Syubhat Seputar Dakwah Tauhid

Dakwah tauhid adalah dakwah yang haq (benar). Tidaklah Alloh Aza wa Jalla mengutus para rosul-Nya kecuali agar mereka mendakwahkan tauhid kepada segenap kaum mereka. Alloh Aza wa Jalla menciptakan kita dan menurunkan kitab-Nya juga karena tauhid, yakni agar umat manusia beribadah dan mengabdi hanya kepada-Nya semata. Oleh sebab itu Tauhid merupakan sesuatu yang sangat penting, pokok dan bahkan paling utama. Sehingga setiap da’i harus mencurahkan perhatian kepadanya sebagaimana pula halnya yang telah ditempuh dan dilakukan oleh para utusan Alloh Aza wa Jalla.  Namun demikian suara sumbang selalu saja bermunculan. Tak jarang kita dengar berbagai macam bentuk alasan dan kerancuan untuk menjatuhkan citra dakwah tauhid ini. Terutama para “da’i politik” yang selalu menitikberatkan dakwah mereka pada kursi kekuasaan. Menurut mereka dengan adanya kekuasaan inilah kita akan kembali jaya dan dapat menerapkan hukum Alloh Aza wa Jalla di muka bumi. Itulah sekelumit dari sekian banyaknya syubhat [kerancuan] yang mereka lontarkan. Mudah-mudahan pada pembahasan kita kali ini dapat menjadi lentera dan pengokoh hati bagi saudara-saudaraku seiman sekaligus sebagai nasehat bagi mereka yang telah menyimpang dari manhaj (metode) para nabi dan rosul –‘alaihimus sholatu wassalam–  Allohul musta’an.

DAKWAH ADALAH IBADAH

Wahai saudaraku, ini sangat penting untuk kita cermati sebelum masuk pada inti pembahasan. Ketahuilah bahwasannya dakwah di jalan Alloh Aza wa Jalla adalah ibadah[1]. Sedangkan ibadah itu tidak akan diterima oleh Alloh Aza wa Jalla kalau tidak terpenuhi syarat-syaratnya, yaitu:

  1. Pelaku dakwah harus muslim bukan orang kafir.
  2. Harus ikhlas karena Alloh Aza wa Jalla (ingin mencari ridho-Nya, menjalankan perintah-Nya, dan ingin mencari pahala serta karena takut siksa-Nya).
  3. Ibadah harus mutaba’ah (mengikuti Nabi Shalallohu ‘alaihi wa salam dan para sahabat). Demikian pula dengan manhaj (metode/cara) berdakwah[2].

Dua syarat yang pertama mungkin sudah banyak yang memenuhinya namun untuk syarat yang ketiga ini tidak sedikit yang lalai darinya, sehingga muncullah berbagai macam metode dakwah baru yang sebanarnya itu tidak diizinkan oleh Alloh Aza wa Jalla. Banyak sekali dalil yang menjelaskan bahwa sarana dakwah adalah tauqifi (terima jadi dari Nabi Shalallohu ‘alaihi wa salam) bukan ijtihadi (hasil kebijakan atau gagasan pendapat seseorang).

Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sungguh telah kutinggalkan kepadamu din yang terang-benderang ini, malamnya seperti siang, tidaklah seorang pun yang berpaling darinya melainkan dia akan celaka.” (HR. Ibnu Majah: 43, dishohihkan Syaikh al-Albani Rahimahulloh dalam Silsilatul Ahadits ash-Shohihah: 937)[3]

Sungguh sangat mustahil apabila Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam telah menjelaskan kepada umatnya adab buang air lalu tidak menjelaskan sarana dan manhaj (metode) dakwah padahal dengan dakwah lah agama Islam akan tegak. Sesungguhnya petunjuk beliau telah menyinari kegelapan, hujjahnya (argumen) kuat tak terbantahkan, dilanjutkan oleh para sahabat dan pengikutnya yang setia. Mereka akan sangat marah bila para da’i menyelisihinya atau mengadakan cara dakwah yang baru. Maka tiada cara untuk mewujudkan masyarakat seperti kehidupan para sahabat dan pengikutnya melainkan dengan manhaj dan cara yang syar’i. Imam Malik Rahimahulloh berkata: “Tidaklah mungkin akan menjadi baik akhir umat ini melainkan dengan hal yang membuat baik para pendahulu mereka”. (Lihat, al-Hujajul Qowiyyah: 54-57)

Berkata Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah Rahimahulloh:  Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam, sahabat, dan para tabi’in  [generasi setelah sahabat] menyeru orang-orang kafir, ahli maksiat dan orang-orang fasik supaya meluruskan tauhid mereka sesuai dengan apa yang disyari’atkan Islam. Alloh Aza wa Jalla telah mencukupkan tata cara berdakwah bagi mereka daripada tata cara bid’ah.” (Majmu’ Fatawa: 11/624)

BAGAIMANA ROSULULLOH Shalallohu ‘alaihi wa salam  BERDAKWAH?

Wahai saudaraku, kalau memang sudah jelas bagi kita bahwa dakwah adalah ibadah yang harus didasarkan kepada petunjuk Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam maka kita harus tahu bagaimanakah sebenarnya manhaj (metode) Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam dalam berdakwah. Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Alloh Aza wa Jalla merohmatimu-, bahwa manhaj Rosululloh n\ dalam berdakwah di jalan Alloh Aza wa Jalla adalah dengan menjadikan tauhid sebagai prioritas utama dalam dakwahnya. Demikian pula halnya dengan para nabi dan rosul –‘alaihimus sholatu wassalam-. Alloh Aza wa Jalla banyak menceritakan kepada kita dalam kitab-Nya, tentang kisah-kisah sebagian rosul, dari Nabi Nuh sampai zaman Nabi Muhammad Shalallohu ‘alaihi wa salam. Mereka, walaupun dalam sisi tempat, masa, keadaan umat yang mereka dakwahi sangat berbeda, serta jauhnya rentang waktu antara para rosul, akan tetapi asas risalah yang disampaikan, titik mula dan pusat perhatian dalam dakwah, sama sekali tidak pernah berubah, baik obyek dakwahnya muslim atau kafir. Semua risalah para rosul adalah tegak untuk mengemban dakwah pengesaaan terhadap Alloh Aza wa Jalla dalam ibadah dan meniadakan sekutu bagi-Nya. ( Lihat, QS. An-Nahl [16]: 36, al-Anbiya’ [21]: 25, al-Bayyinah [98]: 5 )[4]

Sungguh perhatian Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam terhadap masalah tauhid sangatlah besar sampai pun pada detik-detik akhir kehidupan beliau. Diriwayatkan dari sahabat Jundab bin Abdulloh al-Bajaly Radhiallohu anhu, bahwa beliau mendengar nabi Shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda saat 5 hari sebelum wafatnya: “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu menjadikan kuburan-kuburan para nabi dan orang-orang sholih sebagai masjid (tempat ibadah), oleh karena itu jangan sekali-kali kamu menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid. Karena saya melarang yang demikian itu. (HR. Muslim:  532).

Demikian pula sahabat Abu Ubaidah bin Jarroh Radhiallohu anhu, beliau berkata: “Kata terakhir yang disampaikan nabi Shalallohu ‘alaihi wa salam adalah sabdanya: “Dan ketahuilah, bahwasanya sejelek-jelek manusia adalah orang-orang yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid (tempat ibadah).” (HR. Ahmad: 1691, 1694, ath-Thohawi: 4/13, dishohihkan Syaikh al-Albani Rahimahulloh dalam Tahdzir as-Sajid: 23).

Lihatlah wahai saudaraku, betapa besarnya perhatian beliau terhadap tauhid. Mulai dari awal kali beliau berdakwah hingga akhir hayatnya beliau selalu memperhatikan dan mendakwahkan tauhid. Sesungguhnya dakwah tauhid adalah manhaj dakwah para nabi –alaihimus sholatu was salam-. Ia adalah suatu manhaj yang penuh hikmah, bersih dan suci, sekaligus penuh dengan kendala dan ujian, serta jauh dari slogan-slogan yang menyilaukan dan menarik bagi pengikut hawa nafsu dan pencari kedudukan. Oleh karena itu tidak ada yang mengikuti dan beriman kepada mereka [para nabi] kecuali orang-orang yang jujur, ikhlas dan jauh dari segala macam tendensi-tendensi (tujuan) pribadi.

Wahai saudaraku, apabila Alloh Aza wa Jalla adalah Dzat yang paling tahu tentang keadaan para hamba-Nya dan apa saja yang bisa memperbaiki mereka –bagaimanapun keadaannya-, telah memilih manhaj ini untuk semua rosul dan umat mereka, maka tidak diperbolehkan bagi seorang pun untuk merubah agama Alloh Aza wa Jalla dengan memilih jalan hidayah selain jalan ini, untuk dirinya maupun orang lain, dan tidak boleh pula bagi kita untuk keluar dari jalan Alloh Aza wa Jalla dan jalan para Rosul-Nya dalam berdakwah dengan alasan apapun juga.

Lagi