Cara Mempersatukan Umat Tergampang

AWALI PERSATUAN UMAT ISLAM DENGAN MELURUSKAN SHAF![[1]]

Perintah untuk memperbagus lurusnya shaf (barisan)

Dari Abû Hurairoh Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

أَحْسِنُوْا إِقَامَةَ الصُّفُوْفِ فِيْ الصَّلاَةِ

“Perbaguslah lurusnya shaf (barisan) ketika sholat” (HR Ahmad di dalam Musnad-nya dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albânî di dalam Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb : 499)

Bagaimana cara memperbagus lurusnya shaf?

Hadits Jâbir bin Samuroh Radhiyallâhu ‘anhu menjelaskan hal ini. Beliau berkata : “Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam keluar menemui kami dan berkata :

مَالِيْ أَرَاكُمْ رَافِعِي أَيْدِيْكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابَ خَيْلِ شُمُسٍ, أُسْكُنُوا فِيْ الصَّلاَةِ

“Aku tidak pernah melihat kalian mengangkat-angkat tangan kalian, seakan-akan seperti ekor kuda liar saja. Tenanglah kalian di dalam sholat (jangan bergerak).”

Jâbir berkata kembali : kemudian beliau Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam keluar menemui kami (pada lain waktu) dan melihat kami sedang bergerombol, lantas beliau bersabda :

مَالِيْ أَرَاكُمْ عَزِيْنَ

“Aku tidak pernah melihat kalian bergerombol?!”

Jâbir melanjutkan : kemudian beliau Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam keluar menemui kami sembari mengatakan :

أَلاَ تَصُفُّوْنَ كَمَا تَصُفُّ المَلاَئِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا

“Kenapa kalian tidak berbaris sebagaimana para malaikat berbaris di hadapan Rabb mereka?”

Kami berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimanakah berbarisnya Malaikat di hadapan Rabb mereka?”

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam menjawab :

يَتُمُّوْنَ الصُّفُوْفَ الأَوَّلِ وَيَتَرَاصَّوْنَ فِيْ الصَّفِّ

“Mereka menyempurnakan shaf/barisan yang paling awal sembari merapatkan barisannya.” (HR Muslim : 430)

Jadi, memperbagus shaf itu tidak akan terwujud melainkan dengan menyempurnakan dan merapatkan barisannya.

Mari kita amati realita yang ada di hadapan kita, yaitu kebesaran para tentara angkatan darat beserta pasukan dan kekuatannya dari aspek militer, begitu bagus dan teraturnya pola barisan mereka. Anda tidak dapati adanya kebengkokan maupun cela padanya. Jarak satu dengan lainnya teratur rapi, sungguh pemandangan yang sungguh indah.  Coba Anda perhatikan, orang yang mengamatinya, mereka sangat interes dan terkagum-kagum dibuatnya.

Adapun di sekolahan, jangan Anda tanyakan bagaimana perhatian mereka yang begitu besar di dalam masalah meluruskan, merapikan dan mengatur barisan. Bukankah para pemakmur Masjid itu seharusnya adalah orang yang lebih utama di dalam memberikan perhatian di dalam mengatur shaf dan merapatkan barisan, sebagaimana malaikat berbaris di hadapan Rab mereka Subhânahu wa Ta’âlâ?!

Kita tidak akan masuk surga sampai kita meluruskan shaf

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam telah bersumpah, bahwa kita tidaklah dikatakan beriman, dan kita tidak akan bisa masuk surga sampai kita saling mencintai di jalan Alloh Ta’âlâ. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abû Hurairoh Radhiyallâhu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Demi Dzat yang jiwaku berada di genggaman-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidaklah dikatakan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang apabila kalian melakukannya niscaya kalian akan saling mencintai?! Sebarkanlah salam di tengah-tengah kalian.” (HR Muslim : 54)

Kecintaan ini tidak akan mudah jika tanpa merapatkan dan meluruskan shaf. Sebab Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa ketidaklurusan shaf di dalam sholat itu, memicu perselisihan hati.

Kesimpulannya adalah, bahwasanya keimanan, surga, kecintaan dan persatuan, kesemuanya ini tidak akan mudah diraih melainkan dengan meluruskan dan merapatkan shaf.

Lagi

Iklan

Kerjasama Dengan Cara Mudhorobah

Arti Mudorobah : Seseorang yang memberikan hartanya kepada seseorang untuk diperdagangkan.dan hasil dari keuntungannya dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan.[1] adapun jika terjadi kerugian pada perdagangan maka ditanggung oleh pemilik harta saja bukan pada seseorang yang diberi harta tsb.Sedangkan Pengarang kitab al Kanju  Mudorobah sebagai berikut yaitu Kerjasama ada harta pada satu sisi dan ada orang yang berkerja dalam satu sisi yang lain.

Dalil Disyariatkannya kerjasama Mudorobah ini adalah :

Kesepakatan Imam-Imam Mazhab  atas bolehnya akad mudorobah ini yang berdasarkan dari Al Qur’an,Sunnah,Ijma’ dan Qiyas,Jikalau tidak ada padanya Goror (penipuan) dan perdagangan yang tidak jelas kondisinya (Jahalah).

Dalil dari Al Qur’an Alloh Ta’ala berfirman :

{وآخرون يضربون في الأرض يبتغون من فضل الله } [المزمل:20/73]

Artinya : Dan sebagian yang lain berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Alloh.

Al Mudhorib adalah Orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian kerunia Allah. dan juga  Alloh Ta’ala berfirman :

{فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله } [الجمعة:10/62]

Artinya : Dan Apabilah telah ditunaikan sholat maka bertebaranlah dimuka bumi dan carilah sebagian dari karunia Alloh.

Dalil dari Sunnah :

روى ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال: «كان سيدنا العباس بن عبد المطلب إذا دفع المال مضاربة اشترط على صاحبه أن لا يسلك به بحراً، ولا ينزل به وادياً، ولايشتري به دابة ذات كبد رطبة، فإن فعل ذلك ضمن، فبلغ شرطه رسول الله صلّى الله عليه وسلم ، فأجازه»

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas (semoga Alloh meridhoinya) bahwasanya dia berkata: Abbas bin abdul mutholib jika memberikan harta kepada seseorang untuk diperdagangkan dia mensyaratkan agar jangan dibawah melalui laut dan juga lembah,dan jangan dibelikan hewan yang berpenyakit,jika semua hal tsb dilakukan maka harus membayar ganti rugi kemudian syarat tersebut diketahui oleh Rosululloh sholallohu ‘alaihissalam dan beliau membolehkanya.[2]

وروى ابن ماجه عن صهيب رضي الله عنه أن النبي صلّى الله عليه وسلم قال: «ثلاث فيهن البركة: البيع إلى أجل، والمقارضة، وخلط البر بالشعير للبيت لا للبيع»

Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Sahabat Suhaib semoga Alloh meridhoinya bahwasany Nabi sholallohu ‘alaihissalam bersabda : 3 perkara yang ada padanya keberkahan : Jual beli dgn tunda,Mudhorobah,Mencampur Gandum bagus dgn yang Jelek untuk konsumsi sendiri bukan untuk diperjual belikan.[3]

Adapun Ijma’ adalah sebagaimana diriwayatkan dari sebagian besar para sahabat bahwasanya mereka menjadikan harta anak yatim untuk diperdagangkan (sebagai harta Mudhorobah)[4] dan tidak ada satupun penginkaran dari kalangan sahabat maka jadilah perkara ini sebagai Ijma.dan al Imam ibnu Taimiyah menetapkan disyariatkannya Mudhorobah ini dgn Ijma yang bersesuaian dengan dalil.begitu juga imam Malik meriwatkan dikitabnya al Muwatho’ dan juga imam Syafi’i dikitab musnadnya dari Zaid bin Aslam bahwasanya Umar bin Khotob menetapkan mudhorobah kepada kedua anaknya yaitu Ubaidillah dan Abdulloh.

 

HIKMAH DISYARIATKANNYA MUDHOROBAH

Memungkinkan seseorang untuk mengembangkan hartanya dan mudhorobah adalah cara untuk mewujudkan saling tolong menolong diantara sesama,dan menggabungkan kepandaian dan kemahiran/pengalaman untuk menghasilkan suatu hasil yang baik.

 

RUKUN MUDHOROBAH ,LAFADZ DAN JENISNYA

Menurut Mazhab hanafi adalah Izab dan Qobul dengan lafadz yang menunjukan pada aqad tersebut.

Lafadz Izab seperti seseorang mengatakan ambilah harta ini dan perdagangkanlah hasil keuntungan dari rezeki yang diberikan Alloh adalah untuk kita berdua dengan pembagian setengah,seperempat,sepertiga dan seterusnya.

Lafadz Qobul seperti aku terima,aku setuju dan semisalnya.

Dan jika telah sempurna izab dan qobul ini maka berlakulah hukum mudhorobah ini.[5]

Menurut Jumhur ulama adalah ada 2 orang yang saling bersepakat (pemilik harta dan pekerjanya) serta ada sesuatu yang menjadi akadnya ( harta,amal,dan keuntungan) dan Izab Qobul.

Sedangkan menurut Syafiiyah ada 5 : Harta,Amal,Keuntungan,Izab Qobul serta 2 orang yang bersepakat.

 

Lagi