Hukum Mencuri Hak Cipta

Hak Hak Ma’nawiyyah (Hak Cipta)[1]

Pembahasan ini adalah suatu permasalahan yang baru dalam Fiqh Islamy yang sedang dibahas olah “Majami’ Fiqh iyyah” dan juga beberapa ulama’, sampai sampai menjadi tema karya tulis di perguruan tinggi islam. Pembahasan ini menerangkan tentang hukum kepemilikian hak cipta dan pemanfaatannya. Seperti penjualan merek dagang, hak temuan dan pemikiran atau ide, hak tulis dan pencetakan[2], dan lain sebagainya yang berhubungan dengan karya ilmiyyah lainnya.

Hak cipta adalah hak eksklusif Penciptaan atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur penggunaan hasil penuanga gagasan atau atau informasi tertentu.

Pada dasarnya, hak cipta merupakan “hak untuk menyalin suatu ciptaan”. Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi penggandaan dan tidak sabatas suatu ciptaan. Pada umumnya pula hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.[3]

 

HAK HAK MAKNAWIYYAH YANG MENDAPAT PERLINDUNGAN DALAM ISLAM

1.       Hasil pemikiran yang ada sisi penemuannya. Dari sini, maka suatu pemikiran yang mendapatkan perlindungan tidak disyaratkan murni dari suatu penemuan, akan tetapi cukuplah pemikiran tersebut memiliki sisi pembaharuan dan bukan pengulangan dari karya ilmiyyah yang lain.

2.       Pada karya ilmiyyah yang bermanfaat. Karena Islam telah mewajibkan kepada pemeluknya untuk menuntut ilmu, diwaktu yang sama juga menetapkan jenis ilmu yang wajib untuk dicari dan dihasilkan, dan hal itu disyaratkan harus pada ilmu ilmu yang bermanfat. Dan termasuk dari doanya Rosululloh:[4] (اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا)dan Beliau juga memohon perlindungan dari ilmu yang bermanfaat. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh bahwasanya Rosululloh bersabda: [5](اللهم إني أعوذ بك من علم لا ينفع)

Atas dasar ini maka tidak ada tanggung jawab dalam melanggar atau menghilangkan karya tulis ataupun penemuan yang hukumnya haram dan menyelisihi syareat. Imam Syaukani telah menukil dari para ulama’ hukum kitab yang berisi keyakinan yang sesat, dan salinannya yang berada pada manusia semisal kitab ( Fususul Hikam ) dan ( Al Futuhat ) oleh Ibn ‘Arobi, dan kitab  ( Khol’u Na’lain ) oleh Ibn Qisi dan juga syairnya Ibnul Faridh dan yang lainnya. Maka hukum kitab kitab semacam ini adalah hendaknya dimusnahkan dengan cara dibakar dan ditenggelamkan kedalm air.[6]

Untuk itu berkata Ibn Qoyyim : “Begitu juga tidak ada denda dari sebab membakar dan memusnahkan kitab kitab yang menyesatkan. Berkata Al Marudzi: ‘Aku berkata kepada Ahmad: “Saya telah meminjam sebuah kitab yang didalamnya berisi sesuatu yang menyimpang, bagaimana pendapatmu? Apa saya harus membakarnya?. Imam Ahmad menjawab: “Ya, sungguh Nabi melihat sebuah kutipan dari Taurot yang dibawa oleh Umar, karena keheranan Beliau(Umar) kutipan tersebut sesuai dengan Al Quran (pada beberapa permasalahan). Tiba tiba berubahlah wajah Nabi karena marah sehingga pergilah Umar ke sebuah tungku (perapian) dan melemparkan kutipan tersebut kedalamnya.”

Maka semua buku semacam ini tidak bisa ditolerir, bahkan diizinkan oleh syareat untuk dimusnahkan, dan alngkah bahayanya atas umat ini. Sesungguhnya Para Sahabat telah membakar seluruh mushaf yang menyelisihi mushaf Ustman tatkala mereka hawatir akan terjadi perselisihan dalam tubuh umat ini, maka bagaimana jika mereka melihat kitab kitab semacam ini yang menyebabkan perselisihan dan perpecahan pada umat ini. Maka kesimpulannya kitab kitab yang mengandung kedustaan, kebid’ahan, kesesatan, wajib untuk dimusnahkan, dari pada alat alat musik dan bejana bejana khomer. Karena bahayanya labih besar dari pada bahaya yang ada pada mushaf yang menyelisihi mushafnya Utsman.

Lagi

Iklan