bahwa apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita, lalu dia hamil dari hasil zina tersebut dan melahirkan seorang anak, maka anak tersebut dinasabkan kepada ibunya dan tidak ada hubungan nasab sama sekali antara dia dengan laki-laki yang menghamili ibunya.

(Lihat masalah ini pada At Tamhid oleh Imam Ibnu Abdi  Bar 7/183, Al Istidzkar oleh beliau juga 22/177, Al Majmu’ Syarah Muhadzab oleh Imam Nawawi 19/48, Al Muhalla oleh Ibnu Hazm 10/323, Zadul MA’ad oleh Imam Ibnul Qoyyim)

Hal ini berdasarkan hadits berikut :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا لَاعَنَ امْرَأَتَهُ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَانْتَفَى مِنْ وَلَدِهَا فَفَرَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَهُمَا وَأَلْحَقَ الْوَلَدَ بِالْمَرْأَةِ

Daro Abduloih bin Umar berkata : “Sesungguhnya seorang laki-laki meli’an 1 isrtinya pada zaman Rosululloh dan tidak mengakui anaknya, maka belia memisahkan antara keduanya da n menasabkan anak tersebut kepada ibunya.” (HR. Bukhori : 6748, Muslim : 1494)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ اخْتَصَمَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ فِي غُلَامٍ فَقَالَ سَعْدٌ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنُ أَخِي عُتْبَةَ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَهِدَ إِلَيَّ أَنَّهُ ابْنُهُ انْظُرْ إِلَى شَبَهِهِ وَقَالَ عَبْدُ بْنُ زَمْعَةَ هَذَا أَخِي يَا رَسُولَ اللَّهِ وُلِدَ عَلَى فِرَاشِ أَبِي مِنْ وَلِيدَتِهِ فَنَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى شَبَهِهِ فَرَأَى شَبَهًا بَيِّنًا بِعُتْبَةَ فَقَالَ هُوَ لَكَ يَا عَبْدُ بْنَ زَمْعَةَ الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ

Dari Aisyah berkata : Sa’ad bin Abi Waqqosh dan Abd bin Zam’ah bertengkar mengenai seorang anak, Sa’d berkata : Wahai Rosululloh,, ini adalah keponakanku (anak saudaraku)  yang bernama Utbah bin Abi Waqqosh, dia berpesan kepadaku bahwa ini ini adalah anaknya, lihatlah pada kemiripan antara keduanya.”

Lalu Abd bin Zam’ah berkata : “Wahai Rosululloh, ini adalah saudaraku, dia terlahir di firosy 2 bapakku dari budak wanitannya.”

Maka, Rosululloh pun memandanganya dengan cermat dan beliau melihat adanya kemiripan yang jelas  antara  dia dengan Utbah bin Abi Waqqosh, namun beliau bersabda : “Dia saudaramu wahai Abd bin Zam’ah, Anak itu milik yang memiliki firosy, dan bagi seorang pezina hanyalah kerugian.” (HR. Bukhori : 6750, Muslim 2/180)

Sisi pengambilan dalil dari hadits ini adalah sabda Rosululloh : “Dan bagi seorang pezina hanyalah kerugian.” Yang mana konsekwensinya bahwa seorang yang berzina tidak memiliki nasab anak tersebut, karena dia tidak memiliki firosy.

Adapun kenapa kok di nasabkan kepada ibunya ? maka jawabannya jelas yaitu karena anak itu memang terlahirdari rahim ibu tersebut, sama saja apakah lahir karena nikah syar’i ataukah kerena zina. (Lihat Fathul Bari 10/36, Al Majmu’ Syarah Muhadzab 19/38)

Yang mana konsekwensi dari tidak adanya hubungan nasab antara keduanya adalah keduanya tidak saling mewarisi, laki-laki tersebut tidak boleh menjadi wali pernikahan anak  perempuan dari hasil zinanya dan beberapa hal lainnya yang seharusnya di perbolehkan bagi seorang bapak pada anaknya.

D. Lalu bagaimana dengan menikahinya?

Dinukil adanya dua pendapat ulama’ dalam masalah ini.

  • Imam Syafi’i dan Malik dalam riwayat yang masyhur dalam madzhab mereka membolehkan menikah dengan anak perempuan dari hasil zinanya. (Lihat Al Um oleh Imam Syafi’i 5/42 3, Al Majmu’ oleh Nawawi 17/386, Roudlotuth Tholibin 5/447, At Tamhid oleh Ibnu Abdil Barr 8/191). Hanya saja Imam Ahmad mengingkari bahwa hal ini pernah di katakan oleh Imam Syafi’i dan Malik (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 32/142) juga Imam Ibnul Qoyyim dan Syaikh Al Albani mengingkari pendapat ini pernah dikatakan oleh Imam Syafi’i (Lihat i’lamul Muwaqqi’in 1/47, Tahdzirus Sajid hal : 53)

Lagi

Kufur Besar Kufur Kecil

Kufur Difinisi Dan Jenisnya

KUFUR DEFINISI DAN JENISNYA

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

[A]. Definisi Kufur
kufur  secara bahasa berarti menutupi.

Sedangkan menurut syara’ kufur   adalah tidak beriman   kepada Allah   dan RasulNYA , baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya.

[B]. Jenis Kufur
Kufur ada dua  jenis : Kufur Besar dan Kufur Kecil

Kufur Besar
Kufur besar bisa mengeluarkan seseorang dari agama Islam.

Kufur besar ada lima  macam :
[1]. Kufur Karena Mendustakan
Dalilnya adalah firman Allah.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ [٢٩:٦٨]

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? ﴿٦٨﴾

[2]. Kufur Karena Enggan dan Sombong, Padahal Membenarkan.
Dalilnya firman Allah.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ [٢:٣٤]

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. ﴿٣٤﴾

[3]. Kufur Karena Ragu
Dalilnya adalah firman Allah.

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا [١٨:٣٥]

وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا [١٨:٣٦]

قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا [١٨:٣٧]

لَٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا [١٨:٣٨]
“Artinya : Dan ia memasuki kebunnya, sedang ia aniaya terhadap dirinya sendiri ; ia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, niscaya akan kudapati tempat kembali yang baik” Temannya (yang mukmin) berkata kepadanya, ‘Apakah engkau kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian Dia menjadikan kamu seorang laki-laki ? Tapi aku (percaya bahwa) Dialah Allah Rabbku dan aku tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun” [Al-Kahfi : 35-38]

[4]. Kufur Karena Berpaling
Dalilnya adalah firman Allah.

مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ [٤٦:٣]

Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.

[5]. Kufur Karena Nifaq
Dalilnya adalah firman Allah

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ [٦٣:٣]

Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.

Kufur Kecil
Kufur kecil yaitu kufur yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, dan ia adalah kufur amali.

Kufur amali ialah dosa-dosa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai dosa-dosa  kufur, tetapi tidak mencapai derajat kufur besar. Seperti  kufur nikmat,

sebagaimana yang disebutkan dalam firmanNya.

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ [١٦:٨٣]

Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.
Termasuk juga membunuh orang muslim,

sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi n.
“Artinya : Mencaci orang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Dan sabda beliau
“Artinya : Janganlah  kalian  sepeninggalku kembali  lagi  menjadi orang-orang  kafir, sebagian  kalian  memenggel  leher  sebagian  yang  lain” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Termasuk  juga  bersumpah dengan  nama  selain  Allah q.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Barangsiapa bersumpah  dengan  nama  selain  Allah,  maka ia telah berbuat kufur  atau  syirik” [At-Tirmidzi dan dihasankannya, serta dishahihkan oleh Al-Hakim]

Yang demikian itu karena Allah tetap menjadikan para pelaku dosa sebagai orang-orang mukmin.

Allah  berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenan dengan orang-orang yang dibunuh” [Al-Baqarah : 178]

Allah tidak mengeluarkan orang yang membunuh dari golongan orang-orang beriman, bahkan  menjadikannya sebagai saudara bagi wali  yang  (berhak melakukan) qishash[1].

Allah  berfirman

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ
“Artinya : Maka barangsiapa mendapat suatu pemaafan dari saudarnya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yangmemberi maaf dengan cara yang baik (pula)” Al-Baqarah : 178]

Yang dimaksud dengan saudara dalam ayat di atas –tanpa diargukan lagi- adalah saudara  seagama,

berdasarkan  firman  Allah.

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ [٤٩:٩]

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [٤٩:١٠]
“Artinya : Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah, jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya  Allah  q menyukai orang berlaku  adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” [Al- Hujurat : 9-10] [2]

Kesimpulan  Perbedaan  Antara Kufur Besar Dan Kufur Kecil

[1]. Kufur besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menghapuskan (pahala) amalnya, sedangkan kufur kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, juga tidak menghapuskan (pahala)nya sesuai dengan kadar kekufurannya, dan pelakunya tetap dihadapkan dengan ancaman.

[2]. Kufur besar menjadikan pelakunya kekal dalam neraka, sedankan kufur kecil, jika pelakunya masuk neraka maka ia tidak kekal di dalamnya, dan bisa saja Allah memberikan ampunan kepada pelakunya, sehingga ia tiada masuk neraka sama sekali.

[3]. Kufur besar menjadikan halal darah dan  harta pelakunya, sedangkan kufur kecil tidak demikian.

[4]. Kufur besar mengharuskan adanya permusuhan yang sesungguhnya, antara pelakunya dengan orang-orang mukmin. Orang-orang mukmin tidak boleh mencintai dan setia kepadanya, betapun ia adalah keluarga terdekat. Adapun kufur kecil, maka ia tidak melarang secara mutlak adanya kesetiaan, tetapi pelakunya dicintai dan diberi kesetiaan sesuai dengan kadar keimanannya, dan dibenci serta dimusuhi sesuai dengan kemaksiatannya.

Hal yang sama juga dikatakan dalam perbedaan antara pelaku syirik besar dan syirik kecil

[Disalin dari kitab At-Tauhid Lis Shaffitss Tsalis Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tuhid 3, Penulis Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Penerjemah Ainul Harits Arifin Lc, Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note
[1]. Qishash ialah mengambil pembalasan yang  sama. Qishash itu tidak dilakukan bila yang   membunuh mendapat pemaafan dari ahlis waris yang terbunuh yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang  wajar. Pembayaran  diat diminta dengan baik, umpanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaknya membayar dengan baik, umpanya dengan tidak menangguh-nagguhkannya. Bila ahli waris si korban sesudah Allah menjelaskan hukum-hukum ini membunuh yang bukan si pembunuh atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat maka terhadapnya di dunia di ambil qishah dan di akhirat dia mendapat siksa yang pedih,-pent
[2]. Lihat  Syarhhuts Thahawiyah  hal.361, cet. Al-Maktab  Al-Islami.

SIAPA BILANG SUAP HARAM?

Istilah suap akhir-akhir ini mulai ngtren lagi di negeri kita. Akan tetapi yang kita maksud bukanlah memasukkan makanan ke dalam mulut seseorang. Yang  dimaksud dalam pembahasan ini adalah ‘uang sogok atau yang sering di istilahkan dengan uang pelicin.  Seorang wartawan bisa saja tidak memberitakan kasus yang menyangkut masyarakat banyak ketika ia tergoda dengan ‘iming-iming’ (suap) dari pihak yang bersangkutan dengan kasus tersebut.  Seorang penjahat bisa bebas dari jeratan hukum jika ia memberikan sekian juta pada seorang hakim. Itulah sebagian realita yang terjadi di negeri kita. Wahai saudaraku -semoga Alloh merahmati anda- lantas bagaimanakah pandangan islam dalam hal ini? Faktor apa sajakah yang menyebabkan orang berani untuk melakukan suap-menyuap? Kapankah suap-menyuap itu diperbolehkan? Bagaimanakah hukum orang-orang yang tertkait dengan kasus ini? Dalam bahasan kali ini Isnya Alloh anda bisa menemukan jawabannya secara jelas dan terperinci. Semoga bermanfaat.

Pengertian suap

Ibnu al Atsir mengatakan suap (risywah) berarti sesuatu yang bisa mengantarkan seseorang pada keinginannya dengan cara yang di buat-buat(tidak semestinya)(An Nihayah Fi Ghoribil Hadits kar.Ibnu al Atsir 2:546). Al Fayyumi mengatakan dalam Misbah al Munir 1:228) Suap adalah sesuatu yang diberikan seseorang pada seorang hakim atau selainnya supaya ia(hakim) memutuskan hukum baginya atau memenuhi apa yang ia inginkan. Dari beberapa pengertian tersebut kita bisa menarik kesimpulan bahwa Suap adalah  harta yang diperoleh karena terselesaikannya suatu kepentingan manusia (baik untuk memperoleh keuntungan maupun menghindari kemudharatan) yang semestinya harus diselesaikan tanpa imbalan.

Hal-hal yang mendorong orang melakukan suap-menyuap

Sebenarnya banyak sekali  hal-hal yang mendorong seseorang untuk melakukan suap-menyuap, akan tetapi disini akan kami sebutkan beberapa saja diantaranya:

1. Lemahnya Iman dan Taqwa seseorang. Karena keduanya merupakan kunci

utama bagi seseorang untuk mengendalikan hawa nafsunya. Oleh karena itu tidaklah seseorang itu berbuat maksiat kecuali ketika imannya sedang lemah,

sebagaimana sabda nabi:

لاَ يَزْنِى الزَّانِى حِينَ يَزْنِى وَهْوَ مُؤْمِنٌ ، وَلاَ يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهْوَ مُؤْمِنٌ

Artinya:”Tidaklah seorang itu tatkala berzina dalam keadaan beriman secara sempurna, dan tidaklah seorang itu minum khomer tatkala meminumnya dalam keadaan beriman secara smpurna….(HR.Bukhori: 2475)

2. Sifat tamak dan rakus terhadap kenikmatan dunia. Hal ini sangat berpengaruh sekali pada diri seseorang, karena dengan sifat ini seseorang bisa menghalalkan segala macam cara yang penting semua keinginannya bisa terpenuhi.

3. Gila terhadap jabatan dan kehormatan di masyarakat, sehingga ia rela mengorbankan apapun demi mendapatnya.

Hukum suap

Imam al Qurtubi dalam tafsirnya [6:119] mengatakan bahwa tidak ada perbedaan dikalangan para ulama akan keharaman risywah(suap). Bahkan banyak diantara mereka yang menukil ijma akan keharamannya, seperti yang dinukil Imam asy Syaukani dalam Nailul Author 4: 595, Imam ash Shon’ani dalam Subul as Salam :1192, Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman Alu Bassam dalam Taudhih al Ahkam 7:118, dll. Adapun dalil yang menjelaskan akan keharamannya banyak sekali, baik dari al Qur’an maupun as Sunnah. Diantaranya:

  1. Surat al Maidah[5]: 42

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ  لِلسُّحتِ فَإِنْ جَاءُوكَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ

Artinya: Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), Maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka.

Umar bin Khottob, Ibnu Mas’ud dan lainnya mengatakan yang dimaksud السحت adalah risywah atau suap menyuap. (Tafsir al Qurtubi 6: 119) Hal ini juga semakna dengan firman Alloh dalam surat al Baqoroh[2]: 188 yang menjelaskan haramnya memakan harta orang lain dengan cara dholim.

  1. Dari sunnah Rosululloh banyak sekali diantaranya:

عَنْ أبي هريرة قال لَعَنَ رُسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الرَاشِي والمُرْتَََشِي في الحُكْمِ

Artinya: “Rosululloh akan melaknat orang yang menyuap dan yang disuap dalam masalah hukum” (HR.Ahmad 2: 386, Tirmidzi: 1336, Ibnu Hibban: 1196 dan di shohihkan Al Albani dalam al Miskah: 3753)

3. Menyuap merupakan tindakan yang mendholimi(merugikan) orang lain, karena sebenarnya ia tidak berhak akan hal itu. Sedangkan Alloh dan Rosul-Nya dengan tegas telah melarang kita untuk berbuat dholim pada diri sendiri maupun orang lain.

Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman al Bassam mengatakan: “Risywah(suap) termasuk dosa besar karena Rosululloh melaknat orang yang menyuap dan yang mengambil suap sedangkan laknat tidaklah terjadi kecuali pada dosa-dosa besar”.(Taudhihu al Ahkam 7: 119

Siapa sajakah yang akan mendapatkan laknat terkait dengan suap?

Kalau kita cermati, ternyata hadis-hadis Rosululloh itu bukan hanya mengharamkan seseorang memakan harta hasil suap menyuap, akan tetapi beliau juga melarang hal-hal yang bisa menyebabkan terjadinya suap-menyuap. Maka yang diharamkan itu bukan hanya satu perbuatan saja akan tetapi tiga perbuatan sekaligus. Yaitu: pemberi suap, penerima suap serta orang yang menjadi penghubung antara keduanya. Hal ini sesuai denngan sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad yang berbunyi:

لَََََََعَنَ رُسُولُ اللهِ صلى الله عليه و سلم الرَاشِيْ وَالمُرْتَشِيْ وَالرَائِشِِ يَعْنِى الذِّيْ يَِمْشِى بينهِما

Artinya : Rosululloh melaknat orang yang menerima suap dan orang yang memberikan suap dan orang yang menjadi penghubung antara keduanya ” (HR.Ahmad: 22452)

Walaupun hadis ini secara sanad dinilai dhoif oleh para ulama hadis akan tetapi secara makna sesuai dengan larangan tolong menolong dalam perbuatan dosa  sebab tidak mungkin terjadi seseorang memakan harta hasil suap-menyuap kalau tidak ada orang yang menyuapnya. Maka orang yang melakukan suap-menyuap pun juga mendapat laknat. Hal ini dikarenakan dengan sebab perbuatan dan inisiatif dialah maka ada orang yang makan harta dari suap-menyuap. Dan biasanya dalam kasus suap menyuap seperti itu, ada pihak ketiga sebagai perantara yang bisa memuluskan proses terjadinya suap-menyuap. Sehingga ia juga berhak mendapatkan laknat dari Alloh.

Kapan suap-menyuap diperbolehkan?

Ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, sebagian  mengharamkan secara mutlak dan sebagian yang lain memberikan pengecualian. Akan tetapi yang rojih menurut kami -Allohu a’lam- adalah bolehnya melakukan suap menyuap dalam  rangka mengambil hak yang menjadi miliknya. Hak tersebut tidak akan diberikan kepadanya kecuali jika ia harus memberi sejumlah uang padanya. Atau untuk menolak perbuatan dholim yang akan mengancam dirinya dan ia tidak akan terhindar darinya kecuali ia harus memberikan sejumlah uang padanya. Maka dalam kasus seperti ini yang berdosa adalah yang mengambil suap tersebut sedangkan yang memberi tidak berdosa. Hal ini didasarkan pada apa yang diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih bahwasanya ia ditanya apakah risywah (suap) itu diharamkan pada segala sesuatu? Maka ia menjawab: tidak, risywah itu diharamkan jika engkau memberi sesuatu pada orang lain supaya engkau diberi sesuatu yang bukan hakmu atau supaya engkau bebas dari kewajibanmu.adapun jika engkau menyuap dalam rangka membela agamamu, nyawamu atau hartamu maka tidaklah haram. Dan pendapat inilah yang diambil oleh Abu Laits as Samarqondi, begitu juga Ibnu Mas’ud. (tafsir al Qurtubi 6: 120)

Penutup

Wahai saudaraku -yang semoga Alloh senantiasa menunjuki kita pada jalan-Nya yang lurus- kita hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Ingatlah akan kehidupan yang lebih kekal dan abadi. Jadikanlah dunia ini sebagai sawah ladangmu dalam beramal kebaikan demi mencapai kebahagiaan di kehidupan mendatang. Janganlah engkau terpedaya dengan keindahan serta manisnya dunia ini. Jangan biarkan anak-anakmu tumbuh dan berkembang dengan harta yang haram ini. Tinggalkanlah kebiasaan buruk ini(suap-menyuap). Segera bertobatlah pada Sang Ilahi, karena kematian akan menghampirimu sewaktu-waktu. Syukurilah apa yang telah Alloh berikan kepadamu serta tanamkanlah sifat qona’ah(menerima apa adanya) pada diri dan keluargamu. Bersabarlah dengan sedikitnya harta yang engkau miliki. Ingatlah bahwasanya ukuran kemuliaan sesorang itu bukan terletak pada banyaknya harta dan tingginya kedudukan. Akan tetapi orang yang paling mulia disisi Alloh adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian. Allohu a’lam bi ash showab!

Copyright : Buletin Alfurqon©

Salaf dan Salafiyah secara Bahasa bag.2

Istilah ini pun diakui oleh orang-orang terdahulu dan mutaakhirin dari ahli kalam.

Al-Ghazaali berkata dalam kitab Iljaamul Awaam an Ilmil Kalaam hal 62 ketika mendefnisikan kata As-Salaf : Saya maksudkan adalah madzhab sahabat dan tabiin.

Al-Bajuuri berkata dalam kitab Syarah Jauharuttauhid hal. 111 : Yang dimaksud dengan salaf adalah orang-orang yang terdahulu yaitu para Nabi, sahabat, tabi’in dan tabiit-tabiin.

Istilah inipun telah dipakai oleh para ulama pada generasi-generasi yang utama untuk menunjukkan masa shohabat dan manhaj mereka, diantaranya :

[1]. Berkata Imam Bukhari (6/66 Fathul Bariy) : Rasyid bin Sa’ad berkata : Dulu para salaf menyukai kuda jantan, karena dia lebih cepat dan lebih kuat.

Al-Hafidz Ibnu Hajar menafsirkan perkataan Rasyid ini dengan mengatakan : Yaitu dari para sahabat dan orang setelah mereka.

Saya berkata : Yang dimaksud adalah shahabat karena Rasyid bin Saad adalah seorang Tabi’in maka sudah tentu yang dimaksud di sini adalah shahabat.

[2]. Berkata Imam Bukhari (9/552 Fathul Bariy) : Bab As-Salaf tidak pernah menyimpan di rumah atau di perjalanan mereka makanan daging dan yang lainnya.

Saya berkata ; Yang dimaksud adalah shahabat.

[3]. Imam Bukhari berkata (1/342 Fathul Bariy) : Dan Az-Zuhri berkata tentang tulang-tulang bangkai seperti gajah dan yang sejenisnya : Saya menjumpai orang-orang dari kalangan ulama Salaf bersisir dan berminyak dengannya dan mereka tidak mempersoalkan hal itu.

Saya berkata : Yang dimaksud adalah sahabat karena Az-Zuhri adalah seorang tabiin.

[4]. Imam Muslim telah mengeluarkan dalam Muqadimah shahihnya hal.16 dari jalan periwayatan Muhammad bin Abdillah, beliau berkata aku telah mendengar Ali bin Syaqiiq berkata ; Saya telah mendengar Abdullah bin Almubarak berkata – di hadapan manusia banyak- : Tinggalkanlah hadits Amru bin Tsaabit, karena dia mencela salaf.

Saya berkata : Yang dimaksud adalah sahabat.

[5]. Al-Uza’iy berkata : Bersabarlah dirimu di atas sunnah, tetaplah berdiri di tempat kaum tersebut berdiri, katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tinggalkanlah apa yang mereka tinggalkan dan tempuhlah jalannya As-Salaf Ash-Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka [Dikeluarkan oleh Al-Aajury dalam As-Syari’at hal.57]

Saya berkata : Yang dimaksud adalah sahabat. Oleh karena itu, kata As-Salaf telah mengambil makna istilah ini dan tidak lebih dari itu. Adapun dari sisi periodisasi (perkembangan zaman), maka dia dipergunakan untuk menunjukkan generasi terbaik dan yang paling benar untuk dicontoh dan diikuti, yaitu tiga generasi pertama yang telah dipersaksikan dari lisan sebaik-baiknya manusia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka memiliki keutamaan dengan sabdanya.

“Artinya : Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi kemudian datang kaum yang syahadahnya salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului syahadahnya” [Dan dia adalah hadits Mutawatir akan datang Takhrijnya]

Akan tetapi periodisasi ini kurang sempurna untuk membatasi pengertian salaf ketika kita lihat banyak dari kelompok-kelompok sesat telah muncul pada zaman-zaman tersebut, oleh karena itu keberadaan seseorang pada zaman tersebut tidaklah cukup untuk menghukum keberadaannnya di atas manhaj salaf kalau tidak sesuai dengan para sahabat dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah. Oleh karena itu para Ulama mengkaitkan istilah ini dengan As-Salaf Ash-Shalih.

Dengan ini jelaslah bahwa istilah Salaf ketika dipakai tidaklah melihat kepada dahulunya zaman akan tetapi melihat kepada para sahabat Nabi dan yang mengikuti mereka dengan baik. Dan diatas tinjauan inilah dipakai istilah salaf yaitu dipakai untuk orang yang menjaga keselamatan aqidah dan manhaj di atas pemahaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya Radhiyallahu a’nhuma sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan.

Adapun nisbat Salafiyah adalah nisbat kepada Salaf dan ini adalah penisbatan terpuji kepada manhaj yang benar dan bukanlah madzhab baru yang dibuat-buat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa 4/149 : Tidak ada celanya atas orang yang menampakkan manhaj Salaf, menisbatkan kepadanya dan bangga dengannya, bahkan pernyataan itu wajib diterima menurut kesepakatan Ulama, karena madzhab Salaf tidak lain adalah kebenaran itu sendiri.

Sebagian orang dari orang yang mengerti akan tetapi berpaling ketika menyebut Salafiyah, mereka terkadang menyangka bahwa Salafiyah adalah perkembangan baru dari Jama’ah Islamiyah yang baru yang melepaskan diri dari lingkungan Jama’ah Islam yang satu dengan mengambil untuk dirinya satu pengertian yang khusus dari makna nama ini saja sehingga berbeda dengan kaum muslimin yang lainnya dalam masalah hukum, kecenderungan-kecenderungan bahkan dalam tabia’at dan norma-norma etika (akhlak).[1]

Tidaklah demikian itu ada dalam manhaj salafi, karena salafiyah adalah Islam yang murni (bersih) secara sempurna dan menyeluruh baik kitab maupun sunnah dari pengaruh-pengaruh endapan peradaban lama dan warisan kelompok-kelompok sesat yang beraneka ragam sesuai dengan pemahaman Salaf yang telah dipuji oleh nash-nash al-Kitab dan As-Sunnah.

Prasangka itu hanyalah rekaan prasangka salah dari suatu kaum yang tidak menyukai kata yang baik dan penuh barokah ini, yang asal kata ini memiliki hubungan erat dengan sejarah umat Islam sampai bertemu generasi awal, sehingga mereka menganggap bahwa kata ini dilahirkan dari gerakan pembaharuan yang dikembangkan oleh Jamaluddin Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh pada masa penjajahan Inggris di Mesir.[2]

Orang yang menyatakan persangkaan ini atau yang menukilkannya tidak mengetahui sejarah kata ini yang bersambung dengan As-Salaf Ash-Shalih secara makna, pecahan kata dan periodisasi. Padahal para ulama terdahulu telah mensifatkan setiap orang yang mengikuti pemahaman para sahabat dalam aqidah dan manhaj dengan Salafi. Seperti ahli sejarah Islam Al-Imam Adz-Dzahaabiy dalam Siyar ‘Alam an-Nubala 16/457 menukil perkataan Ad-Daroquthniy : Tidak ada sesuatu yang paling aku benci melebihi ilmu kalam. Kemudian Adz-Dzahaabiy berkata : Dia tidak masuk sama sekali ke dalam ilmu kalam dan jidal (ilmu debat) dan tidak pula mendalami hal itu, bahkan di adalah seorang Salafi.

[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]
_________
Foote Note.
[1] Lihatlah tulisan Dr. Al-Buthiy dalam kitabnya As-Salafiyah Marhalatun Zamaniyatun Mubarokatun La Madzhabun Islamiyatun, kitab ini lahiriyahnya rahmat tetapimsebaliknya merupakan adzab.
[a] Dia berusaha mencela As-Salaf dalam manhaj ilmiyah mereka dalam talaqiy, pengambilan dalil (istidlal) dan penetapan hukum (istimbath), dengan demikian dia telah menjadikan mereka seperti orang-orang ummiy yang tidak mengerti Al-Kitab kecuali hanya dengan angan-angan.
[b] Dia telah menjadikan manhaj Salaf (As-Salafiyah) fase sejarah yang telah lalu dan hiloang tidak akan kembali ada kecuali kenangan dan angan-angan.
[c] Mengklaim bid’ahnya intisab (penisbatan) kepada salaf, maka dia telah mengingkari satu perkara yang sudah dikenal dan tersebar sepanjang zaman secara turun temurun.
[d] Dia berputar seputar manhaj Salaf dalam rangka membenarkan madzhab khalaf dimana akhirnya dia menetapkan bahwa manhaj khalaf adalah penjaga dari kesesatan hawa nafsu dan menyembunyikan kenyataan-kenyataan sejarah yang membuktikan bahwa manhaj khalaf telah mengantar kepada kerusakan peribadi muslim dan pelecehan manhaj Islam.
[2] Dakwaan-dakwaan ini memiliki beberapa kesalahan :
[a] Gerakan yang dipelopori oleh Jamaludin Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh bukanlah salafiyah akan tetapi dia adalah gerakan aqliyah kholafiyah dimana mereka menjadikan akal sebagai penentu daripada naql (nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah).
[b] Telah muncul penelitian yang banyak seputar hakikat Al-Afghaniy dan pendorong gerakannya yang memberikan syubhat (keraguan) yang banyak seputar sosok ini yang membuat orang yang memperhatikan sejarahnya untuk was-was dan berhati-hati darinya.
[c] Bukti-bukti sejarah telah menegaskan keterlibatan Muhammad Abduh pada gerakan Al-Masuniyah dan dia dianggap tertipu oleh propagandanya dan tidak mengerti hakikat gerakan Masoni tersebut.
[d] Pengkaitan As-Salafiyah dengan gerakan Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh adalah tuduhan jelek terhadapnya walaupun secara tersembunyi dari apa yang telah dituduhkan mereka kepadanya dari keterikatan dan motivasi yang tidak jelas.

Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/456/slash/0

Previous Older Entries Next Newer Entries