Karomah Wali

Mendengar istilah wali saja kebanyakan orang pasti akan berfikir tentang keanehan dan kedigdayaan yang dimiliki oleh seseorang, apalagi jika orang tersebut bergelar “kiyai” pasti ia akan identik dengan sebutan wali. Dan setiap keanehan yang muncul darinya itulah yang dinamakan dengan karomah. Namun masalahnya, benarkah bahwa setiap kedigdayaan yang muncul dari seorang kyai, atau orang yang bersorban, berjubah bahkan berjenggot sekalipun dinamakan karomah wali? Kalau tidak, lantas bagaimanakah caranya agar kita dapat membedakan antara karomah sejati dengan karomah imitasi alias tipu daya setan? Dan kemudian apakah mencari karomah itu termasuk tujuan syari’at? Untuk menjawabnya maka simaklah ulasan berikut. Allohul Musta’an.  

DEFINISI KAROMAH

Menurut bahasa, lafazh (kata) karomah berasal dari كَرُمَ yang berarti kemuliaan. (al-Mu’jam al-Wasith: 784)

Alloh Aja wa Jalla berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Karomah menurut istilah ialah kejadian luar biasa, tidak untuk melawan dan tidak untuk mengaku nabi. Alloh Aja wa Jalla menampakkan kepada walinya yang beriman untuk menolong urusan din (agama) atau duniawinya. (Syarh Utsul I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah: 9/15, al-Minhatul Ilahiyyah fi Tahdzib Syarh at-Thohawiyyah: 387)

DALIL KAROMAH WALI

Allah Aja wa Jalla berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62)   الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)   لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. ( QS. Yunus [10]: 62-64).

Berkata Syaikh al-Baidhowi Rahimahulloh: “Inilah kabar gembira untuk orang yang bertakwa yang dijelaskan di dalam kitab Alloh Aja wa Jalla dan sunnah Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam. Alloh Aja wa Jalla memperlihatkan kepada mereka berupa impian yang benar serta yang nampak berupa kejadian luar biasa sekaligus kabar gembira saat malaikat mencabut nyawanya. (Lihat, Tafsir Baidhowi: 283).

Dari keterangan di atas maka jelaslah bahwa seorang wali itu memiliki karomah, baik karomah berupa keimanan dan takwa -dan inilah sebaik-baik karomah bagi mereka- dan ada lagi berupa keanehan yang kadangkala menyertai mereka.

Selain daripada itu, ayat atau tanda tersebut juga menunjukkan kepada kita bahwa wali yang sebenarnya adalah mereka yang selalu menurut dan mengikuti segala yang dicintai dan diridhoi Alloh Aja wa Jalla, menjauhi dan membenci serta melarang dari apa yang telah dilarang oleh-Nya[1]. Mereka mendapatkan petunjuk berupa dalil yang jelas dari Alloh Aja wa Jalla, tunduk kepada-Nya serta menegakkan yang al-haq yaitu beribadah, berdakwah dan menolong agama Alloh Aja wa Jalla. Inilah wali yang sebenarnya dan mereka itulah yang disebut sebagai wali Alloh Aja wa Jalla.  Adapun orang yang berpaling dari al-Qur’an mengingkari dan kafir kepadanya sehingga mereka dikeluarkan oleh setan dari kebenaran menuju kebodohan, kesesatan, dan kekafiran maka itulah wali setan. Alloh Aja wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ (36)

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) Maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS. Az-Zukhruf [43]: 36)

Kesaktian dan kejadian luar biasa yang terjadi pada seseorang bukanlah ukuran untuk menentukan karomah dari kewalian. Tetapi harus dilihat ketaatan dan kesesuaiannya dengan ajaran Islam. Imam Syafi’i Rahimahulloh pernah mengatakan: “Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas permukaan air atau melayang di udara maka janganlah terperdaya dengannya hingga kalian cocokkan keadaannya dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.” (Syarh Aqidah Thohawiyyah: 769)

Lagi

Iklan