Demontrasi Saat Umar Masuk Islam?

Al Kisah

Singkat cerita, Umar bin Khothob berkata:

”Saat Alloh memberiku hidayah untuk masuk islam, sayapun mengucapkan kalimat La Ilaha Illallohu, tidak ada seorangpun yang lebih saya cintai melebihi Rosululloh. Lalu saya bertanya kepada saudariku: Dimanakah Rosululloh berada ?.” Dia menjawab: Beliau berada di rumah Arqom bin Abil Arqom, dibukit Shofa.”

Sayapun berangkat ke sana, saat itu Hamzah sedang berada bersama para sahabat lainnya, sedang Rosululloh di ruang dalam rumah. Segera saya mengetuk pintu, para sahabat langsung berkumpul, Rosululloh segera keluar seraya bertanya: Kenapa kalian ? Mereka menjawab: “Ada Umar, wahai Rosululloh.” Rosululloh pun keluar dan langsung mencengkram kerah bajuku lalu melepasnya, tiba-tiba saya tidak bisa menguasai diriku dan langsung terduduk. Lalu Rosululloh bersabda: “Tidakkah engkau beriman wahai Umar ?”

Sayapun langsung berkata: Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak di sembah melainkan Alloh, tiada sekutu bagi Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul Nya.” orang-orang yang berada dirumah segera bertakbir dengan suara keras sampai terdengar di Masjidil harom.” Sayapun lalu berkata: Wahai Rosululloh, bukankah kita diatas kebenaran ? baik kita mati ataupun hidup ? Rosululloh menjawab: Ya, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan Nya, kalian berada diatas kebenaran baik kalian mati ataupun hidup.” Maka saya bertanya lagi: “Kalau begitu, kenapa kok sembunyi-sembunyi ? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, engkau harus keluar.” Maka kami keluar dengan dua barisan, satu barisan di pimpin Hamzah dan yang satunya lagi saya pimpin sehingga kami mendatangi Masjid. Orang-orang Quraisy saat melihat saya dan Hamzah merasa mendapakan pukulan berat yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.”

Derajat Kisah Ini

Kisah ini sangat lemah sekali bahkan bisa jadi palsu.

Takhrij Kisah 1

Kisah ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ 1/40 berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Hasan, berkata: “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah berkata: “Telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Sholih berkata: “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Aban dari Ishaq bin Abdulloh dari Aban bin Sholih dari Mujahid dari Ibnu Abbas dari Umar bin Khothob.

Abu Nu’aim juga meriwayatkan kisah ini dalam Dala’ilun Nubuwwah no: 194 dengan sanad yang sama.

Sisi Kelemahan Kisah

Kisah ini lemah dari sisi sanad maupun matan, Adapun dari sisi sanad adalah karena terdapat seorang yang bernama Ishaq bin Abdulloh bin Abi Farwah.

  • Imam An Nasa’i berkata: Dia seorang yang matruk (orang yang ditinggalkan haditsnya)
  • Imam Bukhori berkata: Para ulama’ meninggalkannya
  • Imam Baihaqi berkata: Dia matruk
  • Imam Yahya bin Ma’in berkata: Dia pendusta
  • Imam Ibnu Hibban berkata: Dia membolak-balikkan sanad, memarfukkan hadits mursal, dan Imam Ahmad melarang meriwayatkan haditsnya.

Dan keterangan yang senada dengan ini datang dari para ulama’ lainnya (Lihat Tahdzibul Kamal Al Mizzi 2/57/362, Adh Dhu’afa’ wal Matrukin oleh An Nasa’i no: 50, Adh Dhu’afa’ Al Kabir oleh Al Bukhori no: 20, Adh Dhu’afa’ wal Matrukin oleh Al Baihaqi no: 94, Al Majruhin oleh Ibnu Hibban 1/131, Al Jarh wat Ta’dil oleh Ibnu Abi Hatim no: 792, Al Kamil oleh Ibnu Adi 1/326 dan lainnya)

Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz menjelaskan bahwa kisah ini lemah karena bersumber dari Ishaq bin Abdulloh bin Abi Farwah, sedangkan dia adalah rowi yang lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah. Seandainya kisah ini shohih, maka harus difahami bahwa kejadian ini di awal masa Islam yakni sebelum sempurnanya syari’at. (Lihat Majmu’ Fatawa wal Maqolat 8/257)

Kelemahan Kisah dari Sisi Matan

Kisah ini bertentangan dengan beberapa riwayat shohih yang menceritakan tentang kisah masuk islamnya Umar, diantaranya:

Imam Bukhori dalam Shohih beliau no: 3865 pada bab: “Islamnya Umar bin Khothob” meriwayatkan dari Abdulloh bin Umar berkata:

“Tatkala Umar masuk islam, maka orang-orang berkumpul di rumahnya seraya berkata: “Umar telah keluar dari agama nenek moyangnya.” Mereka katakan itu sedang saat itu saya masih kecil yang sedang berada diatas loteng rumah. Tiba-tiba datanglah seseorang yang memakai kain sutra lalu berkata: “Apakah yang kalian katakan ini ? padahal saya adalah tetangganya.” Akhirnya orang-orang tersebut pun bubar. Saya bertanya: Siapa ia ? mereka menjawab: “Dia al Ash bin Wa’il.”

Imam Ibnu Katsir dalam Bidayah Wan Nihayah 3/81 meriwayatkan kisah masuk islamnya Umar, beliau berkata: Berkata Ibnu Ishaq:

Telah menceritakan kepadaku Nafi’ maula Ibnu Umar dari Ibnu Umar berkata: “Tatkala Umar masuk islam, maka beliau bertanya: Siapa orang Quraisy yang paling bisa untuk menyebarkan berita ? Ada yang menjawab: Dia Jamil bin Ma’mar al Jumahi.” Maka Umar pun berangkat kepadanya.” Sesampainya disana, maka Umar berkata: “Saya beritahukan kepadamu wahai Jamil, bahwa saya telah memeluk agama islam dan saya telah masuk dalam agamanya Muhammad.”

Segera Jamil berdiri menyeret bajunya ke Masjidil Harom, Umar pun mengikutinya dan saya juga ikut. Saat iu orang-orang Quraisy sedang berada di tempat berkumpul mereka, maka jamil berteriak sekerasnya: “Ketahuilah bahwa Umar bin Khothob telah murtad dari agama nenek moyang.” Maka dibelakangnya Umar berkata: “Dia berdusta, yang benar saya telah memeluk agama islam, saya bersaksi bahwa tiada Illah yang berhak disembah melankan Alloh dan Muhammad adalah utusan Nya.” Spontan orang-orang Qurasiy menyerangnya dan dia juga menyerang mereka, Mereka berhasil mengalahkan Umar. Saat itu tiba-tiba datanglah seorang lak-laki lalu berkata: Ada apa dengan kalian ? mereka menjawab: “Umar telah murtad dari agama nenek moyangnya.” Dia berkata: Berhentilah kalian, dia hanya memilih sesuatu untuk dirinya sendiri, lalu apa yang kalian inginkan ? apakah kalian menyangka bahwa bani ‘Adi (kabilahnya Umar-pent) akan membiarkan Umar untuk kalian ? bebaskan dia.”

Segera orang-orang Quraisy tersebut bubar dan membebaskannya.

Lagi

Iklan

Pelajaran Dari Perang Uhud

Kisah adalah salah satu media yang sangat penting dan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap orang yang mempelajarinya. Oleh karena itu Alloh Aza wa jalla   memerintahkan kepada Nabi Muhammad  Shalallohu ‘alaihi wasalam untuk menceritakan kisah-kisah yang bermanfaat kepada umatnya agar bisa di ambil ibroh\pelajaran darinya. Sebagaimana firman-Nya (artinya):

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ [٧:١٧٦]

“……..Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”.

(QS. Al-a’rof  [07]: 176).

Kemudian daripada itu, sebaik-baik kisah adalah kisah yang di sebutkan dalam al-Qur’an dan as-sunnah, sehingga orang yang mempelajari kisah-kisah tersebut, hatinya akan terterangi dengan cahaya iman, motivasi untuk beramal sholeh akan tergali, semangat untuk beribadah terpompa kembali. Oleh karena itu, pada edisi kali ini kami pusatkan pembahasan kita pada kisah perang uhud dan ibroh dari kisah tersebut.

SEKILAS KISAH PERANG UHUD

Sejak terjadinya perang badar, pihak Quraisy sudah tidak pernah tenang lagi. Apalagi tatkala kesatuan kaum muslimin yang di pimpin oleh  Zaid bin Haritsah telah berhasil mengambil perdagangan mereka ketika mereka hendak pergi ke Syam melalui jalan Irak. Hal ini mengingatkan mereka pada korban-korban badar dan semakin menambah besar keinginan mereka untuk membalas dendam. Bagaimana Quraisy akan dapat melupakan peristiwa itu, sedang mereka adalah bangsawan-bangsawan dan pemimpin-pemimpin makkah yang angkuh dan punya kedudukan terhormat ?. Bagaimana mereka akan dapat melupakan kejadian perang badar, yang mana mereka saat itu merasa terhinakan dan mereka menyimpan dendam kepada kaum muslimin. Demikianlah keadaannya sebelum terjadinya perang uhud. Tak lama kemudian kaum quroisy menggalang kekuatan besar untuk menyerang kaum muslimin. Bagi mereka, keberadaan kaum muslimin adalah duri yang harus disingkirkan. Apalagi saat itu kaum muslimin berada di kota madinah yang merupakan jalur perdagangan Makkah-Syam. Sehingga orang-orang quroisy merasa sesak dada melihat keberadaan mereka. Maka Abu Sufyan menggalang kekuatan 3.000 orang, termasuk 100 orang asal Thaqif. Sekitar 700 orang diantaranya mengenakan baju besi, dan mengerahkan 200 orang pasukan berkuda dan Sebanyak 3.000 unta mendukung serangan itu. Semua itu di kerahkan untuk menyerbu kaum muslimin yang ada di kota madinah. Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam dan masyarakat muslim tak tahu rencana itu. Sampai kemudian Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam menerima surat dari pamannya yang masih kafir, Abbas bin Abdul Muthalib, yang membocorkan rencana tersebut. Orang dari Ghifar yang menjadi kurir (utusan) Abbas menemui Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam di masjid quba’. Ubay bin Ka’ab diminta Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam untuk membacakan surat itu. Kemudian Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam memerintahkan Anas dan Mu’nits anak Fudhola untuk menyelidiki keadaan orang-orang quroisy, lalu keduanya melaporkan bahwa musuh telah berada di sekitar gunung uhud. Setelah itu kaum muslimin mengadakan musyawarah. Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam cenderung untuk bertahan di kota madinah. Demikian pula para orang-orang tua asli madinah, apalagi orang-orang Yahudi yang di ketuai oleh Abdulloh bin Ubay. Namun para anak muda terutama yang tidak ikut perang badar mendesak agar mereka menyongsong musuh dengan berperang di luar kota madinah. Suara terbanyak menghendaki itu. Rosul pun mengalah dengan pendapat tersebut.

BERANGKAT  PERANG

Hari itu hari Jum’at. Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam mengimami sholat Jum’at, kemudian kembali ke kamarnya. Abu Bakar dan Umar  Radhiallohu ‘anhu menyusul masuk, membantu Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam mengenakan sorban dan baju besinya. Ia memimpin sendiri pasukannya yang berkekuatan 700-an orang yang asalnya 1000 orang kemudian yang 300 orang kembali ke madinah. Mereka segera menuju bukit Uhud. Sebanyak 50 orang ditugasi Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam untuk menjadi pemanah. Mereka harus menempati posisi di lereng bukit, tanpa boleh pergi, kecuali diperintahkan oleh Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam. Ketika sampai di Syaikhon  Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam berhenti. Dilihatnya di tempat itu ada sepasukan tentara yang identitasnya belum dikenal. Ketika ditanyakan, kemudian diperoleh keterangan, bahwa mereka itu orang-orang Yahudi sekutu Abdullah bin Ubay. Lalu kata Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam: ” Jangan minta pertolongan orang-orang musyrik dalam melawan orang musyrik, sebelum mereka masuk Islam.”

Kedua belah pihak sudah siap bertempur. Masing-masing sudah mengerahkan pasukannya. Perangpun lalu pecah. Di saat kaum muslimin mendekati titik kemenangan, sampai-sampai kaum muslimin saat itu mengejar musuh hingga mereka meletakkan senjata dimana saja. Akan tetapi kaum muslimin tidak pikir panjang mulai memperebutkan rampasan perang. Alangkah banyaknya jumlah rampasan perang itu! Hal ini membuat mereka lupa mengikuti terus jejak musuh, karena sudah mengharapkan kekayaan duniawi. Mereka ini ternyata dilihat oleh pasukan pemanah yang oleh Rosul Shalallohu ‘alaihi wasalam diminta jangan meninggalkan tempat di gunung itu, sekalipun mereka melihat kawan-kawannya diserang. Dengan tak dapat menahan air liur melihat rampasan perang itu, akhirnya mereka ikut-ikutan memperebutkan harta ghonimah, tidak menghiraukan pesan Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam dan melanggar perintah beliau yang telah di sampaikan  untuk tetap di atas gunung bagaimanapun keadaannya. Di saat kaum muslimin sibuk memperebutkan harta ghonimah. Pada waktu itulah Kholid bin Walid (sebelum masuk islam, red) sebagai komandan utama mengambil kesempatan ini dengan mengerahkan pasukannya ke tempat yang semula dikuasai oleh pasukan pemanah kaum muslimin tersebut. Tindakan ini tidak disadari oleh pihak Muslimin. Tiba-tiba Kholid bin Walid berseru sekuat-kuatnya, dan sekaligus pihak Quroisy pun mengerti, bahwa ia telah mampu membalikkan anak buahnya ke belakang tentara Muslimin. Mereka yang tadinya sudah terpukul mundur sekarang kembali lagi maju dan mendera pasukan kaum Muslimin dengan pukulan maut yang hebat sekali. Di sinilah giliran bencana itu berbalik. Setiap Muslim telah melemparkan kembali hasil renggutan yang sudah ada di tangan itu, dan kembali pula mereka mencabut pedang hendak bertempur lagi. Tetapi sayang, sayang sekali! Barisan sudah centang-perenang, persatuan sudah pecah-belah, pahlawan-pahlawan teladan dari kalangan Muslimin telah dihantam oleh pihak Quroisy. Mereka yang tadinya berjuang dengan perintah Alloh Aza wa jalla hendak mempertahankan iman, sekarang berjuang hendak menyelamatkan diri dari cengkraman maut, dari lembah kehinaan. Hingga akhirnya kaum muslimin mendapat kekalahan.” ( Di ringkas dari kitab Fathu bari: 7/431-435 dan Siroh Nabawiyah Oleh Ibnu Hisyam: 23-92 ).

Lagi