Soal-Soal di Alam Kubur

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله ، نحمده ، ونستعينه ، ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور

أنفسنا ، ومن سيِّئات أعمالنا ، من يهده الله ؛ فلا مُضِلَّ له ، ومن يضلل ؛ فلا

هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده

ورسوله .

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إلَّا وَأَنتُم مُسْلِمُونَ }

[آل عمران : 102] .

{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا

زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكَمْ رَقِيبًا } [النساء : 11] .

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيماً } [الأحزاب : 70 – 71]

أما بعد، فان أصدق الحديث كتاب الله، وأحسن الهدي هدي محمد، وشر الامور

محدثاتها، وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار

 

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ [١٤:٢٧]

27. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu[1] dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.

 

Jama’ah sidang jum’at اعزني الله و اياكم جميعا

Sesungguhnya suatu yang merupakan kesepakatan semua kaum muslimin bahkan menjadi kesepakatan semua manusia dari berbagai agamanya adalah bahwa kita semua ini pasti akan merasakan yang namanya mati,Alloh ta’ala berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [٢٩:٥٧]

57. tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.

 

Hanya ada sesuatu yang membedakan seorang yang beriman kepada Alloh ta’ala dengan orang-orang kafir dalam permasalahan ini,yaitu seorang yang beriman dia meyakini bahwa ada kehidupan nanti,kehidupan yang abadi  yang hanya ada 2 kemungkinanya boleh jadi manusia itu akan berada di surganya Alloh ta’ala yang penuh dengan kenikmatan atau boleh jadi dia berada dineraka yang penuh dengan azab yang sangat mengerikan yang tidak pernah terbayangkan oleh pikiran manusia.bahkan kita sebagai seorang muslim meyakini akan adanya azab kubur dialam barzah yang merupakan alam awal perpindahan manusia dari kehidupan ini menuju akhirat Alloh ta’ala yang kekal nan abadi.inilah para jama’ah yang dirohmati Alloh ta’ala batas merah yang membedakan seorang yang beriman dengan orang-orang kafir.Rasululloh n pernah bersabda dalam hadist yang shohih diriwayatkan imam bukhori dikitab shohihnya dari sahabat yang mulia bara’ ibni azib a beliau bersabda :

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ قَالَ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي الْقَبْرِ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ فَذَلِكَ قَوْلُهُ [يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ]

Seorang muslim apabilah dia ditanya di dalam kuburnya dia akan bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Alloh q dan bahwasanya nabi Muhammad n adalah Rasul Alloh q yang demikian itu sesuai dengan firman Alloh q Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.disini Alloh ta’ala melalui lisan nabi-NYA bahwa apabila orang telah dikubur dia akan ditanya oleh malaikat yang diutus Alloh ta’ala.menjadi pertanyaan kita apakah pertanyaan yang nanti akan ditanyakan malaikat Alloh ta’ala kepada kita semua ? semua ini adalah perkara ghoib yang hanya Alloh ta’ala yang mengetahuinya kemudian Rasul-NYA melalui wahyu yang wahyukan kepadanya Alloh ta’ala berfirman :

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا [٧٢:٢٦]إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا [٧٢:٢٧]

26. (dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.

27. kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.

 

Oleh karena itu kok kalau ada yang mengetahui perkara ghoib,ketahuilah bahwasanya dia telah berdusta walaupun terkadang ada 1 dari seribu yang mereka sampaikan benar.dan walhamdulillah kita sebagai seorang muslim yang beriman kepada apa2 yang dikabarkan oleh Nabi kita Muhammad n,beliau pernah bersabda yang menceritakan perihal soal2 yang nanti akan ditanyakan oleh malaikat kepada kita semua,Rasululloh n pernah bersabda yang diriwayatkan oleh imam ahmad didalam musnadnya dari sahabat yang mulia bara’ ibni azib dalam hadist yang pajang tetang perjalanan manusia nanti setelah dia kuburkan diantara hadits tersebut Rasululloh n pernah bersabda :

قَالَ: ” فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ، فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ، فَيُجْلِسَانِهِ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللهُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَقُولَانِ لَهُ: وَمَا عِلْمُكَ ؟   فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللهِ، فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ، فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي (1) السَّمَاءِ: أَنْ صَدَقَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ “

Didalam hadits ini dijelaskan bahwa soal-soal yang nanti akan ditanyakan oleh kedua malaikat kepada kita adalah tentang siapakah tuhanmu ? apakah agamu ? siapakah Rasul yang diutus kepadamu ? apakah pengetahuan yang kamu ketahui?

Jadi sudah sepatutnyalah kita mengetahui semua itu sebagai bekal kita nanti Lagi

Syubhat Seputar Dakwah Tauhid

Dakwah tauhid adalah dakwah yang haq (benar). Tidaklah Alloh Aza wa Jalla mengutus para rosul-Nya kecuali agar mereka mendakwahkan tauhid kepada segenap kaum mereka. Alloh Aza wa Jalla menciptakan kita dan menurunkan kitab-Nya juga karena tauhid, yakni agar umat manusia beribadah dan mengabdi hanya kepada-Nya semata. Oleh sebab itu Tauhid merupakan sesuatu yang sangat penting, pokok dan bahkan paling utama. Sehingga setiap da’i harus mencurahkan perhatian kepadanya sebagaimana pula halnya yang telah ditempuh dan dilakukan oleh para utusan Alloh Aza wa Jalla.  Namun demikian suara sumbang selalu saja bermunculan. Tak jarang kita dengar berbagai macam bentuk alasan dan kerancuan untuk menjatuhkan citra dakwah tauhid ini. Terutama para “da’i politik” yang selalu menitikberatkan dakwah mereka pada kursi kekuasaan. Menurut mereka dengan adanya kekuasaan inilah kita akan kembali jaya dan dapat menerapkan hukum Alloh Aza wa Jalla di muka bumi. Itulah sekelumit dari sekian banyaknya syubhat [kerancuan] yang mereka lontarkan. Mudah-mudahan pada pembahasan kita kali ini dapat menjadi lentera dan pengokoh hati bagi saudara-saudaraku seiman sekaligus sebagai nasehat bagi mereka yang telah menyimpang dari manhaj (metode) para nabi dan rosul –‘alaihimus sholatu wassalam–  Allohul musta’an.

DAKWAH ADALAH IBADAH

Wahai saudaraku, ini sangat penting untuk kita cermati sebelum masuk pada inti pembahasan. Ketahuilah bahwasannya dakwah di jalan Alloh Aza wa Jalla adalah ibadah[1]. Sedangkan ibadah itu tidak akan diterima oleh Alloh Aza wa Jalla kalau tidak terpenuhi syarat-syaratnya, yaitu:

  1. Pelaku dakwah harus muslim bukan orang kafir.
  2. Harus ikhlas karena Alloh Aza wa Jalla (ingin mencari ridho-Nya, menjalankan perintah-Nya, dan ingin mencari pahala serta karena takut siksa-Nya).
  3. Ibadah harus mutaba’ah (mengikuti Nabi Shalallohu ‘alaihi wa salam dan para sahabat). Demikian pula dengan manhaj (metode/cara) berdakwah[2].

Dua syarat yang pertama mungkin sudah banyak yang memenuhinya namun untuk syarat yang ketiga ini tidak sedikit yang lalai darinya, sehingga muncullah berbagai macam metode dakwah baru yang sebanarnya itu tidak diizinkan oleh Alloh Aza wa Jalla. Banyak sekali dalil yang menjelaskan bahwa sarana dakwah adalah tauqifi (terima jadi dari Nabi Shalallohu ‘alaihi wa salam) bukan ijtihadi (hasil kebijakan atau gagasan pendapat seseorang).

Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sungguh telah kutinggalkan kepadamu din yang terang-benderang ini, malamnya seperti siang, tidaklah seorang pun yang berpaling darinya melainkan dia akan celaka.” (HR. Ibnu Majah: 43, dishohihkan Syaikh al-Albani Rahimahulloh dalam Silsilatul Ahadits ash-Shohihah: 937)[3]

Sungguh sangat mustahil apabila Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam telah menjelaskan kepada umatnya adab buang air lalu tidak menjelaskan sarana dan manhaj (metode) dakwah padahal dengan dakwah lah agama Islam akan tegak. Sesungguhnya petunjuk beliau telah menyinari kegelapan, hujjahnya (argumen) kuat tak terbantahkan, dilanjutkan oleh para sahabat dan pengikutnya yang setia. Mereka akan sangat marah bila para da’i menyelisihinya atau mengadakan cara dakwah yang baru. Maka tiada cara untuk mewujudkan masyarakat seperti kehidupan para sahabat dan pengikutnya melainkan dengan manhaj dan cara yang syar’i. Imam Malik Rahimahulloh berkata: “Tidaklah mungkin akan menjadi baik akhir umat ini melainkan dengan hal yang membuat baik para pendahulu mereka”. (Lihat, al-Hujajul Qowiyyah: 54-57)

Berkata Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah Rahimahulloh:  Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam, sahabat, dan para tabi’in  [generasi setelah sahabat] menyeru orang-orang kafir, ahli maksiat dan orang-orang fasik supaya meluruskan tauhid mereka sesuai dengan apa yang disyari’atkan Islam. Alloh Aza wa Jalla telah mencukupkan tata cara berdakwah bagi mereka daripada tata cara bid’ah.” (Majmu’ Fatawa: 11/624)

BAGAIMANA ROSULULLOH Shalallohu ‘alaihi wa salam  BERDAKWAH?

Wahai saudaraku, kalau memang sudah jelas bagi kita bahwa dakwah adalah ibadah yang harus didasarkan kepada petunjuk Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam maka kita harus tahu bagaimanakah sebenarnya manhaj (metode) Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam dalam berdakwah. Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Alloh Aza wa Jalla merohmatimu-, bahwa manhaj Rosululloh n\ dalam berdakwah di jalan Alloh Aza wa Jalla adalah dengan menjadikan tauhid sebagai prioritas utama dalam dakwahnya. Demikian pula halnya dengan para nabi dan rosul –‘alaihimus sholatu wassalam-. Alloh Aza wa Jalla banyak menceritakan kepada kita dalam kitab-Nya, tentang kisah-kisah sebagian rosul, dari Nabi Nuh sampai zaman Nabi Muhammad Shalallohu ‘alaihi wa salam. Mereka, walaupun dalam sisi tempat, masa, keadaan umat yang mereka dakwahi sangat berbeda, serta jauhnya rentang waktu antara para rosul, akan tetapi asas risalah yang disampaikan, titik mula dan pusat perhatian dalam dakwah, sama sekali tidak pernah berubah, baik obyek dakwahnya muslim atau kafir. Semua risalah para rosul adalah tegak untuk mengemban dakwah pengesaaan terhadap Alloh Aza wa Jalla dalam ibadah dan meniadakan sekutu bagi-Nya. ( Lihat, QS. An-Nahl [16]: 36, al-Anbiya’ [21]: 25, al-Bayyinah [98]: 5 )[4]

Sungguh perhatian Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wa salam terhadap masalah tauhid sangatlah besar sampai pun pada detik-detik akhir kehidupan beliau. Diriwayatkan dari sahabat Jundab bin Abdulloh al-Bajaly Radhiallohu anhu, bahwa beliau mendengar nabi Shalallohu ‘alaihi wa salam bersabda saat 5 hari sebelum wafatnya: “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dahulu menjadikan kuburan-kuburan para nabi dan orang-orang sholih sebagai masjid (tempat ibadah), oleh karena itu jangan sekali-kali kamu menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid. Karena saya melarang yang demikian itu. (HR. Muslim:  532).

Demikian pula sahabat Abu Ubaidah bin Jarroh Radhiallohu anhu, beliau berkata: “Kata terakhir yang disampaikan nabi Shalallohu ‘alaihi wa salam adalah sabdanya: “Dan ketahuilah, bahwasanya sejelek-jelek manusia adalah orang-orang yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid (tempat ibadah).” (HR. Ahmad: 1691, 1694, ath-Thohawi: 4/13, dishohihkan Syaikh al-Albani Rahimahulloh dalam Tahdzir as-Sajid: 23).

Lihatlah wahai saudaraku, betapa besarnya perhatian beliau terhadap tauhid. Mulai dari awal kali beliau berdakwah hingga akhir hayatnya beliau selalu memperhatikan dan mendakwahkan tauhid. Sesungguhnya dakwah tauhid adalah manhaj dakwah para nabi –alaihimus sholatu was salam-. Ia adalah suatu manhaj yang penuh hikmah, bersih dan suci, sekaligus penuh dengan kendala dan ujian, serta jauh dari slogan-slogan yang menyilaukan dan menarik bagi pengikut hawa nafsu dan pencari kedudukan. Oleh karena itu tidak ada yang mengikuti dan beriman kepada mereka [para nabi] kecuali orang-orang yang jujur, ikhlas dan jauh dari segala macam tendensi-tendensi (tujuan) pribadi.

Wahai saudaraku, apabila Alloh Aza wa Jalla adalah Dzat yang paling tahu tentang keadaan para hamba-Nya dan apa saja yang bisa memperbaiki mereka –bagaimanapun keadaannya-, telah memilih manhaj ini untuk semua rosul dan umat mereka, maka tidak diperbolehkan bagi seorang pun untuk merubah agama Alloh Aza wa Jalla dengan memilih jalan hidayah selain jalan ini, untuk dirinya maupun orang lain, dan tidak boleh pula bagi kita untuk keluar dari jalan Alloh Aza wa Jalla dan jalan para Rosul-Nya dalam berdakwah dengan alasan apapun juga.

Lagi

Salaf dan Salafiyah secara Bahasa bag.2

Istilah ini pun diakui oleh orang-orang terdahulu dan mutaakhirin dari ahli kalam.

Al-Ghazaali berkata dalam kitab Iljaamul Awaam an Ilmil Kalaam hal 62 ketika mendefnisikan kata As-Salaf : Saya maksudkan adalah madzhab sahabat dan tabiin.

Al-Bajuuri berkata dalam kitab Syarah Jauharuttauhid hal. 111 : Yang dimaksud dengan salaf adalah orang-orang yang terdahulu yaitu para Nabi, sahabat, tabi’in dan tabiit-tabiin.

Istilah inipun telah dipakai oleh para ulama pada generasi-generasi yang utama untuk menunjukkan masa shohabat dan manhaj mereka, diantaranya :

[1]. Berkata Imam Bukhari (6/66 Fathul Bariy) : Rasyid bin Sa’ad berkata : Dulu para salaf menyukai kuda jantan, karena dia lebih cepat dan lebih kuat.

Al-Hafidz Ibnu Hajar menafsirkan perkataan Rasyid ini dengan mengatakan : Yaitu dari para sahabat dan orang setelah mereka.

Saya berkata : Yang dimaksud adalah shahabat karena Rasyid bin Saad adalah seorang Tabi’in maka sudah tentu yang dimaksud di sini adalah shahabat.

[2]. Berkata Imam Bukhari (9/552 Fathul Bariy) : Bab As-Salaf tidak pernah menyimpan di rumah atau di perjalanan mereka makanan daging dan yang lainnya.

Saya berkata ; Yang dimaksud adalah shahabat.

[3]. Imam Bukhari berkata (1/342 Fathul Bariy) : Dan Az-Zuhri berkata tentang tulang-tulang bangkai seperti gajah dan yang sejenisnya : Saya menjumpai orang-orang dari kalangan ulama Salaf bersisir dan berminyak dengannya dan mereka tidak mempersoalkan hal itu.

Saya berkata : Yang dimaksud adalah sahabat karena Az-Zuhri adalah seorang tabiin.

[4]. Imam Muslim telah mengeluarkan dalam Muqadimah shahihnya hal.16 dari jalan periwayatan Muhammad bin Abdillah, beliau berkata aku telah mendengar Ali bin Syaqiiq berkata ; Saya telah mendengar Abdullah bin Almubarak berkata – di hadapan manusia banyak- : Tinggalkanlah hadits Amru bin Tsaabit, karena dia mencela salaf.

Saya berkata : Yang dimaksud adalah sahabat.

[5]. Al-Uza’iy berkata : Bersabarlah dirimu di atas sunnah, tetaplah berdiri di tempat kaum tersebut berdiri, katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tinggalkanlah apa yang mereka tinggalkan dan tempuhlah jalannya As-Salaf Ash-Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka [Dikeluarkan oleh Al-Aajury dalam As-Syari’at hal.57]

Saya berkata : Yang dimaksud adalah sahabat. Oleh karena itu, kata As-Salaf telah mengambil makna istilah ini dan tidak lebih dari itu. Adapun dari sisi periodisasi (perkembangan zaman), maka dia dipergunakan untuk menunjukkan generasi terbaik dan yang paling benar untuk dicontoh dan diikuti, yaitu tiga generasi pertama yang telah dipersaksikan dari lisan sebaik-baiknya manusia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka memiliki keutamaan dengan sabdanya.

“Artinya : Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi kemudian datang kaum yang syahadahnya salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului syahadahnya” [Dan dia adalah hadits Mutawatir akan datang Takhrijnya]

Akan tetapi periodisasi ini kurang sempurna untuk membatasi pengertian salaf ketika kita lihat banyak dari kelompok-kelompok sesat telah muncul pada zaman-zaman tersebut, oleh karena itu keberadaan seseorang pada zaman tersebut tidaklah cukup untuk menghukum keberadaannnya di atas manhaj salaf kalau tidak sesuai dengan para sahabat dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah. Oleh karena itu para Ulama mengkaitkan istilah ini dengan As-Salaf Ash-Shalih.

Dengan ini jelaslah bahwa istilah Salaf ketika dipakai tidaklah melihat kepada dahulunya zaman akan tetapi melihat kepada para sahabat Nabi dan yang mengikuti mereka dengan baik. Dan diatas tinjauan inilah dipakai istilah salaf yaitu dipakai untuk orang yang menjaga keselamatan aqidah dan manhaj di atas pemahaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya Radhiyallahu a’nhuma sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan.

Adapun nisbat Salafiyah adalah nisbat kepada Salaf dan ini adalah penisbatan terpuji kepada manhaj yang benar dan bukanlah madzhab baru yang dibuat-buat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa 4/149 : Tidak ada celanya atas orang yang menampakkan manhaj Salaf, menisbatkan kepadanya dan bangga dengannya, bahkan pernyataan itu wajib diterima menurut kesepakatan Ulama, karena madzhab Salaf tidak lain adalah kebenaran itu sendiri.

Sebagian orang dari orang yang mengerti akan tetapi berpaling ketika menyebut Salafiyah, mereka terkadang menyangka bahwa Salafiyah adalah perkembangan baru dari Jama’ah Islamiyah yang baru yang melepaskan diri dari lingkungan Jama’ah Islam yang satu dengan mengambil untuk dirinya satu pengertian yang khusus dari makna nama ini saja sehingga berbeda dengan kaum muslimin yang lainnya dalam masalah hukum, kecenderungan-kecenderungan bahkan dalam tabia’at dan norma-norma etika (akhlak).[1]

Tidaklah demikian itu ada dalam manhaj salafi, karena salafiyah adalah Islam yang murni (bersih) secara sempurna dan menyeluruh baik kitab maupun sunnah dari pengaruh-pengaruh endapan peradaban lama dan warisan kelompok-kelompok sesat yang beraneka ragam sesuai dengan pemahaman Salaf yang telah dipuji oleh nash-nash al-Kitab dan As-Sunnah.

Prasangka itu hanyalah rekaan prasangka salah dari suatu kaum yang tidak menyukai kata yang baik dan penuh barokah ini, yang asal kata ini memiliki hubungan erat dengan sejarah umat Islam sampai bertemu generasi awal, sehingga mereka menganggap bahwa kata ini dilahirkan dari gerakan pembaharuan yang dikembangkan oleh Jamaluddin Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh pada masa penjajahan Inggris di Mesir.[2]

Orang yang menyatakan persangkaan ini atau yang menukilkannya tidak mengetahui sejarah kata ini yang bersambung dengan As-Salaf Ash-Shalih secara makna, pecahan kata dan periodisasi. Padahal para ulama terdahulu telah mensifatkan setiap orang yang mengikuti pemahaman para sahabat dalam aqidah dan manhaj dengan Salafi. Seperti ahli sejarah Islam Al-Imam Adz-Dzahaabiy dalam Siyar ‘Alam an-Nubala 16/457 menukil perkataan Ad-Daroquthniy : Tidak ada sesuatu yang paling aku benci melebihi ilmu kalam. Kemudian Adz-Dzahaabiy berkata : Dia tidak masuk sama sekali ke dalam ilmu kalam dan jidal (ilmu debat) dan tidak pula mendalami hal itu, bahkan di adalah seorang Salafi.

[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]
_________
Foote Note.
[1] Lihatlah tulisan Dr. Al-Buthiy dalam kitabnya As-Salafiyah Marhalatun Zamaniyatun Mubarokatun La Madzhabun Islamiyatun, kitab ini lahiriyahnya rahmat tetapimsebaliknya merupakan adzab.
[a] Dia berusaha mencela As-Salaf dalam manhaj ilmiyah mereka dalam talaqiy, pengambilan dalil (istidlal) dan penetapan hukum (istimbath), dengan demikian dia telah menjadikan mereka seperti orang-orang ummiy yang tidak mengerti Al-Kitab kecuali hanya dengan angan-angan.
[b] Dia telah menjadikan manhaj Salaf (As-Salafiyah) fase sejarah yang telah lalu dan hiloang tidak akan kembali ada kecuali kenangan dan angan-angan.
[c] Mengklaim bid’ahnya intisab (penisbatan) kepada salaf, maka dia telah mengingkari satu perkara yang sudah dikenal dan tersebar sepanjang zaman secara turun temurun.
[d] Dia berputar seputar manhaj Salaf dalam rangka membenarkan madzhab khalaf dimana akhirnya dia menetapkan bahwa manhaj khalaf adalah penjaga dari kesesatan hawa nafsu dan menyembunyikan kenyataan-kenyataan sejarah yang membuktikan bahwa manhaj khalaf telah mengantar kepada kerusakan peribadi muslim dan pelecehan manhaj Islam.
[2] Dakwaan-dakwaan ini memiliki beberapa kesalahan :
[a] Gerakan yang dipelopori oleh Jamaludin Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh bukanlah salafiyah akan tetapi dia adalah gerakan aqliyah kholafiyah dimana mereka menjadikan akal sebagai penentu daripada naql (nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah).
[b] Telah muncul penelitian yang banyak seputar hakikat Al-Afghaniy dan pendorong gerakannya yang memberikan syubhat (keraguan) yang banyak seputar sosok ini yang membuat orang yang memperhatikan sejarahnya untuk was-was dan berhati-hati darinya.
[c] Bukti-bukti sejarah telah menegaskan keterlibatan Muhammad Abduh pada gerakan Al-Masuniyah dan dia dianggap tertipu oleh propagandanya dan tidak mengerti hakikat gerakan Masoni tersebut.
[d] Pengkaitan As-Salafiyah dengan gerakan Al-Afghaniy dan Muhammad Abduh adalah tuduhan jelek terhadapnya walaupun secara tersembunyi dari apa yang telah dituduhkan mereka kepadanya dari keterikatan dan motivasi yang tidak jelas.

Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/456/slash/0

Salaf dan Salafiyah Secara Bahasa

Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly

Saya menginginkan orang yang berjalan di atas manhaj salaf dengan ilmu, dan ini syaratnya :

“قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ [١٢:١٠٨]

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik. [surat Yusuf:108]”
Untuk mengetahui bahwa penunjukkan dan pecahan kata ini mengalahkan ikatan fanatisme kelompok yang merusak dan melampui lorong sempit kerahasiaan karena dia itu sangat jelas seperti jelasnya matahari di siang hari.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ [٤١:٣٣]

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri? [Fussilat:33]”

Kata SALAF secara bahasa bermakna Orang Yang Telah Terdahulu Dalam Ilmu, Iman, Keutamaan Dan Kebaikan.

Berkata Ibnul Mandzur (Lisanul Arab 9/159) : SALAF juga berarti orang-orang yang mendahului kamu dari nenek moyang, orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu dan memiliki umur lebih serta keutamaan yang lebih banyak. Oleh karena itu, generasi pertama dari Tabi’in dinamakan As-Salafush Shalih.

Saya berkata : Dan dengan makna ini adalah perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putrinya Fathimah Radhiyallahu ‘anha.

“Artinya : Sesungguhnya sebaik-baik pendahulu (salaf) bagimu adalah aku”
[Hadits Shahih Riwayat Muslim No. 2450]

Dan diriwayatkan dari beliau Shallallahu ‘alihi wa sallam bahwa beliau berkata kepada putri beliau Zainab Radhiyallahu ‘anha ketika dia meninggal.

“Artinya : Susullah salaf shalih (pendahulu kita yang sholeh) kita Utsman bin Madz’un” [Hadits Shahih Riwayat Ahmad 1/237-238 dan Ibnu Saad dalam Thobaqaat 8/37 dan di shahihkan oleh Ahmad Syakir dalam Syarah Musnad No. 3103, akan tetapi dimasukkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Dhoifh No. 1715]

Adapun secara istilah, maka dia adalah sifat pasti yang khusus untuk para sahabat ketika dimutlakkan dan yang selain mereka diikutsertakan karena mengikuti mereka.

Al-Qalsyaany berkata dalam Tahrirul Maqaalah min Syarhir Risalah (q 36) : As-Salaf Ash-Shalih adalah generasi pertama yang mendalam ilmunya lagi mengikuti petunjuk Rasulullah dan menjaga sunnahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih mereka untuk menegakkan agamaNya dan meridhoi mereka sebagai imam-imam umat. Mereka telah benar-benar berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menghabiskan umurnya untuk memberikan nasihat dan manfaat kepada umat, serta mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoan-Nya.

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji mereka dalam kitabNya dengan firmanNya.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ [٤١:٣٣]

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” [Al-Fath : 29]
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ [٥٩:٨]

(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar [al Hahsr:8].

Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut kaum muhajirin dan Anshor kemudian memuji itiba’ (sikap ikut) kepada mereka dan meridhoi hal tersebut demikian juga orang yang menyusul setelah mereka dan Allah Subahanahu wa Ta’ala mengancam dengan adzab orang yang menyelisihi mereka dan mengikuti jalan selain jalan mereka, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا [٤:١١٥]

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.[an Nisa:115].
Maka merupakan suatu kewajiban mengikuti mereka pada hal-hal yang telah mereka nukilkan dan mencontoh jejak mereka pada hal-hal yang telah mereka amalkan serta memohonkan ampunan bagi mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ [٥٩:١٠]

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”   [al Hasr:10].