SIAPA BILANG SUAP HARAM?


Istilah suap akhir-akhir ini mulai ngtren lagi di negeri kita. Akan tetapi yang kita maksud bukanlah memasukkan makanan ke dalam mulut seseorang. Yang  dimaksud dalam pembahasan ini adalah ‘uang sogok atau yang sering di istilahkan dengan uang pelicin.  Seorang wartawan bisa saja tidak memberitakan kasus yang menyangkut masyarakat banyak ketika ia tergoda dengan ‘iming-iming’ (suap) dari pihak yang bersangkutan dengan kasus tersebut.  Seorang penjahat bisa bebas dari jeratan hukum jika ia memberikan sekian juta pada seorang hakim. Itulah sebagian realita yang terjadi di negeri kita. Wahai saudaraku -semoga Alloh merahmati anda- lantas bagaimanakah pandangan islam dalam hal ini? Faktor apa sajakah yang menyebabkan orang berani untuk melakukan suap-menyuap? Kapankah suap-menyuap itu diperbolehkan? Bagaimanakah hukum orang-orang yang tertkait dengan kasus ini? Dalam bahasan kali ini Isnya Alloh anda bisa menemukan jawabannya secara jelas dan terperinci. Semoga bermanfaat.

Pengertian suap

Ibnu al Atsir mengatakan suap (risywah) berarti sesuatu yang bisa mengantarkan seseorang pada keinginannya dengan cara yang di buat-buat(tidak semestinya)(An Nihayah Fi Ghoribil Hadits kar.Ibnu al Atsir 2:546). Al Fayyumi mengatakan dalam Misbah al Munir 1:228) Suap adalah sesuatu yang diberikan seseorang pada seorang hakim atau selainnya supaya ia(hakim) memutuskan hukum baginya atau memenuhi apa yang ia inginkan. Dari beberapa pengertian tersebut kita bisa menarik kesimpulan bahwa Suap adalah  harta yang diperoleh karena terselesaikannya suatu kepentingan manusia (baik untuk memperoleh keuntungan maupun menghindari kemudharatan) yang semestinya harus diselesaikan tanpa imbalan.

Hal-hal yang mendorong orang melakukan suap-menyuap

Sebenarnya banyak sekali  hal-hal yang mendorong seseorang untuk melakukan suap-menyuap, akan tetapi disini akan kami sebutkan beberapa saja diantaranya:

1. Lemahnya Iman dan Taqwa seseorang. Karena keduanya merupakan kunci

utama bagi seseorang untuk mengendalikan hawa nafsunya. Oleh karena itu tidaklah seseorang itu berbuat maksiat kecuali ketika imannya sedang lemah,

sebagaimana sabda nabi:

لاَ يَزْنِى الزَّانِى حِينَ يَزْنِى وَهْوَ مُؤْمِنٌ ، وَلاَ يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهْوَ مُؤْمِنٌ

Artinya:”Tidaklah seorang itu tatkala berzina dalam keadaan beriman secara sempurna, dan tidaklah seorang itu minum khomer tatkala meminumnya dalam keadaan beriman secara smpurna….(HR.Bukhori: 2475)

2. Sifat tamak dan rakus terhadap kenikmatan dunia. Hal ini sangat berpengaruh sekali pada diri seseorang, karena dengan sifat ini seseorang bisa menghalalkan segala macam cara yang penting semua keinginannya bisa terpenuhi.

3. Gila terhadap jabatan dan kehormatan di masyarakat, sehingga ia rela mengorbankan apapun demi mendapatnya.

Hukum suap

Imam al Qurtubi dalam tafsirnya [6:119] mengatakan bahwa tidak ada perbedaan dikalangan para ulama akan keharaman risywah(suap). Bahkan banyak diantara mereka yang menukil ijma akan keharamannya, seperti yang dinukil Imam asy Syaukani dalam Nailul Author 4: 595, Imam ash Shon’ani dalam Subul as Salam :1192, Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman Alu Bassam dalam Taudhih al Ahkam 7:118, dll. Adapun dalil yang menjelaskan akan keharamannya banyak sekali, baik dari al Qur’an maupun as Sunnah. Diantaranya:

  1. Surat al Maidah[5]: 42

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ  لِلسُّحتِ فَإِنْ جَاءُوكَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ أَوْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ

Artinya: Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), Maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka, atau berpalinglah dari mereka.

Umar bin Khottob, Ibnu Mas’ud dan lainnya mengatakan yang dimaksud السحت adalah risywah atau suap menyuap. (Tafsir al Qurtubi 6: 119) Hal ini juga semakna dengan firman Alloh dalam surat al Baqoroh[2]: 188 yang menjelaskan haramnya memakan harta orang lain dengan cara dholim.

  1. Dari sunnah Rosululloh banyak sekali diantaranya:

عَنْ أبي هريرة قال لَعَنَ رُسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الرَاشِي والمُرْتَََشِي في الحُكْمِ

Artinya: “Rosululloh akan melaknat orang yang menyuap dan yang disuap dalam masalah hukum” (HR.Ahmad 2: 386, Tirmidzi: 1336, Ibnu Hibban: 1196 dan di shohihkan Al Albani dalam al Miskah: 3753)

3. Menyuap merupakan tindakan yang mendholimi(merugikan) orang lain, karena sebenarnya ia tidak berhak akan hal itu. Sedangkan Alloh dan Rosul-Nya dengan tegas telah melarang kita untuk berbuat dholim pada diri sendiri maupun orang lain.

Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman al Bassam mengatakan: “Risywah(suap) termasuk dosa besar karena Rosululloh melaknat orang yang menyuap dan yang mengambil suap sedangkan laknat tidaklah terjadi kecuali pada dosa-dosa besar”.(Taudhihu al Ahkam 7: 119

Siapa sajakah yang akan mendapatkan laknat terkait dengan suap?

Kalau kita cermati, ternyata hadis-hadis Rosululloh itu bukan hanya mengharamkan seseorang memakan harta hasil suap menyuap, akan tetapi beliau juga melarang hal-hal yang bisa menyebabkan terjadinya suap-menyuap. Maka yang diharamkan itu bukan hanya satu perbuatan saja akan tetapi tiga perbuatan sekaligus. Yaitu: pemberi suap, penerima suap serta orang yang menjadi penghubung antara keduanya. Hal ini sesuai denngan sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad yang berbunyi:

لَََََََعَنَ رُسُولُ اللهِ صلى الله عليه و سلم الرَاشِيْ وَالمُرْتَشِيْ وَالرَائِشِِ يَعْنِى الذِّيْ يَِمْشِى بينهِما

Artinya : Rosululloh melaknat orang yang menerima suap dan orang yang memberikan suap dan orang yang menjadi penghubung antara keduanya ” (HR.Ahmad: 22452)

Walaupun hadis ini secara sanad dinilai dhoif oleh para ulama hadis akan tetapi secara makna sesuai dengan larangan tolong menolong dalam perbuatan dosa  sebab tidak mungkin terjadi seseorang memakan harta hasil suap-menyuap kalau tidak ada orang yang menyuapnya. Maka orang yang melakukan suap-menyuap pun juga mendapat laknat. Hal ini dikarenakan dengan sebab perbuatan dan inisiatif dialah maka ada orang yang makan harta dari suap-menyuap. Dan biasanya dalam kasus suap menyuap seperti itu, ada pihak ketiga sebagai perantara yang bisa memuluskan proses terjadinya suap-menyuap. Sehingga ia juga berhak mendapatkan laknat dari Alloh.

Kapan suap-menyuap diperbolehkan?

Ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, sebagian  mengharamkan secara mutlak dan sebagian yang lain memberikan pengecualian. Akan tetapi yang rojih menurut kami -Allohu a’lam- adalah bolehnya melakukan suap menyuap dalam  rangka mengambil hak yang menjadi miliknya. Hak tersebut tidak akan diberikan kepadanya kecuali jika ia harus memberi sejumlah uang padanya. Atau untuk menolak perbuatan dholim yang akan mengancam dirinya dan ia tidak akan terhindar darinya kecuali ia harus memberikan sejumlah uang padanya. Maka dalam kasus seperti ini yang berdosa adalah yang mengambil suap tersebut sedangkan yang memberi tidak berdosa. Hal ini didasarkan pada apa yang diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih bahwasanya ia ditanya apakah risywah (suap) itu diharamkan pada segala sesuatu? Maka ia menjawab: tidak, risywah itu diharamkan jika engkau memberi sesuatu pada orang lain supaya engkau diberi sesuatu yang bukan hakmu atau supaya engkau bebas dari kewajibanmu.adapun jika engkau menyuap dalam rangka membela agamamu, nyawamu atau hartamu maka tidaklah haram. Dan pendapat inilah yang diambil oleh Abu Laits as Samarqondi, begitu juga Ibnu Mas’ud. (tafsir al Qurtubi 6: 120)

Penutup

Wahai saudaraku -yang semoga Alloh senantiasa menunjuki kita pada jalan-Nya yang lurus- kita hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Ingatlah akan kehidupan yang lebih kekal dan abadi. Jadikanlah dunia ini sebagai sawah ladangmu dalam beramal kebaikan demi mencapai kebahagiaan di kehidupan mendatang. Janganlah engkau terpedaya dengan keindahan serta manisnya dunia ini. Jangan biarkan anak-anakmu tumbuh dan berkembang dengan harta yang haram ini. Tinggalkanlah kebiasaan buruk ini(suap-menyuap). Segera bertobatlah pada Sang Ilahi, karena kematian akan menghampirimu sewaktu-waktu. Syukurilah apa yang telah Alloh berikan kepadamu serta tanamkanlah sifat qona’ah(menerima apa adanya) pada diri dan keluargamu. Bersabarlah dengan sedikitnya harta yang engkau miliki. Ingatlah bahwasanya ukuran kemuliaan sesorang itu bukan terletak pada banyaknya harta dan tingginya kedudukan. Akan tetapi orang yang paling mulia disisi Alloh adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian. Allohu a’lam bi ash showab!

Copyright : Buletin Alfurqon©

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Tulisan Terpopuler

%d blogger menyukai ini: