Menjadi Haji Mabrur


Haji merupakan salah satu rukun di antara rukun-rukun islam yang lima dan ia merupakan rukun yang terakhir menurut kesepakatan para ulama. Haji di wajibkan bagi setiap muslim yang mampu dikota madinah pada tahun ke-6 hijriyah menurut jumhur ulama[1]. Sedangkan menurut Ibnu Qoyyim haji diwajibkan pada tahun ke-9 atau ke-10 Hijriyah[2]. Ibadah yang satu ini mempunyai keutamaan yang sangat berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Apalagi jika hajinya termasuk kategori haji mabrur yang tidak ada balasannya kecuali surga sebagaimana yang diceritakan oleh sahabat yang mulia Abu Huroiroh yang termaktub dalam Shohihain.[3] Oleh karena itu banyak kaum muslimin yang mendambakannya dan bercita-cita untuk menggapai haji mabrur. Namun banyak orang menafsirkan dan menyakini bahwa haji mabrur adalah haji yang ditandai dengan kejadian-kejadian aneh dan luar biasa saat menjalani ibadah tersebut di tanah suci. Kejadian ini lalu direkam sebagai pengalaman ruhani, yang paling berkesan. Bahkan kadang ketika ia sering menangis dan terharu dalam berbagai kesempatan itu juga dianggapnya sebagai tanda dari haji mabrur. Benarkah anggapan tersebut? Saudaraku yang kucintai Insya Alloh pada pembahasan kali ini kita akan membahas seputar haji mabrur dengan harapan semoga kita bisa meraih dan menggapainya sehingga akan tercapai cita-cita yang kita dambakan. Semoga bermanfaat.

Pengertian haji mabrur

Haji secara bahasa berarti menyengaja, dan menurut syara’ adalah menyengaja ziarah ke baitulloh untuk beribadah kepada Alloh Ta’ala dengan menjalankan amalan tertentu yang pernah di contohkan oleh Rosululloh ‘alaihi sholatu wa salam.[4]

Al mabrur berasal dari kata al birru yang artinya sesuatu yang mencakup semua kebaikan. Sehingga jika dikatakan barrohu; ia berbuat baik kapadanya. Dan jika dikatakan barrollohu amalahu artinya Alloh Ta’ala berbuat baik pada amalnya apabila ia menerimanya.[5] Dan ini diperkuat oleh Imam Al Asfahani yang mengatakan haji mabrur adalah haji yang diterima.[6] Sedangkan Imam An Nawawi mengatakan yang lebih shohih dan masyhur haji mabrur adalah yang tidak tercampuri dengan perbuatan dosa.[7]

Kiat-kiat guna menggapai haji mabrur

Untuk meraih dan menggapai sebuah cita-cita itu tidaklah mudah, ia harus mengerjakan sesuatu yang menjadi syarat dan rukunnya selain itu ia juga harus menjauhi hal-hal yang bisa menghalanginya. Demikan juga haji mabrur maka seorang muslim yang bercita-cita bisa meraih predikat haji mabrur maka ia harus memenuhi beberapa persyaratan, di antaranya:

  1. Niat yang ikhlas karena Allah subhana wa ta’ala, bukan karena ingin dipuji orang dan berbangga-bangga dengan gelar haji. Seorang yang tidak ikhlas dalam beramal apapun termasuk haji, Allah akan menolak amal tersebut sekalipun di mata manusia ia nampak begitu agung. Sebagaimana firman Alloh subhana wa ta’ala yang artinya:

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (QS.Al Baiyyinah[98]: 5)

  1. Bersesuaian dan mencocoki sunnah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa salam sebagaimana perintah beliau kepada para sahabatnya.[8] Baik syarat-syaratnya, rukun-rukunnya serta kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan dan larangan yang harus ia jauhi.[9] Selain itu barangsiapa yang beramal tidak berdasarkan perintah dan contoh Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa salam maka amalannya tidak akan diterima. Hal ini berdasarkan sabda Nabi:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا ، فَهْوَ رَدٌّ

Artinya: “Barangsiapa yang beramal (ibadah) yang tidak ada perintah dariku maka amalanya akan tertolak”.(HR.Muslim: 4590)

  1. Berbekal dengan yang halal. Haji yang dibekali dengan harta haram (hasil korupsi, mencuri, menipu dll) pasti tidak diterima. Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa salam pernah berpesan kepada kita: “Sesunguhnya Allah baik dan tidak menerima kecuali yang baik”. Yang di akhir hadits ini Rasulullah menggambarkan seorang musafir, berbaju kusut dan berdebu serta menengadahkan tangannya seraya berdo’a dengan khusu’ akan tetapi pakaian, makanan serta minumannya haram, maka bagaimanakah Allah Ta’ala akan menerima doa tersebut? (HR. Muslim: 1015)
  2. Menjauhi ar rofatsu, al fusuq dan jidal. Atho’ bin Abi Robbah berkata ar rofatsu adalah jimak dan hal-hal yang mengarah kepadanya, bahkan Imam Thowus mengatakan perkataan seseorang pada istrinya “Apabila engakau telah halal (selesai haji) maka aku akan mengumpulimu” ini juga termasuk ar rofats. Sedangkan al fusuq adalah segala macam perbuatan maksiat sebagaimana penafsiran Ibnu Abbas, Mujahid, Atho’, Thowus, Ikrimah, Sa’id bin Jubair dll. Adapun al jidal ada dua penafsiran, pertama, perdebatan tentang waktu haji dan manasiknya seabagaimana perkataan Mujahid. Sedangkan yang kedua, berdebat dan bersengketa dalam semua hal, ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas. Dan kedua model perdebatan ini sama-sama terlarang.[10]

Mabrurkah haji saya?

Sebuah pertanyaan yang sederhana tapi sangat berat untuk menjawabnya dan membutuhkan penelitian yang lebih mendalam. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan barometer untuk mengetahui hajinya seseorang apakah tergolong mabrur atau tidak, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ulama dalam berbagai kitabnya. Diantaranya apa yang dijelaskan oleh Imam an Nawawi bahwa tanda mabrurnya haji  seseorang adalah keadaannya sekembali dari tanah suci semakin lebih baik bila dibandingkan sebelum berangkatnya kesana.[11] Bila sebelum berangkat sudah baik maka sekembalinya dari sana maka ia akan bertambah baik, dan jika sebelum berangkat kesana masih banyak berbuat maksiat maka disana ia harus bertaubat yang nashuha (dengan sebenarnya) menyesali semua perbuatannya dan berkeinginan untuk tidak mengulanginya dimasa yang akan datang sekembalinya dari tanah suci.[12] Dan keadaan ini berlangsung secara kontinyu (istiqomah) bukan hanya sebulan atau dua bulan selepas kembalinya dari tanah suci. Hal ini diperkuat dengan perintah Alloh untuk selalu berbuat baik pada kedua orang tua (QS.Al Isro’ [19]: 23) Orang-orang yang selalu mentaati Allah Ta’ala dan menjauhi segala yang dilarang disebut al abraar, kelak mereka dihari kiamat akan ditempatkan di surga. (QS.Al Infithor[82]: 13) Mudah-mudahan kita termasuk diantara mereka. Aamiin.

Suatu ketika Syaikh Utsaimin pernah ditanya, apakah ada tanda yang nampak bagi orang yang haji dan umrohnya diterima oleh Alloh? Lantas beliau menjelaskan bahwa memang terkadang ada tanda-tanda bagi orang yang diterima amal sholihnya diantaranya, lapangnya dada, senang dan bahagianya hati serta cahaya pada wajahnya. Para salaf ash sholih menjelaskan bahwa tanda diterimanya amal sholih adalah seseorang diberi taufiq oleh Alloh ta’ala untuk melaksanakan amal sholih yang lainnya sesudah itu, karena taufiq yang Alloh berikan padanya merupakan bukti bahwa amalannya yang pertama diterima dan Alloh menganugerahi amal sholih yang lainnya serta Ia ridho terhadapnya.[13]

Hikmah disyariatkan haji

Sebagai seorang yang beriman kita harus yakin bahwa setiap apa yang diperintahkan atau yang dilarang oleh Alloh dan Rosul-Nya pasti ada hikmah dibalik itu, hanya saja sebaian kita ada yang tahu hikmahnya dan sebagian yang lain ada yang tidak mengetahuinya. Di antara hikmah disyariatkan haji adalah:

  1. Membersihkan jiwa dari pengaruh perbuatan dosa sehingga berhak mendapat kemuliaan dari Alloh. (Lihat HR. Bukhori: 1521, Muslim: 3357)[14]
  2. Akan melahirkan saling ta’aruf (saling mengenal) antar sesama, tolong menolong dalam hal kebaikan, saling menasehati dalam hal kebenaran, meninggikan kalimat Alloh dan masih banyak yang lainnya.[15]

Kesimpulan

Haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Alloh ta’ala. Dan haji yang diterima adalah haji yang terpenuhi syarat, rukun, kewajiban serta meninggalkan segala larangannya sesuai dengan tuntunan Rosululloh. Di antara tanda-tandanya adalah jika orang yang berhaji itu kembali dalam keadaan pengamalan agamanya lebih baik daripada sebelum berangkat, yaitu dia kembali dalam keadaan bertaubat kepada Allah, istiqamah (konsisten) dalam menjalankan ketaatan-ketaatan kepada-Nya, dan terus-menerus dalam kondisi seperti itu. Dengan begitu, hajinya menjadi titik tolak baginya kepada kebaikan, dan selalu menjadi peringatan baginya untuk memeperbaiki jalan hidupnya. Kita memohon kepada Alloh suapaya memberikan taufiq dan hidayahnya kepada saudara-saudara kita yang akan menjalankan ibadah yang mulia ini untuk bisa menjalankannya sesuai dengan tuntunan Nabi-Nya, menjadikan hajinya mabrur, dosa-dosanya diampuni serta memberikan taufiq kepadanya supaya keadaannya lebih baik daripada sebelum berangkat ke tanah suci.

Copyriqht : Buletin Al Furqon


[1] Subul as Salam kar.Imam ash Shon’ani 4: 159

 

[2] Zaad al Ma’ad kar.Ibnu Qoyyim 2: 101

[3] Shohih Bukhori: 1773 dan Shohih Muslim: 1349

[4] Syarh il Mumthi’  7: 5

[5] Taudhihul Ahkam kar. Syaikh Abdulloh bin Abdurrohman Al Bassam 4: 5

[6] Mufrodat Ghorib al Qur’an 1: 41

[7] Syarah Shohih Muslim 5: 12

[8] Lihat HR.Muslim: 3137

[9] Masalah syarat, rukun, kewajiban haji serta larangan-larangannya bisa dilihat di kitab-kitab fiqh.

[10] Lihat tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir surat al Baqoroh: 197

[11] Syarh Muslim 5: 12

[12] Tabshir al Manasik bi Ahkam al Manasik kar.Syaik Abdul Muhsin bin Hamd

[13] Fatwa ulama balad al Harom kar.Dr.Kholid bin Abdurrohman hal: 949

[14] Minhaj al Muslim kar.Syaikh Abu Bakr bin Jabir al Jazairi hal: 265

[15] Al Majmu’ al Mufid al Mumtaz min kutub al Allamah Ibn Baz hal.110

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Tulisan Terpopuler

%d blogger menyukai ini: