Etika Bertetangga



Dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, tetangga merupakan lingkaran kedua setelah rumah tangga, sehingga corak sosial suatu lingkungan masyarakat sangat diwarnai oleh kehidupan pertetanggaan. Pada masyarakat pedesaan, hubungan antar tetangga sangat kental hingga melahirkan norma sosial. Demikian juga pada lapisan masyarakat menengah kebawah dari masyarakat perkotaan, hubungan pertetanggaan masih sekuat masyarakat pedesaan. Hanya pada lapisan menengah keatas, hubungan pertetanggaan agak longgar karena pada umumnya mereka sangat individualistik. Oleh karena itu sebelum memilih tempat tinggal hendaknya lebih dahulu mempertimbangkan siapa yang akan menjadi tetangganya, karena tetangga merupakan faktor utama yang bisa mewarnai keluarga kita. Lingkungan yang agamis sedikit banyak akan membantu membentuk keluarga yang agamis pula, demikian juga sebaiknya. Islam memberikan kontribusi yang cukup besar dalam pembentukan norma-norma sosial hidup bertetangga. Adanya sholat berjamaah di masjid atau mushalla, baik sholat lima waktu, sholat Jum’at maupun sholat Idul Fitri dan Idul Adha yang dikerjakan di tanah lapang cukup efektif dalam membentuk jaringan pertetanggan.
Seorang muslim menyakini bahwa tetangga mempunyai hak-hak atas dirinya, dan etika-etika yang harus dijalankan seseorang terhadap tetangga mereka dengan sempurna. Lantas …. apa yang harus kita perbuat terhadap tetangga kita? Bagaimanakah Islam sebagai agama paripurna memberikan rambu-rambu dalam bertetangga bagi ummatnya?
Siapakah Tetangga Kita?
Ibnu Hajar mengatakan yang dimaksud tetangga dalam hal ini bersifat universal sehingga mencakup muslim maupun kafir, ahli ibadah maupun orang yang fasiq, teman maupun musuh, orang asing maupun penduduk asli, yang bermanfaat bagi kita maupun yang memadhoroti kita. Namun para ulama berselisih tentang batasan tetangga, diantara mereka ada yang mengatakan bahwa orang yang berjamaah sholat subuh bersamamu adalah tetanggamu. Diriwayatkan dari sahabat Ali bin Abi Tholib bahwa yang dinamakan tetangga adalah orang yang mendengar panggilanmu. Sementara itu Ibunda Aisyah mengatakan batasan tetangga adalah 40 rumah dari segala arah. Namun yang rojih adalah dikembailkan pada urf yaitu orang yang tinggal berdekatan dengan rumahmu atau jaraknya dekat dengan rumahmu itulah yang dinamakan tetangga karena tidak ada nash yang shorih yang menjelaskan hal ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin. Para ulama membagi tetangga menjadi tiga bagian, pertama, tetangga muslim yang masih mempunyai hubungan kekeluargaan. Tetangga semacam ini mempunyai tiga hak: sebagai tetangga, hak islam dan hak kekerabatan; kedua, tetangga muslim saja. Tetangga semacam ini mempunyai dua hak: sebagai tetangga dan hak islam; ketiga, tetangga kafir. Tetangga semacam ini hanya mempunyai satu hak, yaitu tetangga saja
Betapa Agungnya Hak Tetangga.
Sebagai agama yang sempurna Islam memberikan porsi yang cukup besar pada tetangga. Hal ini tergambar dalam firman Alloh yang artinya: “Dan sembahlah Alloh dan janganlah engkau menyekutukannya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh…. “(QS.an Nisa'[4]: 36) Bahkan Rosululloh menyangka bahwa seorang tetangga akan menjadi ahli warisnya, sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibunda ‘Aisyah:
مَا زَالَ يُوصِينِى جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سيُوَرِّثهُ
“Senantiasa malaikat Jibril berwasiat kepadakutentang tetangga hingga aku menyangka tetangga itu akan menjadi ahli warisnya”. (HR.Bukhori: 6014 Muslim: 2624) Disamping itu beliau menafikan iman yang sempurna dari orang yang tidak berbuat baik dengan tetangganya. Imam Nawawi berkata: “Hadis-hadis ini menunjukkan akan agungnya hak tetangga dan wasiat terhadap mereka, serta keutamaan berbuat baik terhadapnya”.
Hak-Hak Tetangga.
Tetangga memiliki hak yang cukup besar, yang sepatutnya ditunaikan oleh seorang muslim, diantarnya adalah:
1. Tidak menyakitinya, baik dengan perbuatan maupun perkataan baik menyakiti fisik maupun perasaannya. Dan diantara bentuk perbuatan yang menyakiti tetangga adalah menggunjingnya, mencelanya, dan segala hal yang bisa menyebabkan fisik serta perasaannya terluka. Hal ini dilandasi sabda Nabi yang artinya: “Wahai rosululloh ada seorang wanita yang rajin sholat malam dan puasa di siang hariserta bersodaqoh, akan tetapi dia menyakiti tetangganya dengan lisannya?!” Maka Rosululloh menjawab: “Tidak ada kebaikan padanya, dan ia termasuk penduduk neraka.” (HR.Ahmad 2: 440, Bukhori dalam Adabul Mufrod 119, dishohihkan oleh Al Albani dalam Ash Shohihah 190) Dan diantara perbuatan yang menyakiti tetangga adalah mengambil hartanya tanpa izinnya, memutar radio, tape maupun televisi dengan keras-keras semuanya itu tidak boleh. Bahkan, melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an sekalipun (dengan tape recorder atau membaca sendiri) apabila menyebabkan tetangga terganggu, maka itu termasuk perbuatan menyakiti mereka. Berzina dengan istri tetangga juga termasuk dalam hal ini. Bahkan ini termasuk dosa besar yang apabila seseorang berzina dengan sepuluh wanita itu lebih ringan dosanya daripada berzina dengan tetangganya.
2. Berbuat baik terhadapnya. Hal ini bisa terwujud dengan menolongnya apabila membutuhkan pertolongan kita, menjenguknya apabila ia sakit, berbela sungkawa apabila ia terkena musibah, mengucapkan selamat dan ikut berbahagia apabila ia berbehagia, lemah lembut dalam berkata dan bertingkah laku dengannya, mengucapkan salam padanya, mengarahkannya pada apa yang bisa mengantarkannya pada kebahagiaan dunia dan akhirat, menutupi aibnya, ia tidak terganggu dengan saluran air yang kita buat atau sampah yang kita buang dan lain-lain yang bisa mempererat tali pertetanggaan dengan tanpa melanggar syariat Islam.
3. Bersikap dermawan dengan memberikan kebaikan kepadanya, sebagaimana sabda Nabi yang artinya: “Hai wanita-wanita Muslimah, janganlah seorang tetangga meremehkan tetangganya yang lain, kendati hanya dengan ujung kuku kambing.”(HR Bukhari: 2566 Muslim: 2426).
4. Menghormati dan menghargainya dengan tidak menjual atau menyewakan apa saja yang menyatu dengan tembok maupun tanahnya, dan tidak mendekat ke temboknya hingga ia bermusyawarah dengannya, tidak melarangnya meletakkan kayu di tembok kita apabila ia akan memperbaiki atau memasang atapnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah: “Janganlah salah seorang diantara kalian melarang tetangganya meletakkan kayu di dinding rumahnya.”(HR.Bukhori: 2463 Muslim: 4215)
Siapakah yang lebih diutamakan diantara mereka?
Apabila kita memiliki tetangga yang banyak dan hendak memberi hadiah, maka hendaklah kita mendahulukan tetangga yang paling dekat dengan rumah kita. Al Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hikmah didahulukan yang paling dekat karena mereka melihat setiap apa yang masuk ke dalam rumah tetangganyaberupa hadiah dan selainnya yang menyebabkan mereka selalu mengawasi hal tersebut berbeda dengan tetangga yang jauh, lagi pula tetangga yang dekat lebih cepat responya terhadap apa yang menimpa tetangganya terutama hal-hal yang genting, utamanya ketika mayoritas manusia lalai terhadapnya.
Berlindung Dari Tetangga Yang Jelek
Diantara kebahagiaan seorang muslim adalah apabila mempunyai tetangga yang sholih lagi baik hati. Nasehat-menasehati akan berjalan terus seiring berjalannya waktu. Namun karena semakin jauhnya manusia dari agama yang mulia ini dan keengganan mereka untuk mempelajari agama sering kita jumpai beberapa tetangga yang tidak baik. Oleh karena itu kita diperintahkan bersabar dengan gangguannya dan selalu berdoa sebagaimana yang diamalkan oleh Rosululloh
اللهم إني أعوذ بك من جار السوء في دار المقام فإن جار الدنيا يتحول
artinya: “Ya Alloh aku berlindung kepadamu dari tetangga yang jelek di dunia ini, karena tetangga di dunia akan berganti” (HR.Bukhori dalam Adabul Mufrod: 117 dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam ash Shohihah:1443)
Demikianlah sedikit yang bisa kami bahas pada kali ini semoga bermanfaat dan menjadi bekal kita dalam bermuamalah dengan tetangga. Akhirnya kita memohon kepada Alloh agar senantiasa membimbing kita untuk terus berjalan diatas jalan-Nya yang lurus dan istiqomah diatasnya sebagimana para salaful ummah terdahulu. Aamiin.

1 Komentar (+add yours?)

  1. risalah07
    Apr 10, 2010 @ 07:57:08

    Wa’alaikum Salam
    Semoga Bermamfaat

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Tulisan Terpopuler

%d blogger menyukai ini: