Hak-Hak Istri terhadap Suami


HAK-HAK ISTRI MENURUT SYARIAT ISLAM

Wahai saudaraku -semoga Alloh merohmati kita semua- disamping kita (sebagai suami) memiliki hak yang besar namun disisi lain istri kita juga memiliki hak yang harus kita tunaikan sebagaimana firman Alloh yang artinya:

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [٢:٢٢٨]

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf”. (QS.al Baqoroh[2]: 228)[1]

Oleh karena itu sebagai kelanjutan sekaligus pelengkap dari apa yang sudah kita bahas pada pembahasan lalu maka pada kali ini kita akan membahas tentang hak istri yang harus ditunaikan oleh suami menurut syariat Islam yang mulia nan suci ini.

Seorang suami yang sholeh ia akan selalu berusaha menunaikan hak istrinya dengan baik dengan tanpa melihat apakah hak-haknya sudah dipenuhi oleh istrinya ataukah belum. Karena seorang suami yang sholeh ia akan tetap berambisi untuk menjaga kelanggengan dan kabahagian rumah tangganya. Sebagaimana ia terus berambisi menutup celah-celah yang bisa disusupi syetan yang akan membisikkan perkara perkara yang akan memporak-porandakan mahligai rumah tangganya.

Hak istri yang harus dipenuhi oleh suami

Wahai saudaraku para suami dan calon suami -semoga Alloh membimbing kita semua- dalam rangka saling menasehati dalam kebaikan dan kebenaran maka berikut ini kami paparkan beberapa hak istri yang harus dipenuhi oleh suami.

Wahai saudaraku inilah beberapa kewajibanmu yang harus anda tunaikan:

  1. Mempergaulinya dengan baik berdasarkan firman Alloh yang artinya:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ……….

“…dan pergaulilah mereka dengan baik” QS.An Nisa'[4]: 19,

hal ini bisa di lakukan dengan cara memberinya makan, pakaian, rumah, menasehatinya jika dikhawatirkan ia mendurhakaimu tanpa mencela, menghujat serta membodoh-bodohkannya, sebagaimana sabda Rosululloh tatkala ditanya tentang hak istri atas suaminya:

أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ

Artinya: “Hendaklah engkau beri makan ia jika engkau makan, engkau beri pakaian jika engkau berpakaian, janganlah engkau memukul wajahnya dan jangan engkau jelek-jelekkannya, serta janganlah engkau meninggalkannya melainkan di dalam rumah (yakin jangan memisahi tempat tidurnya melainkan di dalam rumah) (HR.Ibnu Majah: 1850 dishohihkan oleh Al Albani dalam Shohih Sunan Abi Dawud: 2142)

2. Bersabarlah atas gangguannya atau sesuatu yang tidak mengenakkan anda, kemudian maafkanlah kekhilafan dan kekurangannya. Karena mungkin kita benci terhadap satu akhlaknya akan tetapi kita ridho dan senang dengan akhlaknya yang lain[2]. Nasehatilah ia dengan baik jika ia mendurhakaimu atau melakukan perbuatan yang melanggar syar’i, namun jika ia tetap bersikukuh dalam pembangkangannya maka pisahilah ia dari ranjangnya dan jangan tergesa-gesa untuk memukulnya. Apabila tidakanmu tersebut tidak membuatnya jera maka pukulllah ia dengan pukulan yang tidak membuatnya cacat atau memecahkan tulangnya.[3]

3. Menjaga dan memeliharanya dari hal-hal yang bisa menodai kehormatan serta kemuliaannya. Mencegahnya dari tabarruj[4] (berdandan dan menampakkan aurotnya) dihadapan laki-laki yang bukan mahromnya. Jangan sampai anda ridho terhadap kerusakan akhlak dan agamanya karena suami adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akherat.[5]

4. Mengajarinya beberapa ilmu syar’i yang wajib diketahui oleh istrinya atau mengizinkannya untuk menghadiri majlis-majlis taklim. Sebab kebutuhannya terhadap ilmu-ilmu tersebut lebih besar dari pada kebutuhan mereka akan makan dan minumnya dan seorang suami diperintahkan menjaga dirinya dan keluarganya dari apa neraka[6]. Menjaga diri dan keluarga dari api neraka tidak akan tercapai tanpa adanya ilmu agama yang mamadai. Selain itu seorang istri yang agama dan akhlaknya baik ia akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak yang darinyalah anak-anak anda akan menimba ilmu dan memperoleh bimbingan yang benar. Namun sangat disayangkan banyak suami mulai melupakan hal ini sehingga ia hanya memenuhi kebutuhan fisiknya saja dan menyepelekan kebutuhannya yang lebih besar yakni ilmu yang bisa mendidiknya akhlak yang baik.[7]

5. Tidak menyebarkan rahasia atau kekurangan istrinya lebih-lebih dalam urusan ranjang oleh sebab itu Rosululloh memperingatkan dengan keras terhadap orang yang menyebarkan hubungan badan dengan istrinya[8], beliau mempermisalkan dengan syetan laki-laki yang bertemu dengan syetan perempuan diperjalanan kemudian menyetubuhinya sedangkan manusia melihatnya. HR.Ibnu Abi Syaibah 2: 449 di shohihkan Al Albani dalam Adab az Zifaf : 71)

6. Wahai saudaraku ajaklah istrimu untuk bermusyawarah dalam perkara tertentu lebih-lebih dalam hal yang menyangkut mereka dan anak-anaknya, hal ini sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rosululloh dengan istrinya Ummu Salamah ketika selesai menandatangani  perjanjian Hudaibiyah yang dengannya Alloh mendatangkan pada mereka kebaikan yang agung.[9]

7. Segera bergegaslah untuk pulang ke rumah sesudah sholat isya’, janganlah anda  bercengkrama kesana kemari dengan teman-teman anda dalam masalah yang tidak ada guna dan manfaatnya hingga larut malam. Karena hal ini bisa membuat gelisah dan tidak tenangnya istri anda di rumah. Ingatlah akan hak istri anda. Oleh sebab itu Rosululloh pernah memperingatkan Abdulloh bin Amr yang begadang dan menghindari istrinya sampai larut malam.(HR.Bukhori: 1634)

8.Berusahalah anda untuk selalu berbuat adil diantara istri-istri anda jika anda mempunyai lebih dari satu istri. Hal ini berdasarkan hadis rosululloh: artinya: “Barang siapa yang memiliki dua istri lantas ia lebih condong pada salah satunya  maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan salah satu lambungnya miring. (HR.Abu Dawud: 2133 di shohihkan Al Albani dalam Al Irwa’: 2017) Imam ash Shon’ani berkata: Hadis ini sebagai dalil atas wajibnya samarata dalam pembagian antara sesama istri dan haramnya condong pada salah satunya saja sebagaimana firman Alloh yang artinya: janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung (QS.an Nisa'[4]: 129) yang dimaksud dengan samarata dalam pembagian itu adalah dalam hal nafaqoh bukan dalam hal rasa cinta karena hal itu diluar kemampuan manusia walapun ia berusaha sekuat tenaganya.[10]

Waspadalah terhadap makar syaithon

Kecintaan suami terhadap istri atau kecintaan istri terhadap suaminya tidak boleh menghalalkan apa yang diharamkan oleh Alloh atau melakukan perbuatan dosa dan maksiat guna menmperoleh keridhoan masing-masing dari keduanya. Hendaklah seorang muslim benar-benar waspada terhadap hal ini karena banyak diantara manusia yang terseret oleh kecintaannya yang berlebihan terhadap istrinya sehingga ia berbuat durhaka kepada orang tua, memutuskan hubungan silaturrohmi dan berbuat kerusakan di bumi sehingga laknat Alloh akan menimpanya.

Diantara manusia karena cintanya kepada istrinya yang berlebihan ada yang rela mencari harta yang haram guna memenuhi kecintaannya dan memuaskan syahwatnya. Diantara mereka ada yang saling membunuh dengan tetangganya dengan sebab ulah istrinya. Mudah-mudahan Alloh menjaga keluarga kita dan menjadikan keluarga kita bahagia nan sejahtera baik di dunia lebih-lebih diakhirat kelak.[11]

Penutup

Wahai saudaraku para suami, inilah beberapa hak istrimu yang wajib engkau tunaikan. Maka hendaknya engkau bersungguh-sungguh dalam menunaikannya dan janganlah engkau berputus asa di dalamnya. Karena penunaian hak-haknya kepadanya merupakan sebab kebahagiaan dan kelanggengan bahtera rumah tanggamu. Selain itu ia juga merupakan sebab terhindarnya bahteramu dari berbagai permasalahan yang bisa mengurangi dan bahkan menghilangkan ketentraman, kebahagiaan, serta  kasih sayang antara anda dengannya. Janganlah anda menuntut hak anda sebagai suami terpenuhi semua namun disisi lain anda menelantarkan kewajiban anda tidak anda laksanakan. Tunaikanlah kewajiban anda niscaya engkau akan mendapatkan hakmu juga terpenuhi. Semoga Alloh menjadikan keluarga kita, keluarga yang sakinah mawaddah dan penuh dengan rohmah.


[1] HR.Ibnu Majah dan Tirmidzi dan dishohihkan oleh al Albani dalam shohih ibnu majah: 1501

[2] Riwayat Muslim: 1469

[3] QS.An Nisa'[4]: 34, hadis riwayat Abu Dawud: 1907 dishohihkan al Albani dalam Shohih Sunan Abi Dawud: 1905)

[4] QS.al Ahzab[33]: 33

[5] Lihat QS.an Nisa'[4]: 34, riwayat Bukhori: 893 dan Muslim: 1829

[6] Baca surat at Tahrim[66]: 6

[7] Nasihati li an Nisa’ kar. Ummu Abdillah binti Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’iy hal: 170

[8] Shohih Muslim dalam kitab an nikah no.123

[9] Lihat kisah selengkapnya dalam Shohih Bukhori no. 2731

[10] Subul as Salam kar. Imam ash Shon’ani hal. 873, lihat surat an Nisa ayat 129

[11] Bingkisan istimewa menuju keluarga sakinah kar. Ust.Yazid bin Abdul Qodir Jawas hal. 190

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Tulisan Terpopuler

%d blogger menyukai ini: