Kerjasama Dengan Cara Mudhorobah


Arti Mudorobah : Seseorang yang memberikan hartanya kepada seseorang untuk diperdagangkan.dan hasil dari keuntungannya dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan.[1] adapun jika terjadi kerugian pada perdagangan maka ditanggung oleh pemilik harta saja bukan pada seseorang yang diberi harta tsb.Sedangkan Pengarang kitab al Kanju  Mudorobah sebagai berikut yaitu Kerjasama ada harta pada satu sisi dan ada orang yang berkerja dalam satu sisi yang lain.

Dalil Disyariatkannya kerjasama Mudorobah ini adalah :

Kesepakatan Imam-Imam Mazhab  atas bolehnya akad mudorobah ini yang berdasarkan dari Al Qur’an,Sunnah,Ijma’ dan Qiyas,Jikalau tidak ada padanya Goror (penipuan) dan perdagangan yang tidak jelas kondisinya (Jahalah).

Dalil dari Al Qur’an Alloh Ta’ala berfirman :

{وآخرون يضربون في الأرض يبتغون من فضل الله } [المزمل:20/73]

Artinya : Dan sebagian yang lain berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Alloh.

Al Mudhorib adalah Orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian kerunia Allah. dan juga  Alloh Ta’ala berfirman :

{فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله } [الجمعة:10/62]

Artinya : Dan Apabilah telah ditunaikan sholat maka bertebaranlah dimuka bumi dan carilah sebagian dari karunia Alloh.

Dalil dari Sunnah :

روى ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال: «كان سيدنا العباس بن عبد المطلب إذا دفع المال مضاربة اشترط على صاحبه أن لا يسلك به بحراً، ولا ينزل به وادياً، ولايشتري به دابة ذات كبد رطبة، فإن فعل ذلك ضمن، فبلغ شرطه رسول الله صلّى الله عليه وسلم ، فأجازه»

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas (semoga Alloh meridhoinya) bahwasanya dia berkata: Abbas bin abdul mutholib jika memberikan harta kepada seseorang untuk diperdagangkan dia mensyaratkan agar jangan dibawah melalui laut dan juga lembah,dan jangan dibelikan hewan yang berpenyakit,jika semua hal tsb dilakukan maka harus membayar ganti rugi kemudian syarat tersebut diketahui oleh Rosululloh sholallohu ‘alaihissalam dan beliau membolehkanya.[2]

وروى ابن ماجه عن صهيب رضي الله عنه أن النبي صلّى الله عليه وسلم قال: «ثلاث فيهن البركة: البيع إلى أجل، والمقارضة، وخلط البر بالشعير للبيت لا للبيع»

Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Sahabat Suhaib semoga Alloh meridhoinya bahwasany Nabi sholallohu ‘alaihissalam bersabda : 3 perkara yang ada padanya keberkahan : Jual beli dgn tunda,Mudhorobah,Mencampur Gandum bagus dgn yang Jelek untuk konsumsi sendiri bukan untuk diperjual belikan.[3]

Adapun Ijma’ adalah sebagaimana diriwayatkan dari sebagian besar para sahabat bahwasanya mereka menjadikan harta anak yatim untuk diperdagangkan (sebagai harta Mudhorobah)[4] dan tidak ada satupun penginkaran dari kalangan sahabat maka jadilah perkara ini sebagai Ijma.dan al Imam ibnu Taimiyah menetapkan disyariatkannya Mudhorobah ini dgn Ijma yang bersesuaian dengan dalil.begitu juga imam Malik meriwatkan dikitabnya al Muwatho’ dan juga imam Syafi’i dikitab musnadnya dari Zaid bin Aslam bahwasanya Umar bin Khotob menetapkan mudhorobah kepada kedua anaknya yaitu Ubaidillah dan Abdulloh.

 

HIKMAH DISYARIATKANNYA MUDHOROBAH

Memungkinkan seseorang untuk mengembangkan hartanya dan mudhorobah adalah cara untuk mewujudkan saling tolong menolong diantara sesama,dan menggabungkan kepandaian dan kemahiran/pengalaman untuk menghasilkan suatu hasil yang baik.

 

RUKUN MUDHOROBAH ,LAFADZ DAN JENISNYA

Menurut Mazhab hanafi adalah Izab dan Qobul dengan lafadz yang menunjukan pada aqad tersebut.

Lafadz Izab seperti seseorang mengatakan ambilah harta ini dan perdagangkanlah hasil keuntungan dari rezeki yang diberikan Alloh adalah untuk kita berdua dengan pembagian setengah,seperempat,sepertiga dan seterusnya.

Lafadz Qobul seperti aku terima,aku setuju dan semisalnya.

Dan jika telah sempurna izab dan qobul ini maka berlakulah hukum mudhorobah ini.[5]

Menurut Jumhur ulama adalah ada 2 orang yang saling bersepakat (pemilik harta dan pekerjanya) serta ada sesuatu yang menjadi akadnya ( harta,amal,dan keuntungan) dan Izab Qobul.

Sedangkan menurut Syafiiyah ada 5 : Harta,Amal,Keuntungan,Izab Qobul serta 2 orang yang bersepakat.

 

JENIS MUDHOROBAH

 1.MUDOROBAH MUTLAK

2.MUDOROBAH MUQOYAD

Mudhorobah Mutlak adalah seseorang yang memberikan hartanya kepada orang lain seraya mengatakan ambilah hartaku ini kemudian perdagangkan,keuntungannya untuk kita berdua pembagiannya sesuai dengan kesepakatan.

Mudhorobah Muqoyad adalah semisal seseorang memberikan uangnya kepada seseorang untuk diperdagangkan didaerah tertentu atau pada jenis perdagangan tertentu,pada waktu tertentu atau tidak membeli kecuali dari orang yang sudah ditentukan.akan tetapi penentuan waktu dan hanya khusus orang tertentu terjadi perselisihan dikalangan ulama.menurut imam abu hanifah dan imam ahmad boleh sedangkan menurut imam malik dan syafi’i tidak boleh.

 

SIFAT AKAD MUDHOROBAH

Para ulama bersepakat jika akad mudhorobah belum dimulai maka kedua belah pihak masih boleh membatalkan akad yang ada (tidak lazim/wajib).hanya saja para ulama berbeda pendapat apabila akadnya sudah dimulai.menurut imam malik akad mudhorobah adalah akad yang lazim dan boleh diwarisi oleh anaknya dan jika tidak mempunyai anak didatangkan orang yang dapat dipercaya.sedangkan menurut abu hanifah,syafi’i dan imam ahmad akad mudhorobah bukanlah akad yang lazim dan tidak dapat diwarisi,kedua belah pihak boleh membatalkan perjanjianya.sebab perselisihan ini adalah menurut imam malik apabilah akad perjanjian sudah dimulai dan kedua belah pihak membatalkannya maka akan ada yang dirugikan dan oleh sebab ini juga maka akad ini boleh diwarisi.sedangkan alasan pendapat yang kedua (abu hanifah,syafi’i dan ahmad) mereka menyamakan akad itu sudah dimulai atau belum dimulai karena akad mudhorobah adalah menggunakan harta orang lain dengan seizin pemiliknya,oleh karena itu kedua belah pihak mempunyai hak untuk membatalkanya seperti dalam wakalah dan wadi’ah (perwakilan dan penitipan).[6] akan tetapi imam abu hanifah mensyaratkan bolehnya membatalkan akad ini harus sepengetahuan dari kedua belah pihak dan hartanya harus berupa uang dan selain uang maka tidak sah untuk membatalkan akadanya.sedangkan menurut hanabilah dan syafiiyah boleh dalam bentuk selain uang takkala akan membatalkan perjanjian akad jika kedua belah pihak saling bersepakat untuk menjualnya agar diketahui keuntunganya atau langsung membaginya.karena akad ini adalah hak mereka berdua.apabila pekerja meminta agar barang yang ada dijual dan pemilik harta tidak mau maka pekerja tersebut boleh memaksaknya untuk menjual karena haknya tidak ada pada keuntungan yang dihasilkan dan hanya dapat diketahui jika sudah dijual dan menjadi berbentuk uang.

 

APABILAH ORANG YANG BERSEPAKAT LEBIH DARI 2 ORANG.

 

Berkata ulama Malikiyah jika orang yang bersepakat banyak maka keuntungan dibagi untuk mereka bersama sesuai dengan besar kecilnya tanggung jawab dari pekerjaanya seperti yang berlaku pada perjanjian kerjasama yang bersifat badaniyah.maka jikalau pekerjaannya sama maka pembagianya juga sama begitu juga jikalau berbeda maka pembagianya juga berbeda.

Dialih bahasakan dari kitab Fiqih Islamiy wa Adilatuhu dengan sedikit perubahan dan tambahan

Oleh : Abu Ahmad al Atsary


[1]    Mugni Muhtaj 2/309,Takmilatul fathul Qodir 7/57 dan seterusnya,alMabsuth 22/18,Tabyinul Haqoiq lilzaila’i 5/52,Rod Muhtar ‘ala Daril Mukhtar 4/504,Majma Dhomanat Hal.303.

[2]    Diriwayatkan Thobaroni di al Ausath dari Ibnu Abbas berkata al Haitsami pada sanadnya ada Abu Jarud al’ama dia adalah seorang yang Matruk dan Pendusta lihat Majma’ Jawaid 4/161.akan tetapi disana ada hadits yang diriwayatkan dari sahabat Hakim bin Hizam semisal hadits diatas dan haditsnya Shohihul isnad sebagaimana disebutkan di Irwa 5/293,Daruqutni 2/36/242,Baihaqi 6/111.lihat Al wajiz fi Fiqhi sunatil aziz oleh Dr.abdul adzim badawi (pent).

[3]    Sanad haditsnya Dhoif lihat Subulus Salam 3/76 dan yang benar adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hazm dalam kitabnya Marotibul Ijma Semua bab-bab fiqh memiliki dasar pendalian dari alqur’an dan sunnah kecuali Mudhorobah,aku tidak mendapati pada keduanya,akan Ijma pada perkara ini adalah shohih yang kami pastikan bahwa perkara ini ada pada zaman nabi beliau mengetahuinya dan menetapkannya,kalaulah bukan karena ini maka tidaklah boleh.(lihat Talhis Habir hal.155)

[4]    Lihat Nasiburroyah 4/113

[5]    Bada’i 6/79 dan yang setelahnya.

[6]    Lihat bidayatul mujtahid 2/237,albada’i 6/109,almuhazab 1/388,mugni muhtaj 2/319,almugni 5/58

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: