Pelajaran Dari Perang Uhud


Kisah adalah salah satu media yang sangat penting dan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap orang yang mempelajarinya. Oleh karena itu Alloh Aza wa jalla   memerintahkan kepada Nabi Muhammad  Shalallohu ‘alaihi wasalam untuk menceritakan kisah-kisah yang bermanfaat kepada umatnya agar bisa di ambil ibroh\pelajaran darinya. Sebagaimana firman-Nya (artinya):

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ [٧:١٧٦]

“……..Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir”.

(QS. Al-a’rof  [07]: 176).

Kemudian daripada itu, sebaik-baik kisah adalah kisah yang di sebutkan dalam al-Qur’an dan as-sunnah, sehingga orang yang mempelajari kisah-kisah tersebut, hatinya akan terterangi dengan cahaya iman, motivasi untuk beramal sholeh akan tergali, semangat untuk beribadah terpompa kembali. Oleh karena itu, pada edisi kali ini kami pusatkan pembahasan kita pada kisah perang uhud dan ibroh dari kisah tersebut.

SEKILAS KISAH PERANG UHUD

Sejak terjadinya perang badar, pihak Quraisy sudah tidak pernah tenang lagi. Apalagi tatkala kesatuan kaum muslimin yang di pimpin oleh  Zaid bin Haritsah telah berhasil mengambil perdagangan mereka ketika mereka hendak pergi ke Syam melalui jalan Irak. Hal ini mengingatkan mereka pada korban-korban badar dan semakin menambah besar keinginan mereka untuk membalas dendam. Bagaimana Quraisy akan dapat melupakan peristiwa itu, sedang mereka adalah bangsawan-bangsawan dan pemimpin-pemimpin makkah yang angkuh dan punya kedudukan terhormat ?. Bagaimana mereka akan dapat melupakan kejadian perang badar, yang mana mereka saat itu merasa terhinakan dan mereka menyimpan dendam kepada kaum muslimin. Demikianlah keadaannya sebelum terjadinya perang uhud. Tak lama kemudian kaum quroisy menggalang kekuatan besar untuk menyerang kaum muslimin. Bagi mereka, keberadaan kaum muslimin adalah duri yang harus disingkirkan. Apalagi saat itu kaum muslimin berada di kota madinah yang merupakan jalur perdagangan Makkah-Syam. Sehingga orang-orang quroisy merasa sesak dada melihat keberadaan mereka. Maka Abu Sufyan menggalang kekuatan 3.000 orang, termasuk 100 orang asal Thaqif. Sekitar 700 orang diantaranya mengenakan baju besi, dan mengerahkan 200 orang pasukan berkuda dan Sebanyak 3.000 unta mendukung serangan itu. Semua itu di kerahkan untuk menyerbu kaum muslimin yang ada di kota madinah. Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam dan masyarakat muslim tak tahu rencana itu. Sampai kemudian Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam menerima surat dari pamannya yang masih kafir, Abbas bin Abdul Muthalib, yang membocorkan rencana tersebut. Orang dari Ghifar yang menjadi kurir (utusan) Abbas menemui Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam di masjid quba’. Ubay bin Ka’ab diminta Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam untuk membacakan surat itu. Kemudian Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam memerintahkan Anas dan Mu’nits anak Fudhola untuk menyelidiki keadaan orang-orang quroisy, lalu keduanya melaporkan bahwa musuh telah berada di sekitar gunung uhud. Setelah itu kaum muslimin mengadakan musyawarah. Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam cenderung untuk bertahan di kota madinah. Demikian pula para orang-orang tua asli madinah, apalagi orang-orang Yahudi yang di ketuai oleh Abdulloh bin Ubay. Namun para anak muda terutama yang tidak ikut perang badar mendesak agar mereka menyongsong musuh dengan berperang di luar kota madinah. Suara terbanyak menghendaki itu. Rosul pun mengalah dengan pendapat tersebut.

BERANGKAT  PERANG

Hari itu hari Jum’at. Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam mengimami sholat Jum’at, kemudian kembali ke kamarnya. Abu Bakar dan Umar  Radhiallohu ‘anhu menyusul masuk, membantu Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam mengenakan sorban dan baju besinya. Ia memimpin sendiri pasukannya yang berkekuatan 700-an orang yang asalnya 1000 orang kemudian yang 300 orang kembali ke madinah. Mereka segera menuju bukit Uhud. Sebanyak 50 orang ditugasi Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam untuk menjadi pemanah. Mereka harus menempati posisi di lereng bukit, tanpa boleh pergi, kecuali diperintahkan oleh Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam. Ketika sampai di Syaikhon  Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam berhenti. Dilihatnya di tempat itu ada sepasukan tentara yang identitasnya belum dikenal. Ketika ditanyakan, kemudian diperoleh keterangan, bahwa mereka itu orang-orang Yahudi sekutu Abdullah bin Ubay. Lalu kata Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam: ” Jangan minta pertolongan orang-orang musyrik dalam melawan orang musyrik, sebelum mereka masuk Islam.”

Kedua belah pihak sudah siap bertempur. Masing-masing sudah mengerahkan pasukannya. Perangpun lalu pecah. Di saat kaum muslimin mendekati titik kemenangan, sampai-sampai kaum muslimin saat itu mengejar musuh hingga mereka meletakkan senjata dimana saja. Akan tetapi kaum muslimin tidak pikir panjang mulai memperebutkan rampasan perang. Alangkah banyaknya jumlah rampasan perang itu! Hal ini membuat mereka lupa mengikuti terus jejak musuh, karena sudah mengharapkan kekayaan duniawi. Mereka ini ternyata dilihat oleh pasukan pemanah yang oleh Rosul Shalallohu ‘alaihi wasalam diminta jangan meninggalkan tempat di gunung itu, sekalipun mereka melihat kawan-kawannya diserang. Dengan tak dapat menahan air liur melihat rampasan perang itu, akhirnya mereka ikut-ikutan memperebutkan harta ghonimah, tidak menghiraukan pesan Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam dan melanggar perintah beliau yang telah di sampaikan  untuk tetap di atas gunung bagaimanapun keadaannya. Di saat kaum muslimin sibuk memperebutkan harta ghonimah. Pada waktu itulah Kholid bin Walid (sebelum masuk islam, red) sebagai komandan utama mengambil kesempatan ini dengan mengerahkan pasukannya ke tempat yang semula dikuasai oleh pasukan pemanah kaum muslimin tersebut. Tindakan ini tidak disadari oleh pihak Muslimin. Tiba-tiba Kholid bin Walid berseru sekuat-kuatnya, dan sekaligus pihak Quroisy pun mengerti, bahwa ia telah mampu membalikkan anak buahnya ke belakang tentara Muslimin. Mereka yang tadinya sudah terpukul mundur sekarang kembali lagi maju dan mendera pasukan kaum Muslimin dengan pukulan maut yang hebat sekali. Di sinilah giliran bencana itu berbalik. Setiap Muslim telah melemparkan kembali hasil renggutan yang sudah ada di tangan itu, dan kembali pula mereka mencabut pedang hendak bertempur lagi. Tetapi sayang, sayang sekali! Barisan sudah centang-perenang, persatuan sudah pecah-belah, pahlawan-pahlawan teladan dari kalangan Muslimin telah dihantam oleh pihak Quroisy. Mereka yang tadinya berjuang dengan perintah Alloh Aza wa jalla hendak mempertahankan iman, sekarang berjuang hendak menyelamatkan diri dari cengkraman maut, dari lembah kehinaan. Hingga akhirnya kaum muslimin mendapat kekalahan.” ( Di ringkas dari kitab Fathu bari: 7/431-435 dan Siroh Nabawiyah Oleh Ibnu Hisyam: 23-92 ).

IBROH DARI PERANG UHUD

Wahai saudaraku, setelah kita mengetahui secara singkat dari kisah perang uhud di atas, maka sungguh disana ada beberapa ibroh atau pelajaran yang sangat penting untuk kita ilmui, kita pelajari, dan kita cermati dengan baik, diantaranya:

1. Kewajiban ta’at kepada Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam

Di antara ibroh yang dapat kita petik dari kisah di atas adalah wajibnya taat kepada perintah Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam di manapun dan bagaimanapun keadaannya. Jika kita perhatikan dari kisah perang uhud di atas, maka akan jelas bagi kita, bahwa sebab kekalahan kaum muslimin pada peperangan ini adalah karena pasukan pemanah yang ada di gunung uhud tidak menghiraukan perintah  dan melanggar larangan Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam. Tatkala Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam memerintahkan kepada pasukan pemanah untuk tetap bertahan di gunung uhud bagaimanapun keadaannya, akan tetapi di saat kaum muslimin mendekati titik kemenangan, mereka tidak menghiraukan pesan  tersebut dan meyelisihi perintah beliau. Mereka meninggalkan tempat gunung itu untuk ikut-ikutan memperebutkan harta ghonimah.” (Lihat Fathu bari: 433/07).

Dari sinilah kita dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga dari kisah di atas bahwa malapetaka yang menimpa sebagian kaum muslimin pada peperangan itu adalah disebabkan karena mereka menyelisihi perintah Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam.

Padahal Alloh telah berfirman (artinya):

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ [٥٩:٧

Apa yang di berikan Rosul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang di larangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh sangat keras hukumannya.” (QS.Al-Hasyr [59]: 7).

2. Larangan meminta pertolongan kepada orang-orang musyrik.

Tatkala  Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam berangkat memimpin kaum Muslimin menuju uhud. Di Syaikhon Kaum Yahudi juga telah menyiapkan pasukan. Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam melarang pasukannya untuk meminta pertolongan kepada orang-orang musyrik (yahudi, red) untuk melawan orang-orang quroisy. Ini menandakan bahwa meminta pertolongan kepada orang musyrik adalah terlarang. Karena hal tersebut merupakan bentuk loyalitas (kecintaan) kepada mereka, sedangkan bersikap loyal (cinta) kepada mereka telah dilarang oleh Alloh Aza wa jalla. Sebagaimana dalam firman-Nya (artinya):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [٥:٥١]

” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasroni menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Alloh Aza wa Jalla tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dholim.” (QS. Al-Maidah [05]: 51).

3. Anjuran untuk bermusyawarah

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rosululloh Shalallohu ‘alaihi wasalam sebelum berangkat perang. Beliau Shalallohu ‘alaihi wasalam bermusyawarah terlebih dahulu dengan para sahabatnya untuk menentukan apakah menyerang dan menghadapi musuh dari dalam kota atau dari luar kota. Cara musyawarah ini sudah menjadi undang-undang dalam kehidupan beliau di dalam membahas suatu masalah. Beliau tidak mau bertindak sendiri, kecuali yang sudah diwahyukan oleh Alloh Aza wa jalla kepadanya

Alloh Alloh Aza wa jalla telah berfirman dalam al-Qur’an (artinya):

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ [٣:١٥٩]

“….Dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu[1]. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Aza wa Jalla menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Ali-Imron [03]: 159).

Di penghujung risalah ini. Marilah kita membaca kisah-kisah yang ada di dalam al-Qur’an dan as-sunnah atau buku-buku yang  di dalamnya terdapat kisah-kisah yang shohih (benar), dan berusaha untuk menggali manfaat dari kIsah tersebut, karena dengannyalah motivasi (dorongan) untuk beribadah akan terpompa kembali dan mengingat jejak yang mereka tempuh.

©CopyRight Buletin Al Furqon

Penulis : Ust.Abu Dzar Mukhlis


[1] . Maksudnya: urusan peperangan dan hal-hal duniawiyah lainnya, seperti urusan politik, ekonomi, kemasyarakatan dan lain-lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Tulisan Terpopuler

%d blogger menyukai ini: