Ketika Ajal Menjemputmu !!!

Sebagaimana Engkau Menjalani Hidupmu Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmu…..!!!

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

“Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya” (HR Muslim no 2878)

Berkata Al-Munaawi, أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ “Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang biasa ia jalani dan ia dibangkitkan di atas hal itu” (At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami’ As-Shogiir 2/859)

Para pembaca yang budiman… kita semua tahu bahwasanya kematian datang tiba-tiba…tidak peduli dengan kondisi seorang hamba apakah dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau dalam keadaan sedang bermaksiat…, apakah dalam keadaan sakit ataupun dalam keadaan sehat… semuanya terjadi tiba-tiba…

Seorang penyair berkata :

تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي***  إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ

Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu…

Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari

وَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ *** وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ حِيْناً مِنَ الدَّهْرِ

Betapa banyak orang yang sehat kemudian meninggal tanpa didahului sakit…

Dan betapa banyak orang yang sakit yang masih bisa hidup beberapa lama

فَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا *** وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِِي

Betapa banyak pemuda yang tertawa di pagi dan petang hari

Padahal kafan mereka sedang ditenun dalam keadaan mereka tidak sadar

وَكَمْ مِنْ صِغَارٍ يُرْتَجَى طُوْلُ عُمْرِهِمْ *** وَقَدْ أُدْخِلَتْ أَجْسَامُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ

Betapa banyak anak-anak yang diharapkan panjang umur…

Padahal tubuh mereka telah dimasukkan dalam kegelapan kuburan

وَكَمْ مِنْ عَرُوْسٍ زَيَّنُوْهَا لِزَوْجِهَا *** وَقَدْ قُبِضَتْ أَرْوَاحُهُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ

Betapa banyak mempelai wanita yang dirias untuk dipersembahkan kepada mempelai lelaki…

Padahal ruh mereka telah dicabut tatkala di malam lailatul qodar

Tentunya setiap kita berharap dianugrahi husnul khotimah… ajal menjemput tatkala kita sedang beribadah kepada Allah… tatkala bertaubat kepada Allah…sedang ingat kepada Allah… , akan tetapi betapa banyak orang yang berharap meninggal dalam kondisi husnul khotimah akan tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya…. Suul khootimah… maut menjemputnya tatkala ia sedang bermaksiat kepada Penciptanya dan Pencipta alam semesta ini…

Bagaimana mungkin seseorang meninggal dalam kondisi husnul Khotimah sementara hari-harinya ia penuhi dengan bermaksiat kepada Allah… hari-harinya ia penuhi tanpa menjaga pendengarannya… pandangannya ia umbar… hatinya dipenuhi dengan beragam penyakit hati… lisannya jauh dari berdzikir dan mengingat Allah…

Ingatlah para pembaca yang budiman… sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalankan…

Berikut ini adalah kisah-kisah yang mencoba menggugah hati kita untuk membiasakan diri beramal sholeh sehingga tatkala maut menjemput kitapun dalam keadaan beramal sholeh :

Kisah Pertama: kisah seorang ahli ibadah Abdullah bin Idriis (190-192 H)

عَنْ حُسَيْن الْعَنْقَزِي قَالَ: لَمَّا نَزَلَ بِابْنِ إِدْرِيْسَ الْمَوْتُ بَكَتْ ابْنَتُهُ فَقَالَ: لاَ تَبْكِي يَا بُنَيَّة، فَقَدْ خَتَمْتُ الْقُرْآنَ فِي هَذَا الْبَيْتِ أَرْبَعَةَ آلاَف خَتْمَة

Dari Husain Al-‘Anqozi, ia bertutur :

Ketika kematian mendatangi Abdullah bin Idris, maka putrinya pun menangis, maka Dia pun berkata: “Wahai putriku, jangan menangis! Sungguh, Aku telah mengkhatamkan al Quran dirumah ini 4000 kali” (Lihat Taariikh Al-Islaam karya Ad-Dzahabi 13/250, Ats-Tsabaat ‘inda Al-Mamaat karya Ibnil Jauzi hal 154)

Kisah kedua : Kisah Abu Bakr bin ‘Ayyaasy (193 H)

لما حضرت أبا بكر بن عَيَّاش الوفاةُ بَكَتْ أُخْتُهُ فقال : لاَ تَبْكِ اُنْظُرِي إِلىَ تِلْكَ الزَّاوِيَةِ الَّتِي فِي الْبَيْتِ قَدْ خَتَمَ أَخُوْكَ فِي هَذِهِ الزَّاوِيَةِ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ أَلَف خَتْمَة

Tatkala kematian mendatangi Abu Bakr bin ‘Ayaasy maka saudara perempuannya pun menangis. Maka Abu Bakrpun berkata kepadanya, “Janganlah menangis, lihatlah di pojok rumah ini, sesungguhnya saudara laki-lakimu ini telah mengkhatamkan Al-Qur’an di situ sebanyak 18 ribu kali” (Lihat Hilyatul Auliyaa’ karya Abu Nu’aim 8/304 dan Taariikh Baghdaad 14/383)

Demikianlah para pembaca yang budiman…Ahli ibadah ini Abdullah bin Idris telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 4000 kali… Abu Bakr bin ‘Ayyaasy telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 18 ribu kali…..semuanya demi menghadapi waktu yang sangat kritis ini… waktu untuk meninggalkan dunia ke alam akhirat yang abadi….

Kisah Ketiga : Kisah Aamir bin Abdillah Az-Zubair

Mush’ab bin Abdillah bercerita tentang ‘Aamir bin Abdillah bin Zubair yang dalam keadaan sakit parah :

سمع عامر المؤذن وهو يجود بنفسه فقال: خذوا بيدي إلى المسجد، فقيل: إنك عليل فقال: أسمع داعي الله فلا أجيبه فأخذوا بيده فدخل مع الإمام في صلاة المغرب فركع مع الإمام ركعة ثم مات

‘Aaamir bin Abdillah mendengar muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat maghrib, padahal ia dalam kondisi sakaratul maut pada nafas-nafas terakhir, maka iapun berkata, “Pegang tanganku ke mesjid…!!” merekapun berkata, “Engkau dalam kondisi sakit !” , Diapun berkata,”Aku mendengar muadzin mengumandangkan adzan sedangkan aku tidak menjawab (panggilan)nya? Pegang tanganku…! Maka merekapun memapahnya lalu iapun sholat maghrib bersama Imam berjama’ah, diapun shalat satu rakaat kemudian meninggal dunia. (Lihat Taariikh Al-Islaam 8/142)

Inilah kondisi seorang alim yang senantiasa mengisi kehidupannya dengan beribadah sesegera mungkin… bahkan dalam kondisi sekarat tetap ingin segera bisa sholat berjama’ah…. Bandingkanlah dengan kondisi sebagian kita… yang tatkala dikumadangkan adzan maka hatinya berbisik : “Iqomat masih lama…., entar lagi aja baru ke mesjid…, biasanya juga imamnya telat ko’…, selesaikan dulu pekerjaanmu.. tanggung…”, dan bisikan-bisikan yang lain yang merupakan tiupan yang dihembuskan oleh Iblis dalam hatinya.

Kisah Di masa Sekarang:

Pertama : Kisah Penumpang Kapal Mesir “Salim Express”

Laki-laki ini telah Allah selamatkan dari tenggelam pada kecelakaan kapal, “Salim Express” menceritakan kisah istrinya yang tenggelam dalam perjalanan pulang dari menunaikan ibadah haji. Orang-orang berteriak-teriak “kapal akan tenggelam” maka aku pun berteriak kepada istriku …“ayo cepat keluar!”

Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar sampai aku memakai hijabku dengan sempurna.”

Suaminya pun berkata,” inikah waktu utk memakai hijab??? Cepat keluar! Kita akan mati”.

Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar kecuali jika telah kukenakan hijabku dengan sempurna, seandainya aku mati aku pun akan bertemu Allah dalam keadaan mentaati-Nya”. Maka dia pun memakai hijabnya dan keluar bersama suaminya, maka ketika semuanya hampir tenggelam, dia memegang suaminya dan berkata, “Aku minta engkau bersumpah dengan nama Allah, apakah engkau ridho terhadapku?” Suaminya pun menangis. Sang istripun berkata, ”Aku ingin mendengarnya.” Maka Suaminya Menjawab, “Demi Allah aku ridho terhadapmu.” Maka wanita tersebut pun menangis dan berucap ”Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” senantiasa dia ulangi syahadat tersebut sampai tenggelam.

Suaminya pun menangis dan berkata, “Aku berharap kepada Allah agar mengumpulkan aku dan dia di surga”

Lagi

Kedudukan Amal terhadap Ilmu

وَإِذَا أَصَرَّ عَلَى تَرْكِ مَا أُمِرَ بِهِ مِنْ السُّنَّةِ وَفِعْلِ مَا نُهِيَ عَنْهُ فَقَدْ يُعَاقَبُ بِسَلْبِ فِعْلِ الْوَاجِبَاتِ حَتَّى قَدْ يَصِيرُ فَاسِقًا أَوْ دَاعِيًا إلَى بِدْعَةٍ)   مجموع الفتاوى ( ط: دار الوفاء – تحقيق أنور الباز ) – (22 / (306

  • “Seseorang jika terus meninggalkan sunah yang diperintahkan dan melakukan perkara yang terlarang maka bisa jadi dia dihukum (oleh Allah) dengan meninggalkan hal-hal yang wajib, hingga akhirnya bisa jadi ia menjadi orang fasik atau orang yang menyeru kepada bid’ah.” (Majmu’ Al-Fatawa 22/306)

العلم الذي هو العلم المعتبر شرعا أعني الذي مدح الله ورسوله أهله على الإطلاق هو العلم الباعث على العمل الذي لا يخلي صاحبه جاريا مع هواه كيفما كان بل هو المقيد لصاحبه بمقتضاه الحامل له على قوانينه طوعا أو كره)  الموافقات. ط المعرفة – دراز – (1 / 69)

  • Ilmu yang pemiliknya dipuji oleh Alloh dan Rasul-NYA secara mutlak adalah ilmu yang mengantarkan pelakunya kepada amal (yang membuahkan amal) yang tidak menjadikan pelakunya beramal berdasarkan hawa nafsunya bagaimanapun keadaanya akan tetapi ilmu tersebut adalah penjaga bagi pemiliknya yang dia beramal sesuai dengan aturan-atuaran Alloh pada perkara yang dia senangi ataupun perkara yang dia benci/tidak sukainya.(Al-Muwaafaqaat-imam syatibi 1/69)
  • Pernah ada seseorang yang bertanya (masalah agama) kepada Abu Ad-Darda’, maka Abu Ad-Darda’ berkata kepadanya: “Apakah semua masalah agama yang kau tanyakan kau amalkan?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Maka Abu Ad-Darda’ menimpalinya: “Apa yang engkau lakukan dengan menambah hujjah yang akan menjadi bumerang bagimu?” (Al-Muwaafaqaat 1/82 sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abdil-Bar dalam Al-Jami’ no 1232).

وعن علي يا حملة العلم اعملوا به فإن العالم من علم ثم عمل ووافق علمه عمله وسيكون أقوام يحملون العلم لا يجاوز تراقيهم تخالف سريرتهم علانيتهم ويخالف علمهم عملهم يقعدون حلقا يباهي بعضهم بعضا حتى إن الرجل ليغضب على جليسه أن يجلس إلى غيره ويدعه أولئك لا تصعد أعمالهم تلك إلى الله عز و جل

الموافقات. ط المعرفة – دراز – (1 / 75)

  • Diriwayatkan dari Ali bin Abi tholib dia berkata “wahai pembawa ilmu beramallah dengan ilmu itu sesungguhnya seorang yang alim adalah orang yang mengetauhi kemudian dia beramal,ilmunya bersesuaian dengan amalnya sesungguhnya akan ada suatu kaum yang mereka memiliki ilmu tapi tidak melewati tenggorokan mereka,apa yang mereka sembunyikan berbeda dengan yang mereka tampakan dan ilmu mereka itu tidaklah sesuai dengan amal mereka,mereka duduk-duduk disuatu halqoh saling berbangga-bangga satu sama lainya hingga seorang laki-laki sangat marah kepada teman duduknya jika  dia bermajlis dengan orang lain dan dia meninggalkanya,mereka adalah orang-orang yang amalnya tidak diterima oleh ALLOH Ta’ala.

Penyebab Kerusakan di Bumi

Berkata imam ibnul Qoyyim pada kitab Zadul Maad(4/329)

Barang siapa yang memiliki pengetahuan tentang keadaan alam ini dan juga awal kejadiannya, maka dia akan mengetahui apa yang telah menyebabkan seluruh kerusakan yang terjadi di udara, di darat, di laut dan juga kerusakan yang terjadi pada penghuninya. Dan senantiasa perbuatan anak adam, juga penyalisihan mereka terhadap perintah perintah para utusan telah menyebabkan berbagai kerusalan secara khusus maupun secara umum, yang hal itu akan mendatangkan berbagai jenis penyakit, paceklik, kekeringan dan juga dicabutnya keberkahan hasil bumi yang musibah musibah tersebut datang silih berganti.

Apabila engkau tidak puas dangan pemaparan ini, maka cukuplah bagimu firman Alloh:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [٣٠:٤١]

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Sesungguhnya ayat ini menerangkan tentang perubahan pada alam semesta. Maka samakanlah antara yang terjadi di alam ini dengan ayat tersebut. Setiap kali manusia berbuat dzolim, Alloh taala akan menimpakan berbagai ketimpangan. Entah itu terjadi pada buah buahan, lingkungan hidup, kesehatan mereka juga pada akhlak mereka.

Sungguh dahulu biji biji gandum dan selainnya lebih besar dan lebih bagus dari yang ada sekarang. Demikian juga keberkahannya lebih besar. Imam Ahmad telah meriwayatkan dengan sanadnya, bahwasanya dia mendapati sebuah kantong di gudang penyimpanan hasil bumi milik Bani Umayyah yang didalamnya ada biji gandum sebesar isi kurma.Tertulis pada kantong tersebut “ini adalah yang tumbuh di zaman yang penuh keadilan”.

Dan kebanyakan berbagai macam penyakit dan kerusakan yang menyeluruh adalah sisa sisa dari adzab yang telah Alloh timpakan kepada umat umat terdahulu. Kemudian sisa adzab tersebut akan selalu mengintai dan akan menimpa orang orang yang berbuat seperti perbuatan umat umat terdahulu sebagai balasan yang setimpal dan putusan yang adil.

Dalam hal ini Rosululloh alaihissalam telah mengisyaratkan dengan sabda –Nya pada masalah Tho’un

إنّهُ بَقِيّةُ رِجْزٍ أَوْ عَذَابٍ أُرْسِلَ عَلَى بَنِي إسْرَائِيلَ

Demikian juga Alloh juga telah menimpakan angin kepada suatu kaum tujuh malam delapan hari. Kemudian Alloh menyisakannya, dan pada yang semisalnya terdapat nasehat dan pelajaran.

            Lagi

Karomah Wali

Mendengar istilah wali saja kebanyakan orang pasti akan berfikir tentang keanehan dan kedigdayaan yang dimiliki oleh seseorang, apalagi jika orang tersebut bergelar “kiyai” pasti ia akan identik dengan sebutan wali. Dan setiap keanehan yang muncul darinya itulah yang dinamakan dengan karomah. Namun masalahnya, benarkah bahwa setiap kedigdayaan yang muncul dari seorang kyai, atau orang yang bersorban, berjubah bahkan berjenggot sekalipun dinamakan karomah wali? Kalau tidak, lantas bagaimanakah caranya agar kita dapat membedakan antara karomah sejati dengan karomah imitasi alias tipu daya setan? Dan kemudian apakah mencari karomah itu termasuk tujuan syari’at? Untuk menjawabnya maka simaklah ulasan berikut. Allohul Musta’an.  

DEFINISI KAROMAH

Menurut bahasa, lafazh (kata) karomah berasal dari كَرُمَ yang berarti kemuliaan. (al-Mu’jam al-Wasith: 784)

Alloh Aja wa Jalla berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Karomah menurut istilah ialah kejadian luar biasa, tidak untuk melawan dan tidak untuk mengaku nabi. Alloh Aja wa Jalla menampakkan kepada walinya yang beriman untuk menolong urusan din (agama) atau duniawinya. (Syarh Utsul I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah: 9/15, al-Minhatul Ilahiyyah fi Tahdzib Syarh at-Thohawiyyah: 387)

DALIL KAROMAH WALI

Allah Aja wa Jalla berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62)   الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)   لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. ( QS. Yunus [10]: 62-64).

Berkata Syaikh al-Baidhowi Rahimahulloh: “Inilah kabar gembira untuk orang yang bertakwa yang dijelaskan di dalam kitab Alloh Aja wa Jalla dan sunnah Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam. Alloh Aja wa Jalla memperlihatkan kepada mereka berupa impian yang benar serta yang nampak berupa kejadian luar biasa sekaligus kabar gembira saat malaikat mencabut nyawanya. (Lihat, Tafsir Baidhowi: 283).

Dari keterangan di atas maka jelaslah bahwa seorang wali itu memiliki karomah, baik karomah berupa keimanan dan takwa -dan inilah sebaik-baik karomah bagi mereka- dan ada lagi berupa keanehan yang kadangkala menyertai mereka.

Selain daripada itu, ayat atau tanda tersebut juga menunjukkan kepada kita bahwa wali yang sebenarnya adalah mereka yang selalu menurut dan mengikuti segala yang dicintai dan diridhoi Alloh Aja wa Jalla, menjauhi dan membenci serta melarang dari apa yang telah dilarang oleh-Nya[1]. Mereka mendapatkan petunjuk berupa dalil yang jelas dari Alloh Aja wa Jalla, tunduk kepada-Nya serta menegakkan yang al-haq yaitu beribadah, berdakwah dan menolong agama Alloh Aja wa Jalla. Inilah wali yang sebenarnya dan mereka itulah yang disebut sebagai wali Alloh Aja wa Jalla.  Adapun orang yang berpaling dari al-Qur’an mengingkari dan kafir kepadanya sehingga mereka dikeluarkan oleh setan dari kebenaran menuju kebodohan, kesesatan, dan kekafiran maka itulah wali setan. Alloh Aja wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ (36)

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) Maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS. Az-Zukhruf [43]: 36)

Kesaktian dan kejadian luar biasa yang terjadi pada seseorang bukanlah ukuran untuk menentukan karomah dari kewalian. Tetapi harus dilihat ketaatan dan kesesuaiannya dengan ajaran Islam. Imam Syafi’i Rahimahulloh pernah mengatakan: “Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas permukaan air atau melayang di udara maka janganlah terperdaya dengannya hingga kalian cocokkan keadaannya dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.” (Syarh Aqidah Thohawiyyah: 769)

Lagi

Agar Membaca Al Qur’an Membawa Berkah

Al-Qur’an adalah kitab yang paling agung yang di turunkan oleh Alloh melalui malaikat termulia jibril kepada makhluk termulia yaitu Nabi Muhammad dan kepada umat termulia yang di tampilkan kepada manusia dengan penuturan dan kefasihan bahasa terbaik yaitu bahasa arab yang jelas, menjelaskan segala sesuatu yang berisi petunjuk serta rahmat bagi alam semesta. Sehingga wajib bagi setiap manusia untuk mengamalkannya, yakni mengamalkan hukum-hukumnya dan beradab dengan adab-adabnya. Alloh tidak akan pernah menerima suatu amal yang tidak merujuk kepada al-Qur’an. Dan sungguh Alloh telah menjamin keasliannya sehingga selamat dari revisi (perubahan) baik berupa penambahan maupun pengurangan. Tidak ada seorangpun yang bisa merubah ayat-ayat-Nya walaupun satu huruf melainkan Alloh akan membongkarnya.

Sebagaimana telah ditegaskan dalam al-Qur’an:

“Sesungguhnya kami-lah yang menurunkan al-Quran, dan sesungguhnya kami benar-benar menjaganya[1].

(QS. Al-Hijr [15]: 09)

Syaikh Abdurrohman as-sa’di menuturkan: ”Yaitu Alloh menjaga al-Qur’an ketika diturunkan dan sesudah diturunkan. Adapun ketika al-Qur’an diturunkan Alloh menjaga dari setan yang ingin mencuri secara sembunyi-sembunyi, sedangkan sesudah diturunkan Alloh menjaganya dengan cara menitipkan al-Qur’an kepada Rosululloh kemudian dititipkan ke dalam hati-hati umatnya. Alloh menjaga lafadz-lafadznya dari segala macam bentuk perubahan baik penambahan ataupun pengurangan. Dan tidak akan ada seorangpun yang mampu merubah isi al-Qur’an melainkan Alloh akan mengutus seseorang yang menjelaskan akan kebenarannya. (Lihat Taisir al- Karimir Rohman: 383)

ANJURAN UNTUK MEMBACA AL – QUR’AN

Alloh telah memerintahkan kepada kita semua untuk membaca al-Qur’an dan melakukannya sesuai kemampuan, sebagai bentuk realisasi (perwujudan) dari firman-Nya (artinya) :  “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an)”. (QS. al-Ankabut [29]: 45)

Dan Juga firman-Nya tentang Nabi Muhammad (artinya):

“Dan aku perintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang menyerahkan

diri. Dan supaya aku membaca al-Qur’an (kepada manusia).” (QS. an-Naml [27]: 91-92)

KEUTAMAAN MEMBACA DAN MEMPELAJARI AL QUR’AN

Al-Qur’an adalah kalam (ucapan) Alloh. Ia adalah perkataan yang paling utama dan sarat dengan hukum-hukum. Membacanya merupakan ibadah yang dapat meluluhkan hati dan membuat jiwa menjadi khusyu’ (tenang) serta manfaat-manfaat lainnya yang banyak sekali. Dan barang siapa yang membacanya ikhlas  semata-mata karena Alloh, niscaya dia akan  mendapatkan balasan pahala dari-Nya. Sebagaimana Rosululloh bersabda (artinya):

Barangsiapa membaca satu huruf dari al-Qur’an maka dia mendapat satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR.Tirmidzi: 2910. Dan beliau berkata: hadits ini hasan shohih. Hadits ini juga dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih Al-Jami‘: 5/340)

Setiap muslim harus meyakini akan kesucian kalam Alloh, keagungannya, dan keutamaannya di atas seluruh kalam (ucapan) yang lainnya, yang tidak ada kebatilan dan pertentangan sedikitpun didalamnya. Al-Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhiratnya serta masuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari al-Qur’an. Sebagaimana sabda Rosululloh (artinya):

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori: 2).

Lagi

Kufur Besar Kufur Kecil

Kufur Difinisi Dan Jenisnya

KUFUR DEFINISI DAN JENISNYA

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

[A]. Definisi Kufur
kufur  secara bahasa berarti menutupi.

Sedangkan menurut syara’ kufur   adalah tidak beriman   kepada Allah   dan RasulNYA , baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya.

[B]. Jenis Kufur
Kufur ada dua  jenis : Kufur Besar dan Kufur Kecil

Kufur Besar
Kufur besar bisa mengeluarkan seseorang dari agama Islam.

Kufur besar ada lima  macam :
[1]. Kufur Karena Mendustakan
Dalilnya adalah firman Allah.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ [٢٩:٦٨]

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? ﴿٦٨﴾

[2]. Kufur Karena Enggan dan Sombong, Padahal Membenarkan.
Dalilnya firman Allah.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ [٢:٣٤]

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. ﴿٣٤﴾

[3]. Kufur Karena Ragu
Dalilnya adalah firman Allah.

وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا [١٨:٣٥]

وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا [١٨:٣٦]

قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا [١٨:٣٧]

لَٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا [١٨:٣٨]
“Artinya : Dan ia memasuki kebunnya, sedang ia aniaya terhadap dirinya sendiri ; ia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, niscaya akan kudapati tempat kembali yang baik” Temannya (yang mukmin) berkata kepadanya, ‘Apakah engkau kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian Dia menjadikan kamu seorang laki-laki ? Tapi aku (percaya bahwa) Dialah Allah Rabbku dan aku tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun” [Al-Kahfi : 35-38]

[4]. Kufur Karena Berpaling
Dalilnya adalah firman Allah.

مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ [٤٦:٣]

Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka.

[5]. Kufur Karena Nifaq
Dalilnya adalah firman Allah

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ [٦٣:٣]

Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.

Kufur Kecil
Kufur kecil yaitu kufur yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, dan ia adalah kufur amali.

Kufur amali ialah dosa-dosa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai dosa-dosa  kufur, tetapi tidak mencapai derajat kufur besar. Seperti  kufur nikmat,

sebagaimana yang disebutkan dalam firmanNya.

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ [١٦:٨٣]

Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.
Termasuk juga membunuh orang muslim,

sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi n.
“Artinya : Mencaci orang muslim adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Dan sabda beliau
“Artinya : Janganlah  kalian  sepeninggalku kembali  lagi  menjadi orang-orang  kafir, sebagian  kalian  memenggel  leher  sebagian  yang  lain” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Termasuk  juga  bersumpah dengan  nama  selain  Allah q.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Barangsiapa bersumpah  dengan  nama  selain  Allah,  maka ia telah berbuat kufur  atau  syirik” [At-Tirmidzi dan dihasankannya, serta dishahihkan oleh Al-Hakim]

Yang demikian itu karena Allah tetap menjadikan para pelaku dosa sebagai orang-orang mukmin.

Allah  berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenan dengan orang-orang yang dibunuh” [Al-Baqarah : 178]

Allah tidak mengeluarkan orang yang membunuh dari golongan orang-orang beriman, bahkan  menjadikannya sebagai saudara bagi wali  yang  (berhak melakukan) qishash[1].

Allah  berfirman

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ۗ
“Artinya : Maka barangsiapa mendapat suatu pemaafan dari saudarnya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yangmemberi maaf dengan cara yang baik (pula)” Al-Baqarah : 178]

Yang dimaksud dengan saudara dalam ayat di atas –tanpa diargukan lagi- adalah saudara  seagama,

berdasarkan  firman  Allah.

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ [٤٩:٩]

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ [٤٩:١٠]
“Artinya : Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah, jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya  Allah  q menyukai orang berlaku  adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” [Al- Hujurat : 9-10] [2]

Kesimpulan  Perbedaan  Antara Kufur Besar Dan Kufur Kecil

[1]. Kufur besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menghapuskan (pahala) amalnya, sedangkan kufur kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, juga tidak menghapuskan (pahala)nya sesuai dengan kadar kekufurannya, dan pelakunya tetap dihadapkan dengan ancaman.

[2]. Kufur besar menjadikan pelakunya kekal dalam neraka, sedankan kufur kecil, jika pelakunya masuk neraka maka ia tidak kekal di dalamnya, dan bisa saja Allah memberikan ampunan kepada pelakunya, sehingga ia tiada masuk neraka sama sekali.

[3]. Kufur besar menjadikan halal darah dan  harta pelakunya, sedangkan kufur kecil tidak demikian.

[4]. Kufur besar mengharuskan adanya permusuhan yang sesungguhnya, antara pelakunya dengan orang-orang mukmin. Orang-orang mukmin tidak boleh mencintai dan setia kepadanya, betapun ia adalah keluarga terdekat. Adapun kufur kecil, maka ia tidak melarang secara mutlak adanya kesetiaan, tetapi pelakunya dicintai dan diberi kesetiaan sesuai dengan kadar keimanannya, dan dibenci serta dimusuhi sesuai dengan kemaksiatannya.

Hal yang sama juga dikatakan dalam perbedaan antara pelaku syirik besar dan syirik kecil

[Disalin dari kitab At-Tauhid Lis Shaffitss Tsalis Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tuhid 3, Penulis Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Penerjemah Ainul Harits Arifin Lc, Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note
[1]. Qishash ialah mengambil pembalasan yang  sama. Qishash itu tidak dilakukan bila yang   membunuh mendapat pemaafan dari ahlis waris yang terbunuh yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang  wajar. Pembayaran  diat diminta dengan baik, umpanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaknya membayar dengan baik, umpanya dengan tidak menangguh-nagguhkannya. Bila ahli waris si korban sesudah Allah menjelaskan hukum-hukum ini membunuh yang bukan si pembunuh atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat maka terhadapnya di dunia di ambil qishah dan di akhirat dia mendapat siksa yang pedih,-pent
[2]. Lihat  Syarhhuts Thahawiyah  hal.361, cet. Al-Maktab  Al-Islami.

SIAPA BILANG SUAP HARAM?

Istilah suap akhir-akhir ini mulai ngtren lagi di negeri kita. Akan tetapi yang kita maksud bukanlah memasukkan makanan ke dalam mulut seseorang. Yang  dimaksud dalam pembahasan ini adalah ‘uang sogok atau yang sering di istilahkan dengan uang pelicin.  Seorang wartawan bisa saja tidak memberitakan kasus yang menyangkut masyarakat banyak ketika ia tergoda dengan ‘iming-iming’ (suap) dari pihak yang bersangkutan dengan kasus tersebut.  Seorang penjahat bisa bebas dari jeratan hukum jika ia memberikan sekian juta pada seorang hakim. Itulah sebagian realita yang terjadi di negeri kita. Wahai saudaraku -semoga Alloh merahmati anda- lantas bagaimanakah pandangan islam dalam hal ini? Faktor apa sajakah yang menyebabkan orang berani untuk melakukan suap-menyuap? Kapankah suap-menyuap itu diperbolehkan? Bagaimanakah hukum orang-orang yang tertkait dengan kasus ini? Dalam bahasan kali ini Isnya Alloh anda bisa menemukan jawabannya secara jelas dan terperinci. Semoga bermanfaat.

Pengertian suap

Ibnu al Atsir mengatakan suap (risywah) berarti sesuatu yang bisa mengantarkan seseorang pada keinginannya dengan cara yang di buat-buat(tidak semestinya)(An Nihayah Fi Ghoribil Hadits kar.Ibnu al Atsir 2:546). Al Fayyumi mengatakan dalam Misbah al Munir 1:228) Suap adalah sesuatu yang diberikan seseorang pada seorang hakim atau selainnya supaya ia(hakim) memutuskan hukum baginya atau memenuhi apa yang ia inginkan. Dari beberapa pengertian tersebut kita bisa menarik kesimpulan bahwa Suap adalah  harta yang diperoleh karena terselesaikannya suatu kepentingan manusia (baik untuk memperoleh keuntungan maupun menghindari kemudharatan) yang semestinya harus diselesaikan tanpa imbalan.

Hal-hal yang mendorong orang melakukan suap-menyuap

Sebenarnya banyak sekali  hal-hal yang mendorong seseorang untuk melakukan suap-menyuap, akan tetapi disini akan kami sebutkan beberapa saja diantaranya:

1. Lemahnya Iman dan Taqwa seseorang. Karena keduanya merupakan kunci

utama bagi seseorang untuk mengendalikan hawa nafsunya. Oleh karena itu tidaklah seseorang itu berbuat maksiat kecuali ketika imannya sedang lemah,

sebagaimana sabda nabi:

لاَ يَزْنِى الزَّانِى حِينَ يَزْنِى وَهْوَ مُؤْمِنٌ ، وَلاَ يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهْوَ مُؤْمِنٌ

Artinya:”Tidaklah seorang itu tatkala berzina dalam keadaan beriman secara sempurna, dan tidaklah seorang itu minum khomer tatkala meminumnya dalam keadaan beriman secara smpurna….(HR.Bukhori: 2475)

2. Sifat tamak dan rakus terhadap kenikmatan dunia. Hal ini sangat berpengaruh sekali pada diri seseorang, karena dengan sifat ini seseorang bisa menghalalkan segala macam cara yang penting semua keinginannya bisa terpenuhi.

3. Gila terhadap jabatan dan kehormatan di masyarakat, sehingga ia rela mengorbankan apapun demi mendapatnya.

Hukum suap

Imam al Qurtubi dalam tafsirnya [6:119] mengatakan bahwa tidak ada perbedaan dikalangan para ulama akan keharaman risywah(suap). Bahkan banyak diantara mereka yang menukil ijma akan keharamannya, seperti yang dinukil Imam asy Syaukani dalam Nailul Author 4: 595, Imam ash Shon’ani dalam Subul as Salam :1192, Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman Alu Bassam dalam Taudhih al Ahkam 7:118, dll. Adapun dalil yang menjelaskan akan keharamannya banyak sekali, baik dari al Qur’an maupun as Sunnah. Diantaranya:

  1. Surat al Maidah[5]: 42

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ  لِلسُّحتِ فَإِنْ جَاءُوكَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ

Artinya: Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), Maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka.

Umar bin Khottob, Ibnu Mas’ud dan lainnya mengatakan yang dimaksud السحت adalah risywah atau suap menyuap. (Tafsir al Qurtubi 6: 119) Hal ini juga semakna dengan firman Alloh dalam surat al Baqoroh[2]: 188 yang menjelaskan haramnya memakan harta orang lain dengan cara dholim.

  1. Dari sunnah Rosululloh banyak sekali diantaranya:

عَنْ أبي هريرة قال لَعَنَ رُسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الرَاشِي والمُرْتَََشِي في الحُكْمِ

Artinya: “Rosululloh akan melaknat orang yang menyuap dan yang disuap dalam masalah hukum” (HR.Ahmad 2: 386, Tirmidzi: 1336, Ibnu Hibban: 1196 dan di shohihkan Al Albani dalam al Miskah: 3753)

3. Menyuap merupakan tindakan yang mendholimi(merugikan) orang lain, karena sebenarnya ia tidak berhak akan hal itu. Sedangkan Alloh dan Rosul-Nya dengan tegas telah melarang kita untuk berbuat dholim pada diri sendiri maupun orang lain.

Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman al Bassam mengatakan: “Risywah(suap) termasuk dosa besar karena Rosululloh melaknat orang yang menyuap dan yang mengambil suap sedangkan laknat tidaklah terjadi kecuali pada dosa-dosa besar”.(Taudhihu al Ahkam 7: 119

Siapa sajakah yang akan mendapatkan laknat terkait dengan suap?

Kalau kita cermati, ternyata hadis-hadis Rosululloh itu bukan hanya mengharamkan seseorang memakan harta hasil suap menyuap, akan tetapi beliau juga melarang hal-hal yang bisa menyebabkan terjadinya suap-menyuap. Maka yang diharamkan itu bukan hanya satu perbuatan saja akan tetapi tiga perbuatan sekaligus. Yaitu: pemberi suap, penerima suap serta orang yang menjadi penghubung antara keduanya. Hal ini sesuai denngan sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad yang berbunyi:

لَََََََعَنَ رُسُولُ اللهِ صلى الله عليه و سلم الرَاشِيْ وَالمُرْتَشِيْ وَالرَائِشِِ يَعْنِى الذِّيْ يَِمْشِى بينهِما

Artinya : Rosululloh melaknat orang yang menerima suap dan orang yang memberikan suap dan orang yang menjadi penghubung antara keduanya ” (HR.Ahmad: 22452)

Walaupun hadis ini secara sanad dinilai dhoif oleh para ulama hadis akan tetapi secara makna sesuai dengan larangan tolong menolong dalam perbuatan dosa  sebab tidak mungkin terjadi seseorang memakan harta hasil suap-menyuap kalau tidak ada orang yang menyuapnya. Maka orang yang melakukan suap-menyuap pun juga mendapat laknat. Hal ini dikarenakan dengan sebab perbuatan dan inisiatif dialah maka ada orang yang makan harta dari suap-menyuap. Dan biasanya dalam kasus suap menyuap seperti itu, ada pihak ketiga sebagai perantara yang bisa memuluskan proses terjadinya suap-menyuap. Sehingga ia juga berhak mendapatkan laknat dari Alloh.

Kapan suap-menyuap diperbolehkan?

Ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, sebagian  mengharamkan secara mutlak dan sebagian yang lain memberikan pengecualian. Akan tetapi yang rojih menurut kami -Allohu a’lam- adalah bolehnya melakukan suap menyuap dalam  rangka mengambil hak yang menjadi miliknya. Hak tersebut tidak akan diberikan kepadanya kecuali jika ia harus memberi sejumlah uang padanya. Atau untuk menolak perbuatan dholim yang akan mengancam dirinya dan ia tidak akan terhindar darinya kecuali ia harus memberikan sejumlah uang padanya. Maka dalam kasus seperti ini yang berdosa adalah yang mengambil suap tersebut sedangkan yang memberi tidak berdosa. Hal ini didasarkan pada apa yang diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih bahwasanya ia ditanya apakah risywah (suap) itu diharamkan pada segala sesuatu? Maka ia menjawab: tidak, risywah itu diharamkan jika engkau memberi sesuatu pada orang lain supaya engkau diberi sesuatu yang bukan hakmu atau supaya engkau bebas dari kewajibanmu.adapun jika engkau menyuap dalam rangka membela agamamu, nyawamu atau hartamu maka tidaklah haram. Dan pendapat inilah yang diambil oleh Abu Laits as Samarqondi, begitu juga Ibnu Mas’ud. (tafsir al Qurtubi 6: 120)

Penutup

Wahai saudaraku -yang semoga Alloh senantiasa menunjuki kita pada jalan-Nya yang lurus- kita hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Ingatlah akan kehidupan yang lebih kekal dan abadi. Jadikanlah dunia ini sebagai sawah ladangmu dalam beramal kebaikan demi mencapai kebahagiaan di kehidupan mendatang. Janganlah engkau terpedaya dengan keindahan serta manisnya dunia ini. Jangan biarkan anak-anakmu tumbuh dan berkembang dengan harta yang haram ini. Tinggalkanlah kebiasaan buruk ini(suap-menyuap). Segera bertobatlah pada Sang Ilahi, karena kematian akan menghampirimu sewaktu-waktu. Syukurilah apa yang telah Alloh berikan kepadamu serta tanamkanlah sifat qona’ah(menerima apa adanya) pada diri dan keluargamu. Bersabarlah dengan sedikitnya harta yang engkau miliki. Ingatlah bahwasanya ukuran kemuliaan sesorang itu bukan terletak pada banyaknya harta dan tingginya kedudukan. Akan tetapi orang yang paling mulia disisi Alloh adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian. Allohu a’lam bi ash showab!

Copyright : Buletin Alfurqon©

Menjadi Haji Mabrur

Haji merupakan salah satu rukun di antara rukun-rukun islam yang lima dan ia merupakan rukun yang terakhir menurut kesepakatan para ulama. Haji di wajibkan bagi setiap muslim yang mampu dikota madinah pada tahun ke-6 hijriyah menurut jumhur ulama[1]. Sedangkan menurut Ibnu Qoyyim haji diwajibkan pada tahun ke-9 atau ke-10 Hijriyah[2]. Ibadah yang satu ini mempunyai keutamaan yang sangat berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Apalagi jika hajinya termasuk kategori haji mabrur yang tidak ada balasannya kecuali surga sebagaimana yang diceritakan oleh sahabat yang mulia Abu Huroiroh yang termaktub dalam Shohihain.[3] Oleh karena itu banyak kaum muslimin yang mendambakannya dan bercita-cita untuk menggapai haji mabrur. Namun banyak orang menafsirkan dan menyakini bahwa haji mabrur adalah haji yang ditandai dengan kejadian-kejadian aneh dan luar biasa saat menjalani ibadah tersebut di tanah suci. Kejadian ini lalu direkam sebagai pengalaman ruhani, yang paling berkesan. Bahkan kadang ketika ia sering menangis dan terharu dalam berbagai kesempatan itu juga dianggapnya sebagai tanda dari haji mabrur. Benarkah anggapan tersebut? Saudaraku yang kucintai Insya Alloh pada pembahasan kali ini kita akan membahas seputar haji mabrur dengan harapan semoga kita bisa meraih dan menggapainya sehingga akan tercapai cita-cita yang kita dambakan. Semoga bermanfaat.

Pengertian haji mabrur

Haji secara bahasa berarti menyengaja, dan menurut syara’ adalah menyengaja ziarah ke baitulloh untuk beribadah kepada Alloh Ta’ala dengan menjalankan amalan tertentu yang pernah di contohkan oleh Rosululloh ‘alaihi sholatu wa salam.[4]

Al mabrur berasal dari kata al birru yang artinya sesuatu yang mencakup semua kebaikan. Sehingga jika dikatakan barrohu; ia berbuat baik kapadanya. Dan jika dikatakan barrollohu amalahu artinya Alloh Ta’ala berbuat baik pada amalnya apabila ia menerimanya.[5] Dan ini diperkuat oleh Imam Al Asfahani yang mengatakan haji mabrur adalah haji yang diterima.[6] Sedangkan Imam An Nawawi mengatakan yang lebih shohih dan masyhur haji mabrur adalah yang tidak tercampuri dengan perbuatan dosa.[7]

Kiat-kiat guna menggapai haji mabrur

Untuk meraih dan menggapai sebuah cita-cita itu tidaklah mudah, ia harus mengerjakan sesuatu yang menjadi syarat dan rukunnya selain itu ia juga harus menjauhi hal-hal yang bisa menghalanginya. Demikan juga haji mabrur maka seorang muslim yang bercita-cita bisa meraih predikat haji mabrur maka ia harus memenuhi beberapa persyaratan, di antaranya:

  1. Niat yang ikhlas karena Allah subhana wa ta’ala, bukan karena ingin dipuji orang dan berbangga-bangga dengan gelar haji. Seorang yang tidak ikhlas dalam beramal apapun termasuk haji, Allah akan menolak amal tersebut sekalipun di mata manusia ia nampak begitu agung. Sebagaimana firman Alloh subhana wa ta’ala yang artinya:

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (QS.Al Baiyyinah[98]: 5)

  1. Bersesuaian dan mencocoki sunnah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa salam sebagaimana perintah beliau kepada para sahabatnya.[8] Baik syarat-syaratnya, rukun-rukunnya serta kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan dan larangan yang harus ia jauhi.[9] Selain itu barangsiapa yang beramal tidak berdasarkan perintah dan contoh Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa salam maka amalannya tidak akan diterima. Hal ini berdasarkan sabda Nabi:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا ، فَهْوَ رَدٌّ

Artinya: “Barangsiapa yang beramal (ibadah) yang tidak ada perintah dariku maka amalanya akan tertolak”.(HR.Muslim: 4590)

  1. Berbekal dengan yang halal. Haji yang dibekali dengan harta haram (hasil korupsi, mencuri, menipu dll) pasti tidak diterima. Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa salam pernah berpesan kepada kita: “Sesunguhnya Allah baik dan tidak menerima kecuali yang baik”. Yang di akhir hadits ini Rasulullah menggambarkan seorang musafir, berbaju kusut dan berdebu serta menengadahkan tangannya seraya berdo’a dengan khusu’ akan tetapi pakaian, makanan serta minumannya haram, maka bagaimanakah Allah Ta’ala akan menerima doa tersebut? (HR. Muslim: 1015)
  2. Menjauhi ar rofatsu, al fusuq dan jidal. Atho’ bin Abi Robbah berkata ar rofatsu adalah jimak dan hal-hal yang mengarah kepadanya, bahkan Imam Thowus mengatakan perkataan seseorang pada istrinya “Apabila engakau telah halal (selesai haji) maka aku akan mengumpulimu” ini juga termasuk ar rofats. Sedangkan al fusuq adalah segala macam perbuatan maksiat sebagaimana penafsiran Ibnu Abbas, Mujahid, Atho’, Thowus, Ikrimah, Sa’id bin Jubair dll. Adapun al jidal ada dua penafsiran, pertama, perdebatan tentang waktu haji dan manasiknya seabagaimana perkataan Mujahid. Sedangkan yang kedua, berdebat dan bersengketa dalam semua hal, ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas. Dan kedua model perdebatan ini sama-sama terlarang.[10]

Mabrurkah haji saya?

Sebuah pertanyaan yang sederhana tapi sangat berat untuk menjawabnya dan membutuhkan penelitian yang lebih mendalam. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan barometer untuk mengetahui hajinya seseorang apakah tergolong mabrur atau tidak, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama dalam berbagai kitabnya. Diantaranya apa yang dijelaskan oleh Imam an Nawawi bahwa tanda mabrurnya haji  seseorang adalah keadaannya sekembali dari tanah suci semakin lebih baik bila dibandingkan sebelum berangkatnya kesana.[11] Bila sebelum berangkat sudah baik maka sekembalinya dari sana maka ia akan bertambah baik, dan jika sebelum berangkat kesana masih banyak berbuat maksiat maka disana ia harus bertaubat yang nashuha (dengan sebenarnya) menyesali semua perbuatannya dan berkeinginan untuk tidak mengulanginya dimasa yang akan datang sekembalinya dari tanah suci.[12] Dan keadaan ini berlangsung secara kontinyu (istiqomah) bukan hanya sebulan atau dua bulan selepas kembalinya dari tanah suci. Hal ini diperkuat dengan perintah Alloh untuk selalu berbuat baik pada kedua orang tua (QS.Al Isro’ [19]: 23) Orang-orang yang selalu mentaati Allah Ta’ala dan menjauhi segala yang dilarang disebut al abraar, kelak mereka dihari kiamat akan ditempatkan di surga. (QS.Al Infithor[82]: 13) Mudah-mudahan kita termasuk diantara mereka. Aamiin.

Suatu ketika Syaikh Utsaimin pernah ditanya, apakah ada tanda yang nampak bagi orang yang haji dan umrohnya diterima oleh Alloh? Lantas beliau menjelaskan bahwa memang terkadang ada tanda-tanda bagi orang yang diterima amal sholihnya diantaranya, lapangnya dada, senang dan bahagianya hati serta cahaya pada wajahnya. Para salaf ash sholih menjelaskan bahwa tanda diterimanya amal sholih adalah seseorang diberi taufiq oleh Alloh ta’ala untuk melaksanakan amal sholih yang lainnya sesudah itu, karena taufiq yang Alloh berikan padanya merupakan bukti bahwa amalannya yang pertama diterima dan Alloh menganugerahi amal sholih yang lainnya serta Ia ridho terhadapnya.[13]

Hikmah disyariatkan haji

Sebagai seorang yang beriman kita harus yakin bahwa setiap apa yang diperintahkan atau yang dilarang oleh Alloh dan Rosul-Nya pasti ada hikmah dibalik itu, hanya saja sebaian kita ada yang tahu hikmahnya dan sebagian yang lain ada yang tidak mengetahuinya. Di antara hikmah disyariatkan haji adalah:

  1. Membersihkan jiwa dari pengaruh perbuatan dosa sehingga berhak mendapat kemuliaan dari Alloh. (Lihat HR. Bukhori: 1521, Muslim: 3357)[14]
  2. Akan melahirkan saling ta’aruf (saling mengenal) antar sesama, tolong menolong dalam hal kebaikan, saling menasehati dalam hal kebenaran, meninggikan kalimat Alloh dan masih banyak yang lainnya.[15]

Kesimpulan

Haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Alloh ta’ala. Dan haji yang diterima adalah haji yang terpenuhi syarat, rukun, kewajiban serta meninggalkan segala larangannya sesuai dengan tuntunan Rosululloh. Di antara tanda-tandanya adalah jika orang yang berhaji itu kembali dalam keadaan pengamalan agamanya lebih baik daripada sebelum berangkat, yaitu dia kembali dalam keadaan bertaubat kepada Allah, istiqamah (konsisten) dalam menjalankan ketaatan-ketaatan kepada-Nya, dan terus-menerus dalam kondisi seperti itu. Dengan begitu, hajinya menjadi titik tolak baginya kepada kebaikan, dan selalu menjadi peringatan baginya untuk memeperbaiki jalan hidupnya. Kita memohon kepada Alloh suapaya memberikan taufiq dan hidayahnya kepada saudara-saudara kita yang akan menjalankan ibadah yang mulia ini untuk bisa menjalankannya sesuai dengan tuntunan Nabi-Nya, menjadikan hajinya mabrur, dosa-dosanya diampuni serta memberikan taufiq kepadanya supaya keadaannya lebih baik daripada sebelum berangkat ke tanah suci.

Copyriqht : Buletin Al Furqon


[1] Subul as Salam kar.Imam ash Shon’ani 4: 159

 

[2] Zaad al Ma’ad kar.Ibnu Qoyyim 2: 101

[3] Shohih Bukhori: 1773 dan Shohih Muslim: 1349

[4] Syarh il Mumthi’  7: 5

[5] Taudhihul Ahkam kar. Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman Al Bassam 4: 5

[6] Mufrodat Ghorib al Qur’an 1: 41

[7] Syarah Shohih Muslim 5: 12

[8] Lihat HR.Muslim: 3137

[9] Masalah syarat, rukun, kewajiban haji serta larangan-larangannya bisa dilihat di kitab-kitab fiqh.

[10] Lihat tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir surat al Baqoroh: 197

[11] Syarh Muslim 5: 12

[12] Tabshir al Manasik bi Ahkam al Manasik kar.Syaik Abdul Muhsin bin Hamd

[13] Fatwa ulama balad al Harom kar.Dr.Kholid bin Abdurrohman hal: 949

[14] Minhaj al Muslim kar.Syaikh Abu Bakr bin Jabir al Jazairi hal: 265

[15] Al Majmu’ al Mufid al Mumtaz min kutub al Allamah Ibn Baz hal.110

Menjadi Orang Asing di Dunia

Penulis: Syaikh Shalih bin ‘Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhohulloh
Diterjemahkan dari Penjelasan Hadits Arba’in No. 40. Oleh: Abu Fatah Amrulloh
Murojaah: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir”. Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati” (HR. Bukhori)

Penjelasan
Hadits ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar berisi nasihat nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. Hadits ini dapat menghidupkan hati karena di dalamnya terdapat peringatan untuk menjauhkan diri dari tipuan dunia, masa muda, masa sehat, umur dan sebagainya.

Ibnu Umar berkata: “Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku”, hal ini menunjukkan perhatian yang besar pada beliau, dan saat itu umur beliau masih 12 tahun. Ibnu Umar berkata: “beliau pernah memegang kedua pundakku”. Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau penyeberang jalan”. Jika manusia mau memahami hadits ini maka di dalamnya terkandung wasiat penting yang sesuai dengan realita. Sesungguhnya manusia (Adam –pent) memulai kehidupannya di surga kemudian diturunkan ke bumi ini sebagai cobaan, maka manusia adalah seperti orang asing atau musafir dalam kehidupannya. Kedatangan manusia di dunia (sebagai manusia) adalah seperti datangnya orang asing. Padahal sebenarnya tempat tinggal Adam dan orang yang mengikutinya dalam masalah keimanan, ketakwaan, tauhid dan keikhlasan pada Alloh adalah surga. Sesungguhnya Adam diusir dari surga adalah sebagai cobaan dan balasan atas perbuatan maksiat yang dilakukannya. Jika engkau mau merenungkan hal ini, maka engkau akan berkesimpulan bahwa seorang muslim yang hakiki akan senantiasa mengingatkan nafsunya dan mendidiknya dengan prinsip bahwa sesungguhnya tempat tinggalnya adalah di surga, bukan di dunia ini. Dia berada pada tempat yang penuh cobaan di dunia ini, dia hanya seorang asing atau musafir sebagaimana yang disabdakan oleh Al Musthofa shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Betapa indah perkataan Ibnu Qoyyim rohimahulloh ketika menyebutkan bahwa kerinduan, kecintaan dan harapan seorang muslim kepada surga adalah karena surga merupakan tempat tinggalnya semula. Seorang muslim sekarang adalah tawanan musuh-musuhnya dan diusir dari negeri asalnya karena iblis telah menawan bapak kita, Adam ‘alaihissalam dan dia melihat, apakah dia akan dikembalikan ke tempat asalnya atau tidak. Oleh karena itu, alangkah bagusnya perkataan seorang penyair:

Palingkan hatimu pada apa saja yang kau cintai
Tidaklah kecintaan itu kecuali pada cinta pertamamu
Yaitu Alloh jalla wa ‘ala

Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang ditempati seseorang
Dan selamanya kerinduannya hanya pada tempat tinggalnya yang semula
Yaitu surga

Demikianlah, hal ini menjadikan hati senantiasa bertaubat dan tawadhu kepada Alloh jalla wa ‘ala. Yaitu orang yang hati mereka senantiasa bergantung pada Alloh, baik dalam kecintaan, harapan, rasa cemas, dan ketaatan. Hati mereka pun selalu terkait dengan negeri yang penuh dengan kemuliaan yaitu surga. Mereka mengetahui surga tersebut seakan-akan berada di depan mata mereka. Mereka berada di dunia seperti orang asing atau musafir. Orang yang berada pada kondisi seakan-akan mereka adalah orang asing atau musafir tidak akan merasa senang dengan kondisinya sekarang. Karena orang asing tidak akan merasa senang kecuali setelah berada di tengah-tengah keluarganya. Sedangkan musafir akan senantiasa mempercepat perjalanan agar urusannya segera selesai.

Demikianlah hakikat dunia. Nabi Adam telah menjalani masa hidupnya. Kemudian disusul oleh Nabi Nuh yang hidup selama 1000 tahun dan berdakwah pada kaumnya selama 950 tahun,

“Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun” (QS Al Ankabut: 14)

Kemudian zaman beliau selesai dan telah berlalu. Kemudian ada lagi sebuah kaum yang hidup selama beberapa ratus tahun kemudian zaman mereka berlalu. Kemudian setelah mereka, ada lagi kaum yang hidup selama 100 tahun, 80 tahun, 40 tahun 50 tahun dan seterusnya.

Hakikat mereka adalah seperti orang asing atau musafir. Mereka datang ke dunia kemudian mereka pergi meninggalkannya. Kematian akan menimpa setiap orang. Oleh karena itu setiap orang wajib untuk memberikan perhatian pada dirinya. Musibah terbesar yang menimpa seseorang adalah kelalaian tentang hakikat ini, kelalaian tentang hakikat dunia yang sebenarnya. Jika Alloh memberi nikmat padamu sehingga engkau bisa memahami hakikat dunia ini, bahwa dunia adalah negeri yang asing, negeri yang penuh ujian, negeri tempat berusaha, negeri yang sementara dan tidak kekal, niscaya hatimu akan menjadi sehat. Adapun jika engkau lalai tentang hakikat ini maka kematian dapat menimpa hatimu. Semoga Alloh menyadarkan kita semua dari segala bentuk kelalaian.

Kemudian Ibnu Umar rodhiallohu ‘anhuma melanjutkan dengan berwasiat,

“Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada pagi hari jangan menunggu datangnya sore.”

Lagi

Cinta Dunia Tanda Kehancuran

Wahai kaum muslimin -semoga Alloh Ta’ala memberikan hidayah-Nya kepada kita.Cinta adalah pokok seluruh amalan. Tidaklah seorang itu mengerjakan sesuatu melainkan demi meraih apa yang ia cintai, apakah itu sesuatu yang membawa kemanfaatan baginya atau sesuatu yang bisa menangkal madhorot (bahaya) yang akan menimpanya. Dengan cinta seseorang bisa mencapai kebahagiaan dan dengan cinta pula seseorang akan terjerumus ke dalam lembah kenistaan. Surga yang penuh dengan kenikmatan bisa diraih dengan cinta, demikian juga neraka yang penuh dengan kesengsaraan, orang bisa masuk ke dalamnya disebabkan karena cinta pula. Lantas bagaimanakah jika seseorang lebih mencintai urusan dunia daripada hal-hal yang bisa mengantarkan pada kebahagiaan akhirat yang abadi?. Insya-Alloh Ta’ala pada pembahasan kali ini kita akan membahas masalah tersebut. Semoga bermanfaat.

INDAHNYA DUNIA MENURUT PANDANGAN ISLAM

Dunia bila dilihat dari asal katanya berarti sesuatu yang rendah. Al qur’an sendiri mengatakan di banyak ayatnya bahwa dunia itu hanyalah sekedar senda gurau dan permainan saja. Ia merupakan kehidupan yang fana dan pasti akan berakhir. Alloh Ta’ala berfirman:

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ [٢٩:٦٤]

Artinya: “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main, dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”. ( QS.Al Ankabut [29] : 64 )

Bahkan suatu ketika Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa salam melewati sebuah pasar yang di dalamnya terdapat seekor bangkai kambing yang telinganya putus lantas beliau menawarkannya kepada para sahabatnya dengan harga satu dirham. Akan tetapi para sahabat tidak mau. Kemudian Beliau menawarkan bagaimana kalau secara cuma-cuma (gratis), lagi-lagi para sahabat menolaknya seraya berkata: “Demi Alloh Ta’ala kalau seandainya kambing ini masih hidup maka ia ada cacatnya karena telinganya tersebut, lalu bagaimana jika ia sudah menjadi bangkai dan dalam keadaan seperti itu?”. Maka dengan bijak Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa salam mengarahkan para sahabatnya dengan mengatakan: “Demi Alloh Ta’ala sungguh dunia ini lebih hina daripada seekor kambing ini”. (HR. Muslim).

Walaupun demikian bukan berarti kita harus meninggalkannya seperti orang-orang sufi. Akan tetapi kita memanfaatkannya hanya sekedarnya saja karena dunia ini diciptakan oleh Alloh q hanyalah sebagai sarana untuk menggapai kebahagiaan yang hakiki di akhirat kelak.

CINTA DUNIA ADALAH TABIAT MANUSIA

Di antara sifat manusia yang merupakan bawaan sejak lahir adalah cinta terhadap bapak, ibu, suami, istri, anak, harta yang melimpah, nyaman dan mewahnya kendaraan, banyaknya binatang ternak, serta suksesnya perniagaan dan lain sebagainya. Dan hal ini bisa jadi lumrah lantaran itu semua memang salah satu tabiat manusia sebagaimana firman Alloh Ta’ala:

Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS.al-Imron [3]: 14)

Cinta bawaan ini akan membuahkan kebahagiaan yang berlipat ganda bila pemiliknya tidak mencurahkan semua benih-benih cinta tersebut dalam hatinya hanya melulu kepadanya. Namun ia mencintainya hanya sekedar sarana untuk menggapai keridhoan Robbul ‘Alamin dengan menunaikan segala kewajiban-Nya serta meninggalkan semua hal-hal yang membuat Ia murka.

Lagi

Previous Older Entries